sepakat, jangan hanya berdebat. lebih baik kita pelajari kembali Islam ini,
daripada sekedar berdebat tiada akhir.

ada nasehat bagus ttg masalah debat-debatan ini, saya copykan di bawah.
semoga bermanfaat.
-- 
Muhammad Haryo
http://islam-download.net
download gratis makalah dan buku Ilmiah, software Islami, mp3, dll
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Jika email ini masuk folder spam/ bulk/ junk, harap tandai sebagai NOT spam/
bulk/ junk
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

http://muslim.or.id/2007/01/20/mari-mengenal-manhaj-salaf/

Maka sebenarnya pertanyaan yang harus kita tujukan pertama kali kepada
diri-diri kita sekarang adalah; apakah akidah kita, ibadah kita, dakwah
kita, garis perjuangan kita sudah selaras dengan petunjuk Rasul dan para
sahabat ataukah belum? Pikirkanlah baik-baik dengan hati dan pikiran yang
tenang: Benarkah apa yang selama ini kita peroleh dari para ustadz dan
Murabbi serta Murabbiyat sudah sesuai dengan pemahaman sahabat ataukah
belum? Kalau iya mana buktinya?

Marilah kita ikuti jejak dakwah Rasul serta para sahabat dan juga para ulama
Salaf dari zaman ke zaman. Ukurlah keadaan kita dengan timbangan Al Kitab
dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Ingat, jangan *ta'ashshub* (fanatik
buta). Pelajari dulu akidah dan manhaj yang benar, baru saudara akan bisa
menilai apakah manhaj dan dakwah saudara-saudara sudah cocok dengan
pemahaman sahabat ataukah belum cocok tapi dipaksa-paksa biar kelihatan
cocok?!

Orang yang bijak mengatakan: 'Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenal
siapa yang benar!' Kenapa kita harus ngotot membela seorang tokoh, beberapa
individu, sebuah partai, atau yayasan, atau organisasi, atau pergerakan,
atau perhimpunan, atau kesatuan aksi, atau apapun namanya kalau ternyata itu
semua menyimpang dari jalan Rasul dan para sahabat?

Pikirkanlah ini baik-baik sebelum anda bertindak, berorasi, menulis, atau
menggalang massa, sadarilah kita semua telah mendapatkan larangan dari Allah
Ta'ala dari atas langit sana dengan firman-Nya yang artinya, *"Dan janganlah
kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, karena
sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu pasti akan dimintai
pertanggungjawaban."* (QS. Al Israa' : 36). Peganglah akidah ini kuat-kuat!!

http://islam-download.net/prinsip-mengkaji-agama.html

*Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja.* Harus tahu pula
rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Tujuannya agar tidak bingung
menghadapi seruan dari banyak kelompok dakwah. Dan yang paling penting,
tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang!

..................

*7. Menghindari perdebatan dalam agama*. Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam
bersabda:

"*Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali
mereka akan diberi sifat jadal (berdebat). Lalu beliau membaca ayat,
artinya: 'Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan'.*" (Hasan,
*HR Tirmidzi* dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani
dalam *Shahihul Jami'* no: 5633) *

* Ibnu Rajab mengatakan: "*Di antara sesuatu yang diingkari para Imam
salafus shalih adalah perdebatan, berbantah-bantahan dalam masalah halal dan
haram. Itu bukan jalannya para Imam agama ini." (Fadl Ilm Salaf 57 dari
Al-Intishar: 94).

* Ibnu Abil Izz menerangkan makna mira' (berbantah-bantahan) dalam agama
Allah adalah membantah ahlul haq (pemegang kebenaran) dengan menyebutkan
syubhat-syubhat ahlul bathil, dengan tujuan membuat keraguan padanya dan
menyimpangkannya. Karena perbuatan yang demikian ini mengandung ajakan
kepada kebatilan dan menyamarkan yang hak serta merusak agama Islam. (*Syarh
Aqidah Thahawiyah*: 313)
*
* Oleh karenanya Allah memerintahkan berdebat dengan yang paling baik.
Firman-Nya:
*
 "Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau'idhah (nasihat) yang baik
dan berdebatlah dengan yang paling baik." (An-Nahl: 125).

* Para ulama menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik bisa terwujud
jika niat masing-masing dari dua belah pihak baik. Masalah yang
diperdebatkan juga baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi.
Masing-masing beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu
serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan
mereka. Juga bersikap adil serta menerima kembalinya orang yang kembali
kepada kebenaran. (lihat rinciannya dalam *Mauqif Ahlussunnah* 2/587-611 dan
*Ar-Rad 'Alal Mukhalif *hal:56-62).
*
Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah perdebatan musyawarah
dan nasehat. Bisa jadi mereka berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau
amaliah dengan tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu' Fatawa 24/172)*

On 5/22/07, A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Assalamu'alaikum wr wb,
>
> Hindarkan perdebatan. Wujudkan ukhuwah Islamiyah dan persatuan Islam.
> Sedalam apa pun ilmu kita atau guru kita, hendaknya kita selalu
> mengamalkan perintah Allah dalam Al Qur'an.
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke