Walhi Temukan pencemaran di Sungai Itam Lakitan Lubuk Linggau- Lain Pemkab, lain Walhi. Kalau Pemkab Mura lewat bagian Pedal (pengendali dampak lingkungan)menyatakan tak ada pencemaran di Sunagi Itam, tetapi walhi sumsel benrpendapat disinyalir ada pencemaran di sungai itu. Pencemaran dimaksud adalah pencemaran oleh pembuangan CPO Lonsum Sei Lakitan Estate di wialayah kecamatan Muara Lakitan Mura " diduga penceamran bermuara dari sungai cupu dan sungai lagan. Keduananya bermuara ke sungai itam, " kata Kordianator divisi polusi industri, wahana lingkungan hidup (Walhi) Sumsel, syamsul asinar, kemarin. Berdasarkan penelitian sayamsul dan rekan-rekannya ke sungai itu, warna air sungai ditemukan berubah, juga bau menjadi pesing. Menurut syamsul, ia dan rekan-rekannya juga mewawancarai beberapa warga yang berdiam dirompok-rompok (perkampungan kecail). Diantaranya Jardin yang sebelumnya sudah melapor ke Pemkab, Jauhari dan Achmad. " Menurut warga, awalnya air berubah seperti teh tapi kini malah seperti kopi." Seperti diketahui dugaan pencemaran ini pertama kali mencuat karena warga bernama jardin melapor ke Pemkab soal adanya pencemaran air sungai Itam, dan banyaknya pencemaran air sungai Itam dan banyaknya iakn mati disana. Rabu (4/7) Tim Pedal Mura, yang di pimpin Ir Alex Axhari turun ke lapangan. Mereka meninjau langsung yakni Kabag Pedal Ir Alex Azhari, Kasubag Pedal Helmi Hamim BA staf Pedal P Sujadmiko Ssi dan Yudi E ST kemudian staf Dinas Peternakan dan Perikanan MURA Aripin. Dari pihak PT Lonsum, sei Lakitan etate yakni divisi bagian lingkungan PT Lonsum dari Palembang, Kepala Pabrik CPO PT Lonsum Sei Lakitan Estate Ir Firdaus dan emapat orang stafnya. Hasilnya menurut Alex beberapa hari lalu, cerita menjelaskan air di Sungai Itam berubah warna itu tidak ada. Yang ada yakni kondisi air disungai berwarna hitam kebiru-biruan. Kemudian bau, juga tidak ditemukan. Bahkan mereka berhasil mengambil sempel air di enam titik. Saat ini sampel itu lagi diperiksa di Laboratorium Bapedal Sumsel. Mengapa pendapat Walhi bisa berbeda dengan Pedal Pemkab? Yang jelas berdasarkan keterangan IR Alex beberapa hari lalu, pihaknya tidak menemukan pencemaran itu. Bahkan di sana ditemukan alat penangkap ikan yang menandakan kalau warga masih mencari ikan. Tapi versi walhi, pencemaran, pencemaran itu diduga memang ada karena airnya berubah warna dan berbau. Kemudian berdasarkan keterangan warga, kata Syamsul, mereka sudah tak bisa mencari ikan. Soalnya ikannya tak ada lagi. "dan itu memang benar setelah terlihat ke rompok-rompok para pencari ikan itu" Menurut Syamsul, disekitar sungai Itam itu ada sekitar 30 rompok atau orang yang berkelompok membuat perkampungan kecil. Kemudian di hilir sungai sekitar 6 km terdapat desa Lubuk Pandan, kecamatan Muara lakitan. Nah, untuk saat ini penghuni rompok-rompok di sekitar Sungai Itam tak bisa lagi memanfatkan air itu untuk konsumsi rumah tangga. Mereka terpaksa membuat sumur. Menurut Syamsul, memang ada pipa yang berdiameter sekitar 30 cm- bukan 10 cm seperti telah diberitakan, pipa itu berasal dari Pabrik CPO itu. Nah pipa ini ujungnya terdapat paret atau kanal "Kanal itulah yang bermuara ke sungai Lagan (anak sungai itam). Dari sungai lagan inilah air itu mengalir ke sungai itam" Kemudian untuk sungai Cupu, memang benar-benar tidak ada pipa penyalur. Tapi lanjut Syamsul air limbah itu mengalir secara langsung dari Sungai Cupu ke sungai Itam. "Ini saya lihat langsung. Kita juga mengambil sampel dari Sungai lagan dan sungai Itam. Kita coba meneliti air ini di laborotarium." Tanda-tanda lain dijelaskan, Syamsul terdapat perbedaan di tepi Sungai Itam. Tepatnya pertemuan muara sungai Lagan dan Cupu. Disana terlihat jelas ada endapan sungai (sendimen) dari air yang mengalir yakni seprti lumpur berwarna hitam. "sedangkan tepi sungai Itam itu berwarna kuning agak kemerahan." Kemudian Syamsul juga berhasil mengorek keterangan dari Jardin bahwa pihak Lonsum mencoba negosiasi. Maksudnya Jardin dan Warga sekitar pernah ditawari ganti rugi Rp 150.000 per bulan oleh pihak Lonsum. "ini dapat saya dengar langsung dari Jardin, warga sana. Dan katanya selama tahun 2001 ini, pihak Lonsum tak mungkin menyetop aliran limbah itu. Nah ini menunjukan bahwa aktivitas pengaliran limbah ke Sungai Itam itu memang ada." Kapan aktivitas itu? Menurut Syamsul yang berhasil mengambil keterangan dari warga di rompok-rompok sekita sungai itu bahwa aktivitas aliran limbah itu pada malah hari " Jika malam hari air leimbah itu meluap. Sedngkan kondisi Sungai Itam saat ini surut, karena musim kemarau." (23) Sumatera Ekspres Jum'at 13 Juli 2001 halaman 20 Indok --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id
