LELAKON

  Judul : Lelakon
Penulis : Lan Fang
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Sept 2007
Tebal : 269 hal
Harga :

  Lelakon adalah karya ke delapan dari penulis produktif asal Surabaya – Lan 
Fang. Dari kedelapan karya-karyanya tersebut, saya sudah membaca 5 karyanya : 
Kembang Gunung Purei, 2005), Laki-Laki yang salah (2006), Perempuan Kembang 
Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). Dari kelima karya 
yang sudah saya baca tersebut, menurut saya, Lelakon-lah yang paling sulit saya 
cerna. Kisahnya sendiri masih bisa saya nikmati hingga lembar terakhir, namun 
yang sulit adalah menangkap makna dari apa yang ingin disampaikan Lan Fang 
dalam novel terbarunya ini. Sebuah ulasan yang dimuat di buku ini yang ditulis 
Audifax yang berjudul “Tentang Lelakon” tak juga membuat saya bisa memahaminya, 
malahan bahasan secara psikologis yang diurai oleh Audifax membuat saya semakin 
bingung.

  Untunglah resensi buku ini yang dimuat di Jawa Pos yang ditulis oleh psikolog 
asal Surabaya, Maria Dian membuat saya terbantu dalam memahami makna dari novel 
ini. Resensi yang ditulis dari sudut pandang resensor sebagai seorang psikolog 
ini mengungkapkan bahwa lelakon adalah novel yang menceritakan pencarian jati 
diri para tokoh-tokohnya. Sebuah kisah yang menceritakan secara gamblang 
perasaan (emosional) ''jati diri'' ketika diri yang sesungguhnya harus 
berhadapan dengan realitas yang pahit-kejam-bengis-tiada ampun. Sebuah kisah 
yang apa adanya membuka-mengeksplorasi-mendudah isi hati yang terdalam, yang 
paling benar, yang paling jujur: hati nurani.

  Novel ini diawali dengan kisah tokoh Mon, seorang wanita mantan penjaga meja 
kasino kini hidup terjerat oleh hutang. Mon kelak berkenalan dengan Buang. 
Awalnya Buang diajaknya bermain taruhan dengan kartu-kartu hingga mereka hidup 
bersama. Lambat laun Mon bosan bermain kartu dengan Buang namun Buang 
memaksanya untuk terus bermain. Mon menjadi muak dengan Buang hingga akhirnya 
mereka bertengkar dengan hebat. Mon harus kehilangan tiga buah ujung2 jarinya 
yang mrotol karena digigit oleh Buang. Buang sendiri harus kehilangan lidahnya 
yang ditarik putus oleh Mon, selain itu dua buah bola matanya juga 
menggelinding ke lantai karena dicongkel oleh Mon.

  Gambaran pertengkaran antara Mon dan Buang benar-benar mengerikan, dan 
tampaknya sengaja dibuat dengan sedikit berlebihan oleh Lan Fang. Dari sini 
saya baru sadar kalau novel ini bukan novel yang realis melainkan semi 
surealis. Hal ini semakin yakin setelah masuk kedalam bab Bola Kristal yang 
mengisahkan seorang wanita kaya bernama Bulan yang bosan dengan hidupnya dan 
bertukar tempat dengan Fantasi, wanita yang terperangkap dalam bola kristal 
milik Bulan.

  Lalu ada lagi tokoh Marbuat, lelaki yang memiliki istri yang bernama Ratu 
Demit yang seusai dengan namanya adalah istri yang mengerikan, berwajah 
genderuwo dengan rambut kusut masai, tak pernah mengurus suaminya dan selalu 
menguasai Marbuat sehingga Marbuat menjadi lelaki yang takluk dibawah ketiak 
istrinya.
  Lalu ada tokoh Tongki, lelaki kaya yang memperkaya dirinya dengan menipu 
orang-orang disekitarnya.

Kelak tokoh-tokoh itu akan bertemu dan merangkai sebuah kisah dengan lakonnya 
masing-masing. Fantasi akan bertemu dengan Marbuat, dan Tongki akan bertemu 
dengan Mon.
Konflik demi konflik akan bergulir silih berganti, kemarahan tokoh-tokohnya 
terhadap pasangan-pasangannya dan kehidupannya terungkap dengan emosional dan 
meledak-ledak. Nyaris tak ada kebahagiaan dalam novel ini kecuali kepedihan 
hidup akibat kemiskinan, konflik antar pasangan, dll. Ada yang berambisi 
menjadi kaya, , ada yang bosan hidup dalam sebuah kehidupan yang tertata rapi, 
lalu ada pula yang puas puas menjadi parasit (pencuri/penipu) hidupnya.

  Seperti yang sering terdapat dalam karya-karya Lan Fang, tokoh lelaki dalam 
karya-karyanya adalah lelaki brengsek dan pecundang. Tokoh Angin Puyuh adalah 
tipe lelaki yang maunya dilayani dan kerjanya hanya mononton TV, Tongki, 
laki-laki penipu yang bersembunyi di ketiak istrinya, Marbuat laki-laki yang 
tak berdaya melawan kebuasan dan ketidakpedulian istirnya, Ratu Demit. 
Pengetahuan Lan Fang terhadap kisah-kisah wayang seperti yang selalu ia 
selipkan di tiap karya-karyanya kini mendapat porsi yang cukup banyak. Kali ini 
Lan Fang memadukannya dengan imajinasi liarnya dan kemarahannya pada laki-laki. 
Dalam novel ini tokoh-tokoh perkasa dalam dunia wayang seperti Yudistira,, 
Bisma, Arjuna dipermalukan kehidupan seksnya dengan mengungkap bawa Yudistira 
ternyata impoten. Bima menderita ejakulasi dini, Arjuna menderita penyakit raja 
singa, sedangkan Nakula dan Sadewa adalah pasangan cinta sesama/gay. Entah apa 
yang ada dalam benak Lan Fang. Lan Fang seakan memendam kemarahan
 yang meledak-ledak terhadap lelaki (benarkah demikan Lan Fang ?)

  Selain mengungkap konflik antar tokoh-tokohnya, ada satu bagian kisah yang 
menurut saya paling menarik dan memberi pelajaran berharga bagi pembacanya, 
yaitu kisah ketika tokoh Mon berguru kepada Tongki, seorang penipu yang menjadi 
parasit bagi orang lain dan memperkaya dirinya dengan cara meminta-minta tanpa 
malu-malu. Setelah berguru pada Tongki, Mon berniat mempraktekkan ilmu agar 
menjadi kaya yang telah diperolehnya Namun alih-alih sukses menerapkan ilmu 
Tongki, Mon menemui sejumlah pelajaran berharga bahwa cara-cara yang dilakukan 
Tonki ternyata tidaklah sesuai dengan hati nuraninya.

  Tongki mengajarkan bahwa salah satu cara menjadi karya adalah dengan bersikap 
diam dan membiarkan orang lain yang membayar makan dan minumnya. Mon mencobanya 
;
Setiap kali bila berkumpul dengan banyak orang, ia diam saja, tidak minum, 
tidak makan, juga tidak mengeluarkan uang. Maka orang lain akan membelikannya 
minuman dan menawari makan. Ketika semua selesai makan, dilihatnya orang-orang 
berebut mengeluarkan uang untuk membayar makanan dan minuman. Mereka saling 
mendahului untuk membayar satu sama lain. Cuma ia yang berdiam diri. Setelah 
usai, ia melihat orang-orang itu bersalaman dengan enyum lebar. Mereka membuat 
jalinan persahabatan dengan ikhlas….

  Maka di lain waktu ia juga bergantian membayar makanan dan minuman. Ternyata 
kegembiraan juga mengalir di hatinya ketika ia bisa ikut bercerta tertawa 
sambil menikmati kudapan bersama-sama. Kehangatan itu ada ketika bisa saling 
berbagi. (hal 179, 180)
  Atau ketika Mon hendak menerapkan ajaran dari Tongki yang menyatakan bahwa 
jika hendak kaya maka ia harus belajar meminta, ternyata lidah dan mulutnya 
menyatakan bahwa “Kenapa harus meminta bila bisa memberi? Bukankah lebih 
terhormat memberi daripada meminta? Dan ketika ia memberi, matanya melihat 
bahwa orang-orang tersenyum kepadanya. Orang-orang yang menerima pemberian 
dengan mata sumringah dan mata berbinar. Selain itu ternyata dengan memberi ia 
tidak menjadi kekurangan malah manjadi kelimpahan. (hal 180-181)

  Demikian salah satu hal menarik yang terdapat dalam novel ini. Terlepas dari 
kegagalan saya menangkap makna dari novel ini secara kekeseluruhan, saya rasa 
Lan Fang tampak semakin matang dalam merangkai kalimat menjadi sebuah kisah 
yang menarik. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan lancar, enak dibaca dan kerap 
dihiasi kalimat-kalimat yang puitis dengan metafora yang mengagetkan. Selain 
itu Lan Fang tak jarang juga menggunakan kalimat-kalimat yang meledak-ledak 
terlebih ketika mengungkapkan kemarahan dari tokoh-tokohnya hingga membuat 
emosi pembacanya naik turun bak menaiki sebuah roller coaster.

  Hanya saja saya koq jadi mulai jenuh dengan tema kepedihan hidup karena 
kemiskinan dan kemarahan Lan Fang pada lelaki yang selalu terungkap dalam 
karya-karyanya belakangan ini. Seorang kawan yang juga kerap membaca 
karya-karya Lan Fang mengeluhkan pada saya bahwa ia ‘capek’ membaca karya-karya 
Lan Fang yang sarat dengan kemarahan. Saya khawatir Lan Fang akan terlena 
berkarya dalam tema-tema serupa. Bukan berarti tidak menarik, namun saya 
berharap di karya-karya berikutnya ada keragaman tema yang diangkat dengan 
tetap mempertahankan gaya dan kekhasan kalimat-kalimat Lan Fang yang selalu 
menarik dalam berkisah.

Sumber : Hernadi Tanzil

################ SPONSOR ##################
Milis ini disponsori juga oleh Penerbit Boki Cipta Media -Penerbit buku best 
seller berjudul “Janji & Komitmen SBY-JK Ternyata Hanya Angin?” oleh Rudy 
S.Pontoh. Lihat video dan bukunya di: http://janjisbyjk.blogspot.com/
Download ebook reviewnya di: http://www.driveway.com/c4u4b1u2l3

PEMBERI TESTIMONI: Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A (Aktivis), Usman Hamid 
(Koordinator Kontras), Ratna Sarumpaet (Aktivis dan Seniman), Sys NS (Ketua 
Umum DPP Partai NKRI - Negara Kesatuan Republik Indonesia), Prof. Dr. Amran 
Razak, SE, MSc (Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin Makassar), Vera T. 
Tobing, SH (Advokat pada Kantor Pengacara Vera Tobing & Patners Jakarta), Dr. 
Taruna Ikrar, M.Pharm., Ph.D (Founder CFIS, Jepang), Ahmad Ushtuchri, SE 
(Pimpinan Pondok Pesantren di Bekasi), Prof. Dr. Maizar Rahman (Gubernur OPEC), 
Mohammad Aqil Ali, SH (Advokat pada HWS & Partners, Wisma Kemang, Jakarta 
Selatan), Andi Alfian Malarangeng (Juru Bicara Presiden RI), M. Farhat Abbas, 
SH (Advokat pada Kantor Pengacara Farhat Abbas & Rekan), Ratih Sanggarwati 
(Artis dan Pengusaha), Josephine Mathilda (Aktivis Persaudaraan Poso), Wimar 
Witoelar (Tokoh Terkenal), Muhammad Ikbal, SH (General Manager PT BBS), Mulyani 
Hasan (Penulis dan Wartawan Bandung), M.Dahlan Abubakar (Staf Pengajar Fakultas 
Sastra Unhas Makassar), Dedeng Z (Staf Pengajar Fak. Hukum UNSRI), Dr. Anwar 
Wardy W, Sp.S, DFM (Badan Narkotika Nasional), Abd. Farid, SH (Jaksa pada 
Kejaksaan Negeri Cikarang), Zikroen Habibie (Aktivis Forum Poso Bersatu), 
Ardian Arda (Sekretaris Umum DPD I HMPII), Sopian (LG Electronics Indonesia), 
Wahyu Kuncoro, SH (Konsultan Hukum di Tangerang), Lambertus L. Hurek (Redaksi 
Berita di Radar Surabaya), dll.
################ SPONSOR ##################

Kirim email ke