Sentimen Petugas Peron KRL Yang Tidak Ramah dan Kasar
Rabu, 11 Maret 2009 | 14:21 WIB
Saya
adalah mahasiswa program ekstensi di Universitas Indonesia. Pada
tanggal 10 Maret 2009, saya menggunakan kereta ekonomi sepulang dari
kantor. Saya naik dari stasiun Tebet dan saya turun di stasiun
Universitas Indonesia tepatnya pukul 19.16 WIB. Pada waktu itu kondisi
saya sedang sangat terburu-buru karena saya akan menemui dosen
pembimbing yang saya janjikan akan bertemu pada pukul 18.45 WIB. Dan
seperti yang kita ketahui, di ujung-ujung peron stasiun terdapat
beberapa orang penjaga peron yang bertugas menanyakan karcis para
penumpang.
Saya sebagai pengguna setia KRL Jabodetabek tentunya
tidak pernah lupa memberikan karcis saya ataupun memperlihatkan karcis
abonemen saya kepada petugas peron. Tetapi alangkah khilafnya saya
karena saya terburu-buru, saya lupa mengeluarkan karcis abonemen saya
dan saya berlari melewati petugas peron. Sebenarnya bukan hanya itu
saja yang membuat saya berani melakukan hal yang tidak biasa saya
lakukan tersebut. Saya berani karena saya melihat petugas peron
membiarkan seorang pria berseragam polisi yang berjalan di depan saya
lewat begitu saja dan tidak meminta karcis dari pria tersebut.
Tetapi
alangkah kagetnya saya ketika saya disambangi dan dikejar karena saya
tidak memperlihatkan karcis. Saya memberitahu petugas tersebut dan
minta maaf karena saya sedang terburu-buru ke kampus. Tetapi petugas
peron yang bernama Jamsa atau Camsa itu malah menghardik dan membentak
saya di depan khalayak umum, “Saya bilang perlihatkan karcisnya!!!”.
Begitulah suara Jamsa menggelagar membuat saya kaget sekaligus malu
karena dia memang mempermalukan saya di depan umum. Saya tetap
bersikukuh ingin ke kampus dan mengatakan akan kembali lagi nanti ke
stasiun sepulang dari kampus, tetapi Jamsa ini malah membentak saya
lebih keras lagi dan menyuruh saya untuk ikut ke kantor stasiun.
Setelah
tidak tahan dan setengah kesal, saya akhirnya masuk ke kantor. Disana
saya ditanyai oleh beberapa petugas stasiun yang lain. Dan ternyata
saya memang menyadari bahwa karcis abonemen saya tercecer di salah satu
buku-buku kuliah saya dan saya tidak dapat menemukannya waktu itu.
Akhirnya, saya diminta membayar denda sebesar Rp 5000,- karena tidak
memiliki karcis. Yang menjadi permasalahan sekarang bukan karena saya
harus membayar denda. Saya betul-betul tidak terima dengan perlakuan
Saudara Jamsa ini. Saya masih tidak habis pikir, mengapa PT KA
mempekerjakan petugas semacam Jamsa ini, yang tidak mampu menjalankan
tugasnya dengan maksimal.
Bayangkan saja, ketika seorang yang
berseragam polisi lewat dan hanya memberikan salam, Jamsa tidak
menanyakan karcis pria tersebut atau tidak berani menanyakan saya tidak
tahu persis. Dan ironisnya lagi, saya yang ada di belakang pria
berseragam polisi ini malah dikejar bahkan dibentak-bentak hanya untuk
menanyakan karcis saja. Alih-alih membentak saya Jamsa mengatakan bahwa
ia hanya menjalankan tugasnya. Sungguh yang ada di pikiran saya pada
saat itu bahwa Jamsa ini mungkin bekas seorang preman atau mungkin
berambisi menjadi tentara atau polisi sehingga nada bicaranya harus
membentak-bentak.
Lalu tugas seperti apakah yang ia jalankan
apabila ia membiarkan seorang berseragam polisi lewat begitu saja
sedangkan saya sendiri diperlakukan berbeda. Padahal belum tentu juga
pria berseragam polisi itu memiliki dan membeli karcis. Apa karena pria
itu berseragam polisi? Lalu kenapa kalau memang pria itu berseragam
polisi? Apa para petugas peron ini takut kepada semua orang yang
berseragam aparat? Beraninya hanya membentak warga sipil biasa saja.
Lalu
dimana tanggung jawab PT KA sebagai perusahaan transportasi negara yang
sedang berusaha membangun kredibilitas dan reputasi sementara petugas
peron Anda saja mentalnya sok jagoan seperti ini? Apa PT KA tidak
memberikan briefing ketika menerima karyawan khususnya petugas peron?
Atau PT KA memang sengaja menanamkan sentimen primordial kepada para
petugasnya, yang membedakan warga sipil dan aparat? Jika hal ini terus
terjadi mengapa penanganan keluar masuk peron tidak memakai mesin
dengan sistem informasi saja? Di peron-peron saya lihat sudah ada mesin
untuk karcis, lalu mengapa tidak diberdayakan saja?.
Anggi Paramita Gianieri
Beji Permai No 17 Tanah Baru Depok
Depok