--- In [EMAIL PROTECTED], "rsa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Usaha-Usaha Mengisolasi Islam

assalaamu'alaikum wr. wb.

Salah satu modus operandi mutakhir untuk menghancurkan kesolidan umat 
Islam dunia saat ini adalah dengan mengisolasi Islam, yaitu 
melokalisasinya ke dalam batasan-batasan wilayah geografis sehingga 
kekuatannya terpecah-belah.  Munculnya sentimen antarbangsa dan 
perasaan bangga pada bangsanya sendiri (yang bisa mengarah pada 
fasisme jenis baru) adalah senjata yang terbukti cukup ampuh di masa 
lalu.  Bangsa penjajah dari Eropa sering menggunakan metode devide et 
impera semacam ini, dan Indonesia pernah mengalami masa-masa pahit 
karenanya.
Runtuhnya Khilafah Islamiyah dahulu tidak terlepas dari sentimen 
kebangsaan yang diprovokasi oleh bangsa-bangsa Barat, misalnya antara 
warga Arab dan Turki.  Pada akhirnya, Turki sebagai pusat 
kekhalifahan ketika itu justru menciptakan sebuah tatanan kenegaraan 
baru dengan dasar sekularisme.  Saking bencinya dengan segala sesuatu 
yang `berbau Arab', pada masa itu sempat berhembus keinginan untuk 
mengubah adzan ke dalam bahasa Turki.  Keinginan yang sama bodohnya 
dengan shalat dwibahasa di Indonesia beberapa waktu yang lalu, dan 
alhamdulillaah memang tidak pernah benar-benar tercapai.
Terpecah-pecahnya umat Islam dalam berbagai negara memang menjadi 
masalah yang amat pelik.  Meskipun banyak yang mengkritik (dan 
memfitnah), Ikhwanul Muslimin dahulu sempat membuat kekuatan Zionis 
ketar-ketir dengan angkatan bersenjatanya.  Padahal ia hanyalah 
sebuah organisasi, bukan negara.  Apa dinyana, yang menikam mereka 
dari belakang ternyata justru saudara-saudaranya sendiri, terutama 
pemerintah Mesir yang ideologinya bisa `dibeli' dengan harga murah.  
Jika tidak digagalkan oleh pihak-pihak yang main mata dengan bangsa 
Eropa dahulu, barangkali Palestina tidak perlu menderita hingga 
sekarang.  Kenyataannya, bangsa Palestina justru dizalimi habis-
habisan oleh sikap diam saudara-saudara seimannya di Timur Tengah.
Belum lama ini, Gus Dur juga telah menunjukkan sikap aslinya terhadap 
perjuangan rakyat Palestina.  Dalam sebuah wawancara*, secara terang-
terangan ia menyatakan simpatinya pada gerakan Zionisme yang telah 
mencaplok tanah Palestina.  Ketika dikonfrontasi dengan fakta bahwa 
Palestina adalah negara yang terjajah, Gus Dur dengan ringannya 
menjawab, "Ah, Anda percaya pada propaganda orang Palestina."  
Barangkali Gus Dur lebih suka dengan propaganda AS dan kaum Zionis, 
atau barangkali ia pun tengah menebar propaganda?  Yang jelas, 
sikapnya telah menunjukkan betapa ia tidak merasa bersaudara dengan 
umat Islam Palestina yang tidak sebangsa dengannya.
Penerusnya di PBNU, yaitu Hasyim Muzadi, juga belum lama ini 
menyebarkan ide tentang `bahayanya ideologi transnasional' di 
Indonesia, utamanya dalam tubuh umat Islam.  Dengan sekali tembak, 
Hasyim Muzadi langsung mendiskreditkan sekian banyak pergerakan Islam 
yang memiliki akar hubungan dengan pergerakan lain di luar negeri.  
Maka gerakan tarbiyah ala Ikhwanul Muslimin, penuntutan syariat Islam 
ala Hizbut Tahriir, atau dakwah gaya Jamaah Tabligh, semuanya 
langsung diberi cap haram ala Hasyim Muzadi.  Dengan fatwa demikian, 
seolah-olah Hasyim Muzadi lupa bahwa agamanya sendiri adalah sebuah 
ideologi transnasional yang berasal dari tanah seberang.  Apakah 
Hasyim Muzadi bersedia murtad hanya karena agamanya datang dari 
negeri lain?  
Penolakan ideologi yang berasal dari negeri lain ini tidak hanya 
hipokrit, melainkan juga sangat dekat dengan kesesatan logika Bani 
Israil di masa lalu.  Sepeninggal Nabi `Isa as., kaum Bani Israil 
menggembar-gemborkan ramalan mengenai kedatangan Sang Nabi terakhir 
yang akan memimpin umat hingga akhir jaman.  Mereka menunggu dengan 
penuh harap, walaupun hal ini juga terdengar sangat hipokrit karena 
mereka telah berusaha mencelakai Nabi-Nabi sebelumnya, misalnya Nabi 
Yahya as. dan Nabi `Isa as.  Akan tetapi, ketika Sang Nabi Akhir 
Jaman itu akhirnya muncul, mereka menolaknya mentah-mentah hanya 
karena beliau berasal dari sebuah negeri yang peradabannya tidak maju 
(yaitu Mekkah), bangsa yang tidak dikenal kehebatannya (yaitu bangsa 
Arab yang terjepit diantara dua adidaya yang bahkan tidak tertarik 
untuk menjajahnya), dan garis keturunan yang berbeda dengan mereka 
(yaitu Bani Ismail, bukan Bani Ishaq).  Mengapa harus menolak 
kebenaran hanya karena ia datang dari golongan di luar kita?
Beberapa waktu sebelum muncul kasak-kusuk tentang `ideologi 
transnasional' ini, Hasyim Muzadi juga pernah berkomentar di TV bahwa 
ia mengharapkan munculnya `Islam yang Indonesiawi' demi kebaikan 
seluruh penduduk negeri ini.  `Islam yang Indonesiawi' ini sudah 
pasti senafas dengan seruannya untuk menolak `ideologi 
transnasional', yaitu penolakan terhadap apa pun (termasuk nilai-
nilai agama sekalipun) yang tidak sesuai dengan kultur bangsa 
(na'uudzubillaah).
Pada diskusi pekanan di kantor INSISTS Sabtu lalu (16/06), Adian 
Husaini menceritakan tentang sebuah move baru di Indonesia yang 
dilakukan oleh orang-orang yang juga memiliki agenda untuk 
melokalisasi umat Islam.  Gerakan itu dimulai dengan diresmikannya 
sebuah program yang merupakan kerja sama antara Universitas Gajah 
Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana 
(UKDW) dengan membentuk sebuah konsorsium yang diberi nama Indonesian 
Consortium for Religious Studies (ICRS).  Konsorsium ini akan 
menyelenggarakan sebuah program doktoral studi agama-agama yang 
perkuliahannya akan dimulai pada September 2007 mendatang.  Jangan 
kira pemerintah tidak tahu-menahu, karena pada persemiannya, Sri 
Sultan Hamengkubuwono X hadir dan membubuhkan tanda tangannya pada 
acara tersebut.
Dalam sebuah brosur yang disebarluaskannya, ICRS menjelaskan salah 
satu `keistimewaan' program studinya dengan kata-kata berikut : "The 
primary strength of ICRS-Yogya is the study of Indonesian religions, 
especially Indonesian Islam."  Lebih lanjut, ICRS juga menjelaskan 
bahwa mereka juga memiliki akses dan referensi untuk meneliti agama-
agama lainnya, "ICRS-Yogya also has strong resources for the study of 
Indonesian Christianity, and can facilitate study of Balinese 
Hinduism, Indonesian Buddhism, Indonesian Chinese religions and 
indigenous local religions." (garis bawah adalah bentuk penekanan 
dari saya.
Di sini jelas bahwa ICRS tengah melakukan operasi lokalisasi agama-
agama, khususnya Islam.  Jika ada Indonesian Islam (yang secara 
harfiah berarti `Islam ala Indonesia'), maka berarti mereka juga 
mengakui (atau bahkan mengusahakan) adanya Islam ala Hongkong, Islam 
ala Denmark, Islam ala Nigeria, atau Islam ala Venezuela.  Dengan 
demikian, umat Islam tidak mampu berkumpul dalam satu suara, karena 
rasa kebangsaan telah mengalahkan persatuan dalam iman.  Jika kita 
menilik lebih jauh pada penggunaan frase "indigenous local 
religions", jelaslah bahwa Islam dianggap sebagai `agama non-lokal' 
(kita bisa menyebutnya `agama transnasional' untuk mengadaptasi gaya 
bahasa Hasyim Muzadi) dan dengan demikian, perlu di-Indonesiakan 
sehingga terciptalah `Islam ala Indonesia' atau `Islam yang 
Indonesiawi'.
Waspadalah!
wassalaamu'alaikum wr. wb.

*bisa dilihat di: http://swaramuslim.net/more.php?id=5606_0_1_0_M

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---


Kirim email ke