Kita dan Hawa Nafsu
   
  Artikel Buletin An-Nur :
   
  Hawa nafsu senantiasa menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Dia pandai 
menghiasi dosa dan kemaksiatan, sehingga tampak indah dan menarik di mata 
manusia. Kita dapat merasakan pengaruh hawa nafsu melalui minimnya kita 
melakukan ketaatan, condong pada kemaksiatan dan terpesona kepada dunia. Untuk 
itu mari kita merenung sejenak, dengarkan apa kata hawa nafsu dan perhatikan 
pula jawaban untuknya. Semoga bermanfaat. 
   
  Hawa nafsuberkata, "Mengapa aku selalu disalahkan dan tidak boleh melakukan 
apa saja yang kuinginkan? Mengapa tidak ada kelonggaran? Sungguh aku tidak 
menyuruh, kecuali apa-apa yang baik dan enak." 
   
  Jawab: Ini merupakan salah satu tipu dayamu. Andaikan kami memberi 
keleluasaan kepadamu, maka kamu tidak akan berhenti memerintahkan keburukan 
kepada kami. Menghiasi kemaksiatan seakan-akan baik dan indah. Menganjurkan 
agar melakukan dan membiasakannya. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, 
artinya, Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, 
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (Yusuf: 53) 
   
  Memang demikian adanya engkau wahai hawa nafsu. Kamu tidak akan mampu berubah 
dengan sendirinya tanpa adanya pertolongan Allah, perjuangan serta usaha yang 
sungguh-sungguh dari manusia. 
   
  Hawa nafsu berkilah, "Jika keberadaanku untuk mengajak kepada keburukan, maka 
bagaimana mungkin engkau dapat mengubahku?" 
   
  Jawab: Dapat dan pasti dapat. Faktor pendorong terbesar dari gejolakmu adalah 
kebodohan (al-jahl) dan kezhaliman (al- zhulm). Dari dua faktor ini muncul 
perilaku dan perkataan yang buruk. Dengan pertolongan Allah kamu pasti dapat 
berubah. Caranya adalah dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ilmu yang 
bermanfaat adalah segala yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Nabi 
Shalallaahu alaihi wasalam. Sedangkan amal shaleh adalah amal yang memenuhi dua 
syarat yaitu ikhlash dan mutaba'ah atau mengikitu apa saja yang telah diajarkan 
Rasul Shalallaahu alaihi wasalam. Sedangkan yang tidak mencontoh Nabi 
Shalallaahu alaihi wasalam namanya bid’ah. 
   
  Berkata nafsu, "Hawa nafsu itu ada beberapa macam, ada yang memerintahkan 
keburukan (amaratun bissuu'), ada nafsu pencela (lawwamah) dan nafsu yang 
baik/tenang (muth-mainnah). Namun mengapa nafsu selalu dianggap buruk? 
  Jawab: Nafsu dari sisi dzatnya adalah satu, sedangkan yang tiga macam itu 
sifatnya. Apabila memerintahkan keburukan dan maksiat, maka itu amaratun 
bissuu'. Jika memerintahkan kebaikan dan ketaatan, maka itu muthmainnah, dan 
jika memerintahkan sesuatu lalu mencelanya, maka itu lawwamah. Jika yang dicela 
adalah perbuatan buruk, maka ia terpuji dan jika yang dicela perbuatan baik, 
maka ia tercela. 
   
  Sedangkan secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan maksiat, maka 
bagaimana mungkin disebut baik, jika keadaanya selalu demikian? 
  Adapun nafsu muthmainnah adalah nafsu yang telah ditundukkan oleh pemiliknya, 
sehingga sifat ammaratun bissuu' (memerintah keburukan) telah mati dan tunduk 
di jalan Allah. Maka jadilah nafsu itu penyuruh dan pembisik kebaikan, maukah 
kamu demikian? 
   
  Hawa nafsu beralasan, "Jangan memperbesar masalah. Iman itu adanya di hati, 
selagi hati masih muthmainnah (beriman), maka mengapa musti khawatir secara 
berlebihan.?" 
  Jawab: Ini model iman orang murji'ah yang mengatakan, bahwa iman itu sekedar 
pengakuan hati, sedangkan amal tidak termasuk dalam iman. Ahlul haq 
berkeyakinan, bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan perbuatan 
anggota badan. Iman dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan 
dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasulullah 
Shalallaahu alaihi wasalam telah memberitahukan, bahwa kemaksiatan akan 
menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala, 
   
  “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan 
shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui 
kesesatan.” (Maryam: 59) 
  “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa 
cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur: 63) 
   
  Hawa nafsu masih belum puas dan berkata, "Apakah engkau lupa, bahwa Allah 
adalah Maha Pengampun lagi Penyayang dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu?" 
  Jawab: Sungguh kami tidak lupa itu, namun kita tidak boleh mengambil satu 
nash dengan mengabaikan nash-nash yang lain. Memang benar Allah Maha Pengampun 
lagi Penyayang, namun dia juga Maha keras siksa-Nya sebagai-mana firman Nya, 
artinya, 
  “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa 
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Maidah: 98) 
  Maka bagaimana kita akan melupakan, bahwa Dia juga keras siksa-Nya? Dia juga 
telah berfirman, artinya, 
  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni 
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” 
(An-Nisaa: 48) 
  Siapakah yang tahu kehendak Allah. Tak seorang pun mengetahui, maka bagaimana 
kami mengetahui, bahwa kami termasuk salah seorang yang dikehendaki Allah untuk 
diampuni? Bahkan dia berfirman, artinya, 
  “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan 
dengan kejahatan itu” (An-Nisa:123) 
  Allah juga menjelaskan, bahwa rahmat-Nya dekat kepada orang-orang muhsin 
(yang berlaku baik). Artinya orang yang buruk berada jauh dari rahmat-Nya. 
   
  Hawa nafsu beralasan lagi, "Ini namanya su'udzan terhadap Tuhan. Allah 
Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman di dalam hadits qudsi, "Saya tergantung 
persangkaan baik hamba Ku terhadap Ku" (Muttafaq ‘alaih). Kalau kamu mau 
husnudzan terhadap Allah, maka kamu akan yakin bahwa Dia pasti akan 
mengampunimu. 
   
  Jawab: Kami bertanya, "Apa yang kau ketahui tentang husnudzan terhadap Allah? 
Apakah sengaja melakukan dosa dan maksiat lalu berharap memperoleh rahmat dan 
ampunan Nya? Sesungguh- nya husnudzan terhadap Allah adalah dengan beramal 
sholeh karena seorang yang beramal sholeh, berarti berprasangka baik kepada 
Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah akan memberikan balasan pahala 
kebaikannya, tidak mengingkari janji dan akan menerima taubat. 
  Sedangkan berbuat maksiat berarti telah su'udzan kepada Allah karena tidak 
yakin, bahwa kalau dia berbuat baik akan mendapat pahala. Bagaimana seorang 
yang melakukan sesuatu yang membuat Allah marah dan murka, menyepelekan hak-hak 
Nya, menerjang larangan-Nya dan terus demikian disebut sebagai berprasangka 
baik terhadap Allah?Maka yang dimaksud husnudzan adalah memperbagus amal, 
semakin baik amal seseorang, maka dia semakin berprasangka baik kepada Allah. 
   
  Hawa nafsu berkata, "Apa manfaatnya Allah menyiksa kita, apakah Dia butuh 
itu? Sedangkan ampunan-Nya tidak akan mengurangi kekuasaan Nya sedikit pun dan 
adzab-Nya tidak menambah kekuasaan-Nya sama sekali? 
   
  Jawab: Ini merupakan bisikan yang menyesatkan dan kebatilan yang nyata. 
Karena dengan demikian ayat-ayat ancaman dianggap hanya sekedar gertakan semata 
yang tak ada buktinya. Orang kafir juga akan berkata demikian, mereka berharap 
mendapatkan rahmat Allah dengan kekafiranya. Alasannya Allah tidak butuh untuk 
mengadzab manusia dan siksaan tidak akan menambah kekuasaan-Nya sedikit pun. 
Padahal Dia telah berfirman, 
  “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan 
orang-orang yang berdosa (orang kafir) (Al-Qalam: 35) 
  “Segolongan masuk surga dan segolong-an masuk neraka.” (Asy Syuura: 7) 
  Allah Subhannahu wa Ta'ala adalah Hakim segala hakim dan Dzat paling Adil di 
antara yang adil. Dan termasuk keadilan-Nya adalah menyiksa orang zhalim, 
fasiq, kufur dan terus menerus berbuat kerusakan di muka bumi. 
   
  Berbisik lagi hawa nafsu, "Yang dincaman itu hanya dosa-dosa besar seperti 
zina, mencuri, liwath,sihir, minum khamer, membunuh dan sebagainya. Adapun 
dosa-dosa kecil, maka masalahnya amatlah ringan dan tidak perlu dikhawatirkan." 
  Jawab: Telah berkata Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu, "Tidak ada dosa kecil 
kalau dilakukan terus menerus dan tidak ada dosa besar kalau dibarengi 
istighfar. Berkata pula seorang salaf, "Jangan engkau memandang kepada kecilnya 
dosa, namun lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat." 
   
  Dan jauh sebelumnya Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah memperingatkan, 
"Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa kecil, karena kalau dosa itu berkumpul 
pada seseorang akan membinasakannya."(HR. Al-Bukhari) 
  Imam Ibnul Qayyim juga telah mengingatkan, bahwa bisa saja dosa-dosa kecil 
dapat berakibat lebih fatal daripada dosa-dosa besar. Karena pelaku dosa besar 
biasanya merasa malu dan menyesal atas dosanya. Sedangkan pelaku dosa kecil 
terkadang tidak merasa takut dan malu dengan dosa itu. 
   
  Setelah kehabisan alasan nafsu berkata untuk terakhir kali, "Seluruh dosa 
adalah sudah takdir dan kehendak Allah, kita hanya sekedar menjalankan saja, 
tak mampu mengelak terhadap takdir itu. Kalau Allah berkehendak tentu kita 
tidak melakukan dosa dan tentu banyak melakukan ketaatan." 
  Jawab: Nah semakin jelas sekarang kebobrokanmu, dan terbukalah kedokmu. Kini 
engkau berhujjah dengan hujahnya orang-orang musyrik karena kehabisan alasan. 
Hujjahmu adalah dusta semata, sekarang kuberi tahu mengapa alasanmu sangat 
lemah."
   
  Berhujjah dengan takdir berarti mengklaim tahu perkara ghaib, darimana tahu, 
bahwa Allah menakdir kan seseorang ahli maksiat, mengapa tidak mengatakan, 
"Allah menakdirkan aku menjadi orang yang taat? 
   
  Mengapa ketika melakukan ketaatan tidak beralasan dengan takdir Allah 
(sehingga tak perlu mengharap balasan dan surga, red). Karena Allah yang 
berkehendak itu, mengapa tidak membiarkan dirinya lapar dan haus, mengapa 
ketika sakit berobat, mengapa berusaha? Namun anehnya untuk perbuatan baik 
mengapa tidak berusaha? 
   
  Kalau beralasan dengan takdir ketika berbuat maksiat diterima, tentu 
umat-umat terdahulu yang ingkar dan durhaka dibiarkan tidak disiksa, artinya 
tidak ada gunanya ayat-ayat yang berisi ancaman Allah. 
   
  Kalau ada orang menzhalimi kamu, harta, kehormatan dan darahmu, apakah kamu 
menerima jika dia beralasan dengan takdir Allah? 
   
  Jika demikian maka tidak ada bedanya orang kafir dengan mukmin, ahli maksiat 
dan orang baik karena semuanya dipaksa tanpa dapat memilih, ini merupakan 
kebatilan yang nyata.
  Ah sudah lah! Tidak ada gunanya terus menerus menuruti kamu, sampai kapan pun 
kamu tidak bisa menipu orang-orang yang ikhlas dan taat terhadap Allah dan 
Rasul-Nya. 
   
  Sumber: Kutaib Darul Wathan “Lahazhat Shadiqah,” Khalid Abu Shalih. (Khalif)

       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke