Kinerja KPK Mencemaskan
Sinar Harapan, Rabu, 28 Januari 2009

Redaksi Yth,

Mengamati kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhir-akhir ini semakin 
mencemaskan. Dulu, ekspektasi orang terhadap KPK sangat luar biasa, di tambah 
lagi dengan cara-cara mengungkap kasus korupsi yang cukup canggih. Kemudian, 
semua yang terkait korupsi juga diterabas tanpa pandang bulu. Ketika itu, semua 
orang berdecak kagum dengan kinerja yang ditunjukkan oleh KPK. Singkatnya, 
kalau hal itu dilakukan secara kontinu, dipastikan pelaku korupsi jera dan 
orang akan berpikir ulang untuk berani melakukan korupsi.

Namun, setelah kasus ditahan dan diadilinya Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin 
Abdullah dalam kasus dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI), 
sepertinya kinerja KPK mulai menurun. Bahkan, kasus korupsi dana YPPI yang 
belum juga tuntas terkesan diperlambat proses sidangnya. Padahal, tersangka 
lainnya sudah tuntas. Namun, tersangka Aulia Tantawi Pohan yang juga besan 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga kini belum divonis. 

Kasus itu mungkin salah satu gejala menurunnya semangat memburu korupsi, di 
samping putusan KPK yang juga makin melemah, terutama jika menyangkut anggota 
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terlibat korupsi. Beberapa vonis KPK untuk 
anggota Dewan dinilai berbeda dengan pejabat atau pengusaha. Sepertinya, untuk 
anggota DPR ada tawar-menawar sehingga vonisnya sangat ringan. 

Belakangan ini, pejabat KPK, mulai dari Ketua KPK Antasari Azhar hingga 
direktur lainnya, sibuk memberikan penjelasan kepada wartawan bagai selebritas. 
Mereka membeberkan mengenai program-program untuk mengungkap kasus korupsi. Hal 
yang paling rutin adalah pemanggilan tersangka atau saksi yang selalu 
dibesar-besarkan. Padahal, tujuan utama adalah pencegahan korupsi dan 
penanganan kasus korupsi. Jangan sampai tugas utama diabaikan, sementara 
pejabat KPK menikmati gaji besar dan cuma asyik tebar pesona melalui media 
massa cetak maupun elektronik tanpa hasil yang memadai. 

Kita tetap mengharapkan KPK bertindak konsisten seperti sedia kala sehingga 
kesan bahwa KPK menjadi alat kepentingan politik pihak tertentu tidak terbukti. 
Kasihan rakyat, hanya ditipu dengan tebar pesona terus-menerus. Atas dimuatnya 
surat pembaca ini, saya mengucapkan terima kasih kepada redaksi Sinar Harapan.

Ucok Saragih
Jalan Letjen Jamin Ginting
Gg Luku I, Simpang Kuala, Padang Bulan, Medan.


Sumber: SINAR HARAPAN
URL: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/28/opi02.html




      Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke