bismillah, berikut tangapan singkat. Semoga bermanfaat.

-- 
Abu Fudhail Muhammad Haryo
http://islam-download.net : download ebook islamic, software, program, dll..
free - gratis
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Jika email ini masuk folder spam/ bulk/ junk, harap tandai sebagai NOT spam/
bulk/ junk
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

1. Jika menjadi makmum tentu saja meniatkan diri sebagai makmum.
2. ini kondisinya shalat berdua dengan imam kan (makmumnya satu). kalau iya,
insyaaAllah memang benar di sebelah kanan imam. Dengan catatan, tidak pakai
mundur sedikit, tapi sejajar dengan imam.

وعنِ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال: "صَلّيْتُ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم ذَاتَ لَيْلةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارهِ،
فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم بِرأسي مِنْ وَرائي
فَجعَلَني عَنْ يمينِهِ" مُتّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu 'Abbas radliyallaahu 'anhuma ia berkata : Aku pernah shalat
bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada suatu malam, (dan) aku
berdiri di sebelah kiri beliau. Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wasallam memegang kepalaku dari belakngku, lalu menjadikanku (berposisi) di
sebelah kanan beliau" (Muttafaqun 'alaihi – Bukhari 2/726 dan Muslim 1/193,
shalatul-musaafiriin).

Komentar saya (Abu Fudhail) : Di sini dikatakan bahwa Ibnu Abbas diposisikan
di sebelah kanan beliau, dan tidak dikatakan di sebelah kanan + mundur
sedikit. Kita tidak bisa merinci suatu penjelasan yang global tanpa dalil
yang sharih (jelas) dan shahih (sah).

Imam Muhammad bin Isma'il Ash-Shan'ani berkata dalam kitabnya Subulus-Salam
(juz 2 halaman 44 – Daarul Hadits, Cairo Cet. 1425/2004 M) :


ثم قوله: "فجعلني عن يمينه" ظاهر في أنه قام مساوياً له، وفي بعض ألفاظه "فقمت
إلى جنبه".
وعن بعض أصحاب الشافعي أنه يستحب أن يقف المأموم دونه قليلاً. إلا أنه قد أخرج
ابن جريج قال: قلنا لعطاء: الرجل يصلي مع الرجل أين يكون منه؟ قال: إلى شقه،
قلت: أيحاذيه حتى يصف معه لا يفوت أحدهما الآخر؟ قال: نعم: قلت: بحيث أن لا
يبعد حتى يكون بينهما فرجه، قال: نعم. ومثله في الموطأ عن عمر من حديث ابن
مسعود أنه صف معه فقربه حتى جعله حذاءه عن يمينه.

Kemudian perkataan Ibnu 'Abbas : "Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasallam
menjadikanku (berposisi) di sebelah kanan beliau" jelas menunjukkan bahwa ia
(Ibnu 'Abbas) berdiri sejajar dengan beliau. Dan dalam lafadh yang lain
disebutkan (فقمت إلى جنبه) = "Aku berdiri di samping beliau".
Dari sebagian shahabat Asy-Syafi'i menyukai/menganjurkan agar makmum berdiri
sedikit di belakang (dari imam). Akan tetapi (hal itu terbantah) bahwasannya
Ibnu Juraij telah meriwayatkan/berkata : Kami bertanya kepada 'Atha' :
Seorang laki-laki shalat (berjama'ah) bersama seorang laki-laki (imam).
Dimanakah posisi ia berdiri dari imam tersebut ?". 'Atha' menjawab : "Di
sebelahnya". Aku berkata : "Apakah ia berdiri sejajar dengan imam sehingga
berbaris ( = sebaris dengan imam), sehingga tidak ada selisih antara imam
dan makmum ?". 'Atah' menjawab lagi : "Ya". Aku berkata : "Apakah tempatnya
tidak jauh sehingga tidak ada selang antara keduanya ?". Beliau menjawab :
"Ya".
Riwayat serupa (juga terdapat) dalam Al-Muwaththa' dari 'Umar dari hadits
Ibnu Mas'ud bahwasannya Ibnu Mas'ud satu shaff dengan 'Umar dan 'Umar
menjadikan dia sejajar dengan 'Umar di sebelah kanannya.

—selesai perkataan Ash-Shan'ani—
Riwayat lain dari Ibnu 'Abbas yang dimaksud oleh Ash-Shan'ani pada
perkataannya di atas adalah :


عن بن عباس قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فقمت إلى جنبه عن يساره
فأخذني فأقامني عن يمينه

Dari Ibnu 'Abbas radliyallaahu 'anhuma ia berkata : "Aku pernah shalat
bersama Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Aku berdiri di samping beliau
sebelah kiri. Maka beliau memegangku dan memindahkanku (berdiri) di sebelah
kanan beliau" (HR. Ahmad – softfile hadits nomor 3437).

Paparan di atas secara gamblang menjelaskan posisi makmum apabila seorang
diri adalah di sebelah kanan imam sebaris/satu shaff dengannya. Pendapat
yang mengatakan bahwa makmum mundur sedikit ke belakang adalah pendapat yang
tidak berdasar sama sekali. Juga,……. Dalam bahasa Arab, kata جَنْبٌ (dalam
hadits riwayat Ahmad di atas) berarti samping, sisi, tepi, atau dekat.
Dikatakan جَنْبا لِجَنْب (janban lijanbin) berarti sebelah menyebelah,
berdampingan, bahu membahu.
3. Iya, insyaaAllah memang begitu.

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya seseorang
dijadikan imam itu untuk diikuti. Bila imam ruku` maka ruku`lah dan bila
sujud maka sujudlah. Dan bila imam mengucap (Sami`allahu liman hamidah) maka
ucapkan (Rabbana Wa lakal hamd)". Shahih, HR. Bukhari dan Muslim.

Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku'
Seperti menambahkan,

مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ
"Sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh semua yang Engkau kehendaki
selain itu." (HR. Muslim)
Jika mau maka boleh menambahkan lagi,

أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ
عَبْدٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ
وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
"Pemilik pujian dan kemuliaan yang paling pantas untuk dikatakan oleh
seorang hamba, semua kami hamba-Mu, Ya Allah, tidak ada penghalang terhadap
apa yang Engkau berikan, tidak ada pemberi terhadap apa yang Engkau tahan,
dan tidak dapat memberi manfaat selain daripada-Mu." (HR. Muslim, Abu Dawud
dan Abu 'Awanah)

Boleh juga tanpa wawu Rabbanaa lakal hamdu. (Muttafaqun 'alaih)

Boleh mengucapkan do'a yang lain yang disebutkan dalam berbagai riwayat,
lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Al-Albani.

*Ini buku terbaik tentang shalat yang pernah saya (Abu Fudhail) baca tentang
masalah shalat.

4. Secara umum, setelah imam selesai membaca al-fatihah, kita disunnahkan
membaca aamiin.

Abu Musa meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda,

"Jika Imam membaca Waladha dhaalliin, maka bacalah Amin niscaya Allah
menerima dan menyambut kamu (permintaanmu). (HR. Muslim).

Dan sunat bagi siapa yang membaca Fatihah pada akhirnya membaca "Amin". Yang
berarti, "Ya Allah terimalah".

Abu Hurairah r.a. mengatakan, Nabi saw. bersabda, "Jika Imam membaca Amin
maka sambutlah (bacalah) amin, maka sesungguhnya siapa yang bertepatan
bacaan aminnya dengan aminnya para Malaikat maka diampunkan baginya
dosa-dosa yang telah lalu". (HR. Bukhari, Muslim).

5 & 6. Secara umum jawabannya ringkas,

Siapa yang masih sempat ruku' bersama imam dalam shalat, maka dia
mendapatkan shalat itu.
(HR Bukhari dan Muslim).

"Apabila seseorang di antara kamu datang shalat sewaktu kami(rasul) sujud,
maka hendakhlah kamu bersujud. dan barang siapa yang mendapati ruku' beserta
imam, maka ia telah mendapat satu raka'at". (HR. Abu Daud).

Untuk bahasan lebih detailnya bisa dilihat di ::
http://72.14.235.104/search?q=cache:0mz8GiLk0I4J:almanhaj.or.id/print.php%3Farticle_id%3D1822+mendapati+imam+ruku+satu+raka%27at&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a

Allahu A'lam

On 6/15/07, ziad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Bismillah,
> Saya juga ingin titip pertanyaan.
>
> Saat saya menjadi makmum masbuk saya melakukan hal berikut:
> 1. Ketika datang menjadi masbuk, saya meniatkan salat sebagai makmum
> 2. Kemudian saya langsung berdiri (tdk menepuk bahu imam) di sebelah kanan
> imam & sejajar (tidak dibelakang imam)
> 3. Jika saya menjadi makmum masbuk pd salat dhuhur & ashar, maka setelah
> bangun dr ruku' saya membaca "rabbana walakam hamd" dgn keras
> 4. Jika saya menjadi makmum masbuk pd salat subuh, magrib dan isya,
> (selain
> membaca "rabbana walakal hamd") saya juga menjawan "amiin" setelah imam
> selesai membaca Al Fatihah pd rakaat 1 atau 2.
> 5. Jika saya mendapati imam pd ruku, atau saya masih bisa mengikuti ruku',
> maka saya telah melakukan satu rakaat.
> 6. Jika saya mendapati imam pd keadaan bangun dr ruku, atau keadaan lain
> setelah ruku', maka saya belum melakukan satu rakaat dan menambahkan
> kekurangannya setelah imam selesai salam.
>
> Mohon koreksinya untuk hal tersebut.
>
> Wassalamualaykum Wr. Wb.
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke