Daftar berita terlampir:
* Danau Toba dan Klaim Kerugian PT Inalum
* Analisis Kontroversi Sudetan Citandui 
* Tiga DAS Besar di Lampung Dicemari Limbah
* Sungai-sungai Mulai Kering, Sebarkan Bau Busuk
* Sungai Kahanyan Tercemar Merkuri
* Protes Walhi soal Citanduy, Disesalkan BPKSA Cilacap
* Sungai di Kalimantan Selatan Tercemar Air Raksa


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Danau Toba dan Klaim Kerugian PT Inalum
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4956
SELAMA hampir 20 tahun beroperasi, PT Inalum mengklaim terus merugi. Menurut Kepala 
Perwakilan Otorita Asahan Medan, Ir RSM Tambunan, perusahaan patungan Pemerintah 
Indonesia dan sejumlah pengusaha swasta Jepang itu sebenarnya bisa saja meraih untung. 
Tetapi, hal itu tidak dilakukan, karena akibatnya sangat buruk. Yaitu, Danau Toba, 
danau terbesar di Indonesia itu, bisa kering.Sejak PT Inalum-pabrik peleburan 
aluminium itu beroperasi 1982, kata Tambunan dalam percakapan dengan Kompas, pihak 
Otorita Asahan yang mewakili Pemerintah Indonesia, sangat ketat mengawasi pemakaian 
air danau. Misalnya, untuk memutar turbin di dua PLTA (pembangkit listrik tenaga air), 
masing-masing berlokasi di Tangga dan Sigura-gura, tidak boleh lebih dari 80 meter 
kubik/ detik. 
(Kompas, 2002-09-10)



Analisis Kontroversi Sudetan Citandui 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4930
KONTROVERSI sudetan Sungai Citandui sampai sekarang masih berlangsung. Sodetan yang 
direncanakan oleh pemerintah dengan dana dari Asian Development Bank ini nampaknya 
tidak diterima oleh sebagian besar perwakilan nelayan di Pangandaran dan Cilacap.

Namun, sebenarnya kedua belah pihak sepakat bahwa penyelamatan Segara Anakan dari 
proses pendangkalan harus segera diupayakan secara serius. Menurut pemerintah, tujuan 
sudetan memang untuk mengatasi pendangkalan di Segara Anakan. Cuma cara penyelesaian 
itu masih belum disepakati bersama.
(Kompas, 2002-09-08)



Tiga DAS Besar di Lampung Dicemari Limbah
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4911
Sepanjang daerah aliran sungai (DAS) besar di Lampung meliputi Sungai Tulangbawang, 
Seputih, dan Pegadungan menjadi saluran pembuangan limbah cair ratusan industri di 
Lampung.

Akibatnya, aliran sungai yang menjadi tempat hidup biota dan ikan-ikan tersebut banyak 
yang mati. Bahkan para nelayan pun makin menderita karena tangkapan ikan sungai makin 
berkurang.

Kepala Bapedalda Provinsi Lampung Syamsudin Rachmat mengungkapkan hal tersebut pada 
Media di kantornya, Kamis.
(Media Indonesia, 2002-09-07)



Sungai-sungai Mulai Kering, Sebarkan Bau Busuk
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4932
Datangnya musim kemarau menyebabkan beberapa sungai di Jakarta mulai dangkal dan 
airnya tidak lagi berwarna coklat keruh, tetapi berwarna kehitaman seperti air 
comberan disertai bau busuk sangat menyengat. Parahnya, air sungai sangat lambat 
mengalir karena terhalang tumpukan sampah dan lumpur di bagian tengah.

Di Kali Krukut yang melintasi kawasan Bendungan Hilir dan Karet Tengsin, Jakarta 
Pusat, seperti terlihat hari Jumat (6/9) misalnya, tumpukan lumpur bercampur sampah 
membentuk semacam delta di bagian tengah sungai sehingga air sungai lambat mengalir. 
Hal yang sama terlihat pula di Kali Angke di sekitar Jalan Tubagus Angke, Kali Grogol 
di sekitar Grogol, serta Kali Sekretaris di sekitar Jalan Daan Mogot, yang airnya 
menyusut, berwarna kehitaman, dipenuhi sampah, dan mengeluarkan bau busuk yang sangat 
menyengat.
(Kompas, 2002-09-07)



Sungai Kahanyan Tercemar Merkuri
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4937
Akibat maraknya kegiatan penambangan emas secara tradisional di sepanjang aliran 
Sungai Kahanyan, Kalimantan Tengah, sungai itu tercemar bahan kimia air raksa atau 
merkuri (Hg) yang digunakan untuk pemurnian emas. Akumulasi logam Hg juga ditemukan 
pada ikan Baung (Macrones nemurus) yang banyak ditemukan di sungai itu.
(Kompas, 2002-09-07)



Protes Walhi soal Citanduy, Disesalkan BPKSA Cilacap
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4922
Polemik rencana penyodetan Sungai Citanduy yang membelah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) 
dan Jawa Barat (Jabar) terus bergulir. Setelah nelayan dua kabupaten, yaitu Cilacap 
(Jateng) dan Ciamis (Jabar) memprotes rencana tersebut, kini giliran Wahana Lingkungan 
Hidup (Walhi) mempermasalahkan.

Walhi menganggap penyudetan sungai Citanduy yang akan membuang lumpur ke laut Samudra 
Hindia itu berdampak pada pencemaran Objek Wisata Pengandaran. Pencemaran itu akan 
mengurangi nilai keindahan Pantai Pengandaran.
(Media Indonesia, 2002-09-06)



Sungai di Kalimantan Selatan Tercemar Air Raksa
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4945
Sebagian besar sungai di Kalimantan Selatan (Kalsel), baik yang besar maupun yang 
kecil, terutama di tiga kabupaten/ kota, yakni Tanah Laut, Kota Baru, dan Banjar kini 
tercemar air raksa. Di tiga daerah itu tersebar ratusan penambang emas, baik oleh 
perorangan maupun perusahaan, yang diduga ilegal, menggunakan air raksa dan 
membilasnya di sungai-sungai.

Kota Banjarmasin, Sungai Martapura, dan Sungai Barito juga tak luput dari pencemaran 
air raksa-disebut juga merkuri atau Hg-akibat penambangan emas di hulu Sungai Kahayan, 
Kabupatan Kapuas (Kalteng).
(Kompas, 2002-09-05)



_______________________________________________
Sungai mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/sungai

Kirim email ke