saudari ayu hanyalah satu dari sekian juta wanita indonesia, saya rasa tidak ada yang terwakili dari pernyataan saudari ayu. demikian juga pdip. jikalau memang saudari ayu itu ada, apa iya itu cerminan wanita banteng? saya rasa tidak. saya heran, wanita yang menangis karena dilecehkan harkatnya koq dibilang "manja" orang yang membela hak asasinya untuk berpakaian rapi koq dibilang "cengeng" memang perjuangan butuh pengorbanan. tapi melecehkan wanita, bukan suatu pengorbanan, tapi suatu pelanggaran, pelanggaran terhadap HAK ASASI MANUSIA. saudari ayu (juga saudari ayu saudari ayu yang lain) tidak perlu malu kalau ada wanita yang menangis karena harkatnya dilecehkan. saya justru malu kalau anda bangga dan mau untuk "dikorbankan" daripada anda dilecehkan dan dikorbankan, mendingan di rumah saja, seperti anda sendiri bilang. apakah kalau sudah berani membuka kaos itu menunjukkan anda sudah ditempa oleh perjuangan? tahukah anda arti perjuangan itu sendiri? Pak Karno sendiri bilang, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah kita !!" sejarah kita penuh dengan pejuang wanita yang tegar, tanpa harus mengorbankan harkatnya sbg wanita. tanpa harus membuka bajunya untuk berjuang, tanpa harus bentrok dengan saudara sendiri. waspadalah, masih banyak saudari-saudari ayu yang lain, dimana saja. inilah musuh perjuangan yang sebenarnya. relakah kita jika wanita-wanita tiang negara indonesia seperti ayu ini? =========== REPLY PARTITION =========== On 04/06/99, at 12:18 PM, Eko Nur Prihadi wrote: >Saya cuman prihatin saja kalau benar yang namanya Ayu itu wanita, >(menurut >saya) dimana seharusnya untuk mencapai tujuan golongan itu me-referensi >pada >nilai-nilai moral yang lebih global. >Mungkin cara politik Machiavelli sudah mulai merasuk pada pemikiran >kita, >dimana segala cara digunakan untuk mencapai tujuannya. > >Dadang Darmawan wrote: >----- del separator ----------
