Golput: Benarkah Tak Terorganisasi?
Sinar Harapan, Rabu, 28 Januari 2009

Redaksi Yth, 

Kendati golongan putih (golput) di Tanah Air sudah sering muncul dari pemilu ke 
pemilu, namun pada Pemilu 2009, golput tampaknya cukup mencemaskan. Kecemasan 
itu bukannya tanpa alasan. Pada Pemilu 2004,0 angka golput tercatat fantastis, 
yakni 34.509.246 atau lebih tinggi dari jumlah suara yang diperoleh Partai 
Golkar, pemenang Pemilu 2004, yaitu 24.480.757.

Banyak upaya sudah dilakukan untuk menekan angka golput pada pemilu tahun ini. 
Mulai dari statement para petinggi partai dan aparat pemerintah, hingga 
perubahan aturan perundang-undangan terkait pelaksanaan pemilu. Beberapa di 
antaranya yang sempat saya catat, antara lain Megawati menyatakan orang golput 
tidak boleh jadi warga negara Indonesia, Ketua KPU Abdul Hafiz mengatakan bahwa 
golput tidak pernah melahirkan pemimpin yang baik, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid 
mengatakan, golput akan menjadi sangat kontraproduktif sebab pemilu 
menghadirkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar. 

Yang paling kini adalah imbauan Kepala BIN Syamsir Siregar pada 25 Januari 2009 
kepada para ulama, tokoh agama, santri, dan santriwati di Pondok Pesantren 
Cipasung, Tasikmalaya, untuk tidak golput pada Pemilu 2009 karena satu suara 
sangat penting bagi setiap orang maupun satu kaum yang ingin mengubah nasib dan 
kehidupannya.

Dari sisi aturan, banyak pembenahan yang sudah dilakukan. KPU telah membuka 
kembali pendaftaran pemilih bagi yang belum terdaftar, Mahkamah Konstitusi (MK) 
juga telah mengabulkan gugatan uji materi atas Pasal 124 Huruf a, b, c, d, dan 
e UU No 10/2008 tentang Pemilu dan memutuskan bahwa caleg terpilih didasarkan 
pada perolehan suara terbanyak. Ini semua dilakukan agar angka Golput pada 
pemilu tahun ini bisa ditekan seminim mungkin.

Tetapi di sisi lain, kampanye golput juga cukup gencar dilakukan oleh beberapa 
kelompok masyarakat yang terorganisasi. Bahkah, ada tokoh nasional yang secara 
terbuka menyatakan akan memboikot Pemilu 2009. Tentu tidak semua orang akan 
setuju dengan cara berpikir para pegiat kampanye golput itu. Mereka ingin 
melakukan perubahan besar bagi republik ini dengan mengajak orang lain untuk 
tidak usah berpartisipasi dalam pemilu.

Mungkinkah? Siapa pun mereka, tanggung jawab mereka terhadap masa depan bangsa 
ini sangat kita ragukan dan apa pun upaya yang mereka lakukan untuk 
mengkampanyekan golput akan kembali lagi kepada keputusan hati nurani kita 
sebagai anak bangsa, menggunakan suara kita sebagai wujud kepedulian untuk 
mengubah nasib bangsa ini atau mengabaikannya begitu saja.

Ricard Radja
Anggota Jaringan Epistoholik Indonesia
Jl Kejora, Tova, Kupang-NTT


Suara: SINAR HARAPAN
URL: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/28/opi02.html




      Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke