Artikel di bawah mudah-mudahan bisa dijadikan pertimbangan.
 
Al Khiyaratus Sha'bah<?xml:namespace prefix = o ns = 
"urn:schemas-microsoft-com:office:office" />
Pilihan-pilihan Sulit
 
Pilih memilih menjadi keseharian hidup ini. Memilih merupakan kegiatan yang 
sering kita alami. Ia bagian dari hidup manusia. Karena sesungguhnya Allah SWT. 
menjadikan manusia sebagai makhluk yang boleh menentukan pilihan. Baik 
dilakukan secara perseorangan atau pun berkelompok. Termasuk dalam masalah 
prinsip hidupnya, apakah beriman atau kafir, apakah patuh atau membangkang. 
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang 
ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) 
biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu 
neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, 
niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang 
menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang 
paling jelek". (Q.S. Al Kahfi: 29). 
Meski kebanyakan orang tatkala memilih tidak mempunyai patokan baku sebagai 
ukuran dalam menentukan sebuah pilihan. Yang menjadi ukuran hanya didasari 
kecenderungan dan kepentingan. Amat mungkin pilihan itu mudah untuk diputuskan. 
Namun tidak jarang pilihan yang muncul menjadi sulit untuk ditetapkan. Ketika 
pilihan-pilihan menjadi sulit untuk diputuskan kadang manusia jadi linglung. 
Akhirnya berkutat pada sikap kebingungan. Malah kemudian membuatnya keliru 
mengambil keputusan. 
Tak ubahnya saat memilih-milih baju di outlet-outlet factory yang merebak di 
sudut-sudut kota. Melihat sepotong baju yang terpampang di sebuah etalase 
tampaknya amat menarik. Tetapi ketika matanya tertuju pada potongan baju 
lainnya yang tergantung di pojokan outlet rasanya baju itu lebih bagus. 
Bingunglah akhirnya sang pembeli. Lalu ia tertipu oleh warna-warni pakaian yang 
bergelantungan. Ia pun membelinya. Namun sewaktu di rumah, ia lihat-lihat 
kembali pakaian yang baru saja dibelinya. Setelah mematut-matut diri di cermin, 
ia berkesimpulan bahwa baju yang dibelinya tidak cocok untuk ukuran tubuhnya. 
Baik warnanya, modelnya, jahitannya bahkan ukurannya. Tidak jarang kejadian 
seperti itu sering kita alami. 
Pengalaman di pasar itu mestinya menjadi catatan bagi kita untuk mengambil 
sikap atas sebuah pilihan agar kita tidak terjebak oleh kecenderungan dan 
kekaguman sesaat. Apalagi menyadari bahwa kejadian itu amat sering kita alami. 
Sebab datangnya pilihan-pilihan kadang tidak dapat kita hindari. Hal ini 
bermula pada cara pandang terhadap pilihan-pilihan tersebut dan kesadaran akan 
dhawabith (patokan) untuk menilai sebuah pilihan. Terlebih pilihan itu adalah 
pilihan-pilihan sulit karena mengandung resiko yang berat, keterkaitan dengan 
banyak persoalan, kesiapan diri dan njelimetnya masalah yang bakal muncul. 
Seperti memilih sikap politik, figur pemimpin dan yang lainnya.  
Dalam dakwah pilihan-pilihan sulit (Al Khiyaratus Sha'bah) adalah hal yang 
lazim terjadi. Para pengemban dakwah telah mengalami hal ini. Nabi Ibrahim AS. 
misalnya harus menentukan pilihannya. Apakah mentaati perintah Tuhannya 
menyembelih anak kesayangannya ataukah lebih mencintai anaknya ketimbang 
qararat rabbaniyah (instruksi tuhannya). Nabi Luth AS. juga dihadapkan pada 
pilihan apakah mengikuti ajakan sesat dan menyimpang kaumnya ataukah mengikuti 
ajaran Tuhannya meski dikucilkan oleh masyarakatnya. Dan masih banyak lagi 
pilihan-pilihan sulit yang dialami Para Nabi dan Rasul.   Sepatutnya bagi kader 
dakwah, dalam mengambil keputusan atas pilihan sulit tidaklah menjadi urusan 
yang merumitkan. Melainkan hendaknya selalu berpijak pada manhaj rabbaniyah 
dalam mengambil suatu sikap. Sebab Islam telah mengajarkan cara pandang dalam 
menilai dan mengukur sebuah pilihan. Sehingga ia tidak bingung dan keliru 
menentukan pilihannya. Untuk itu ajaran Islam memberikan aturannya sebagai 
pijakan dasar dalam memandang sebuah pilihan yang ada. Diantaranya:
1.       Rekayasa Allah SWT. (At Tadbirur Rabbani)
Menyadari bahwa pilihan itu justru karena kehendak Allah SWT. pada hamba-Nya. 
Sebab Dia Maha Tahu akan nasib kesudahan para hamba-Nya. Kadang pilihan 
tersebut tidak kita sukai. Namun perlu kita pahami setiap pilihan yang 
diberikan Allah SWT. mesti ada maksud dan hikmahnya. Dan inilah yang sering 
kali tidak kita sadari. Seperti terjadinya perang Badar. Awalnya peristiwa itu 
hanya ekspedisi militer yang bertujuan untuk menakut-nakuti kafilah dagang 
Quraisy. Dan ini sebagai wujud bahwa kaum muslimin bukan lagi sebagai pecundang 
yang mudah diperdaya dan ditekan. Selanjutnya mereka tidak menyangka bahwa 
kejadian itu akhirnya berujung menjadi perang besar. Lantaran kedatangan 
pasukan kafir Quraisy yang harus menyelamatkan kafilah dagangnya maka Allah 
SWT. menghadapkan kaum muslimin untuk menghadapinya. 
Orang-orang mukmin sebenarnya tidak menghendaki perang tersebut. Ketidaksiapan 
mereka akan perang besar itu menjadi kendala besar yang membuat mereka 
mengajukan pandangan kepada Rasulullah SAW. Sehingga ada yang berpandangan 
untuk kembali ke Madinah mengajak kaum muslimin lainnya dengan berbagai 
perlengkapan dan asesoris peperangan.  Namun, Allah dan Rasul-Nya telah 
menetapkan tidak ada pilihan lain kecuali perang. Karenanya orang-orang mukmin 
menerimanya dengan lapang. Meskipun pilihan tersebut tidak mereka inginkan. 
"Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal 
sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya". 
(QS. Al-Anfal: 5). 
Hal ini pun sangat mungkin kita alami. Ketika kita menghadapi suatu masalah, 
sering kita tidak menghendaki masalah itu muncul. Malah mungkin kita akan lari 
meninggalkannya. Tetapi Allah SWT. tidak menyukai hal itu sehingga kita harus 
menentukan pilihan yang memang telah dirancang-Nya buat kita. Dalam menyikapi 
ini hanya satu sikap yang perlu dikedepankan, yakni berupaya lapang hati 
menerima pilihan Allah SWT. meski berat kita rasakan. Karena kita tahu apa yang 
telah ditentukan-Nya pasti ada maksud dan hikmah besar di dalamnya. 
2.      Prinsip Keimanan (Al Mabadi'ul Imaniyah)
Datangnya pilihan, dipandang orang banyak, dengan ukuran senang dan tidak. 
Sehingga ditetapkannya dengan amat mudah melalui ukuran 'saya senang kok' atau 
'saya tidak suka kok'. Padahal kesenangan dan kebencian terhadap sesuatu amat 
relatif ukurannya. Bahkan ia acap sangat temporer. Sewaktu-waktu dapat 
menyenangkan bisa jadi pada waktu yang lain menjadi amat memuakkan. Bila 
parameternya seperti itu bisa jadi akan sering salah dalam memilih. 
Islam telah menanamkan prinsip terhadap persoalan yang rumit dan harus 
ditentukan sikapnya dengan cara pandang imaniyah. Cara pandang ini mestinya 
menjadi mabadi' (prinsip) yang mengikat dirinya dalam menentukan sebuah sikap. 
Cara pandang terbalik dengan kesenangan dan kecenderungan insaniyah. Sehingga 
kita melihat sesuatu itu yang tidak kita sukai justru di situlah pilihan yang 
paling baik. Atau sebaliknya kita memandangnya sesuatu itu amat menyenangkan 
justru itulah sesungguhnya itu sangat buruk bagi kita. Sebagaimana firman Allah 
SWT. "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang 
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan 
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah 
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".  (QS. Al-Baqarah: 216).
Karenanya mabadi imaniyah harus mendominasi cara pandang seorang kader dakwah. 
Sehingga ia akan berpikir keras dan positif menyikapi persoalan yang ada. 
Sebuah pepatah memaparkan 'Janganlah engkau membenci sesuatu karena suatu saat 
justru kamu menyukainya'. Memang hal itu sering terjadi. Akan tetapi cara 
pandangan kader adalah menilai bahwa kadang sesuatu yang tidak kita harapkan 
tapi sebenarnya di situlah kebaikan bagi kita. Hal ini memang tidaklah mudah. 
Apalagi cara pandangnya tidak berdiri di atas mabadi' imaniyah. 
3.      Mengenal Resiko Pilihan (Ma'rifatu Atsaril Khiyarah)
Pilihan datang pasti bersama dampak dan akibat yang terkait dengannya. Apapun 
pilihan yang akan diambilnya. Dengan memandangnya secara mendalam akan kita 
temukan bahwa pilihan A resikonya begini atau pilihan B resikonya begitu. Bagi 
orang beriman resiko yang diambil adalah resiko yang memuliakan dirinya dunia 
dan akhirat. Sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur'an tentang Yusuf AS. di 
kala harus memilih apakah mau menerima ajakan sesat majikan wanitanya atau 
lebih memilih penjara sebagai akibat menolak ajakannya. Yusuf memilih yang 
mulia baginya. Penjara lebih disukai ketimbang harus menerima rayuan selera 
rendah majikannya. Sebab menerima bujuk rayu berarti predikat bejat dan hina 
akan menempel pada dirinya. Dan tidak mungkin disandang oleh seorang manusia 
pilihan, Nabi Utusan Allah SWT. 
Yusuf AS. memahami betul akan resiko berat yang akan ia dapatkan. Hidup dalam 
penjara yang penuh penderitaan dan kesakitan. Akan tetapi hal itu amat mulia 
baginya. Di samping memberikan pembelajaran untuk dirinya dan dapat 
mendekatkannya dengan umat dan masyarakat kebanyakan. Tentu ini akan membantu 
penyebar luasan dakwahnya. "Yusuf berkata:" Wahai Tuhanku, penjara lebih aku 
sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan 
daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan 
mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh".  (QS. Yusuf: 33). 
Begitu pula yang dialami As Syahid Sayyid Quthb. Penjara dan hukuman mati malah 
memulai diri dan keluarganya. Bahkan kaum muslimin lainnya karena dalam penjara 
beliau mewariskan karya-karyanya yang monumental, Tafsir Fi Zhilalil Qur'an. 
Oleh karena itu seorang kader dakwah harus benar-benar cermat dalam memilih. 
Dan memperdalam pengamatan terhadap dampak dan resiko baginya serta orang-orang 
yang di sekitarnya. Tentu sebagai mukmin pilihan hidupnya adalah kemuliaan di 
sisi Rabbnya bukan kesenangan duniawiyah yang hanya sesaat. Ia tidak akan surut 
mengambil sebuah pilihan walau beresiko berat.  
4.      Penjagaan Kader Dakwah (Ri'ayatul Junud)
Pilihan juga terkait dengan generasi mendatang. Saat pilihan itu muncul maka 
pengamatan akan warisan bagi generasi mendatang juga menjadi hal yang patut 
diperhitungkan. Karena Islam memandang generasi mendatang sebagai pewaris 
dakwah ini yang akan menindak lanjuti tugas dan peran generasi sebelumnya. 
Sehingga kader dakwah yang sangat mahal itu dapat terselamatkan atas dampak 
buruk dari sebuah pilihan. 
Dalam pandangan dakwah, kader merupakan asset yang luar biasa. Tidak dapat 
diukur dari sudut pandang material. Karena itu sewaktu ada kecelakaan kendaraan 
bermotor yang menimpa kader-kader dakwah seorang ulama dakwah sangat antusias 
menanyakan nasib murid-muridnya dan ikhwah yang mengalami musibah tersebut 
ketimbang menanyakan keadaan kendaraan miliknya meski kendaraan tersebut baru 
dibeli. Baginya seorang kader lebih berharga dari pada harta benda lainnya. 
Satu kader sangat mahal untuk dihargakan. Karena kualitas kader sama dengan 
sejumlah besar orang kafir. Bisa perbandingannya dua, sepuluh, seratus, seribu 
bahkan sekelompok orang.
Secara umum ajaran Islam mengarahkan agar memperhatikan nasib generasi yang 
akan datang. Karena merekalah nantinya yang akan melanjutkan dan menyempurnakan 
tugas yang diemban generasi sebelumnya. "Dan hendaklah takut kepada Allah 
orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang 
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu 
hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan 
perkataan yang benar".  (QS. An-Nisa': 9) Oleh karena itu perjalanan hijrah 
Rasulullah SAW. dilakukan setelah sekian banyak kaum muslimin datang ke Madinah 
terlebih dahulu. Kaum muslimin itulah yang pantas untuk mendapatkan tempat yang 
lebih layak dari sisi penjagaan dan keamanan.   
Begitu penting sebuah pilihan dalam pandangan dakwah, sehingga Islam memberikan 
patokan (Ad Dhawabith) untuk memilih. Ia sebagai koridor agar menghasilkan 
pilihan yang tepat. Patokannya diantaranya: Pertama, Nilai-nilai Ketuhanan (Al 
Qimatur Rabbaniyah), Untuk menentukan sebuah pilihannya patokan yang diajarkan 
Islam adalah nilai-nilai ketuhanan. Artinya menilai sesuatu berdasarkan pilihan 
Allah SWT. bukan menurut kecenderungan dan kepentingan sesaat. Sekalipun 
resikonya tidak ringan. Namun yang perlu diingat bahwa pilihan Allah SWT. akan 
menghantarkan pada kebaikan dan kemuliaan. Sebagaimana yang diceritakan 
Rasulullah SAW. tentang Masithah, wanita pembantu istana Firaun yang beriman 
kepada Allah SWT. Lantaran itu ia dieksekusi mati di kuali panas berisi minyak 
goreng mendidih. Saat akan menjalani eksekusinya ada rasa ragu dan takut. 
Perasaan itu menyelimuti dirinya. Hingga Allah SWT. memberikan keajaiban pada 
anaknya untuk berbicara. Sang anak mengingatkan 'wahai ibu, sesungguhnya itulah 
tempat kemuliaan kita, jangan takut jangan ragu majulah wahai ibu'.  
Kedua, Kesinambungan Dakwah (Istimrariyatud Da'wah), suatu pilihan juga harus 
mempertimbangkan kelangsungan dakwah. Bagaimana nasib dakwah ini ke depan. 
Apakah akan tegak kokoh atau rapuh lalu mati. Sebab dakwah merupakan 
representasi umat ini. tegak dan tidaknya amat mempengaruhi ruang gerak dan 
dinamika umat. Oleh karena itu pada masa Rasulullah SAW. keinginan sebagian 
sahabat yang akan mendeklarasikan keislamannya dicegah. Karena pertimbangan 
kelangsungan dakwah di kemudian hari. Bahkan Rasulullah SAW. melihat upaya 
deklarasi keislaman sebagai tindakan kontra produktif. Karena itu beliau 
meminta beberapa sahabat untuk kembali ke kampung halamannya  untuk 
mendakwahkan Islam kepada masyarakatnya. Seperti yang diperintahkan beliau 
kepada Abu Dzar Al Ghifari. Ternyata apa yang dilakukan Abu Dzar RA. sangat 
produktif dengan dibuktikan sepuluh tahun berikutnya, suku Ghifari datang 
berbondong-bondong ke Madinah menyatakan keislamannya. Itu semua hasil dakwah 
sahabat yang dikembalikan pada asal daerahnya (ta'shil maqar).
Itulah pnadangan Syaikh Munir Muhammad Ghadhban dalam bukunya Manhaj Haraky Fi 
Siratin Nabawiyah. Syaikh menyatakan bahwa Rasulullah SAW. selalu mengambil 
sebuah keputusan atas pertimbangan kelangsungan dakwah dan efeknya terhadap 
dakwah. Bila sangat membahayakan kelanjutan dakwah maka beliau tidak akan 
memilihnya sebagai kehati-hatian beliau dalam memandang satu persoalan.   
Ketiga, Kemashalahan Bersama (Al Mashalihul Ammah) Sebuah pilihan juga 
ditentukan atas pertimbangan kemashlahatan bersama. Sehingga lahirlah rumusan 
mana yang lebih mendatangkan mashlahat dan mudharat. Jika kemudharatan yang 
akan muncul maka rumusan adalah pilihan mana yang lebih ringan mudharatnya. 
Inilah pilihan buruk dari yang terburuk. Melalui cara penilaian ini kita 
dituntut untuk mengerahkan kemampuan berpikir dan menilai agar mendapatkan 
rumusan yang pas.  
Keempat, Doa, Rasulullah SAW. telah memberikan arahannya saat harus memilih 
dengan berdoa pada Allah SWT. agar terhindar dari pilihan buruk. Beliau 
melakukan shalat istikharah dua rakaat dilanjutkan dengan memohon petunjuk-Nya 
agar mendapatkan pilihan yang baik bagi kemashalatan agama, diri, finansial dan 
akibatnya serta memohon dihindarkan dari pilihan yang buruk bagi agama, diri., 
finansial dan akibatnya. (HR. Bukhari). 
Jika dhawabith ini menjadi sudut pandang kader maka kita tidak perlu bingung 
untuk menentukan sebuah pilihan meski pilihan-pilihan sulit. Termasuk saat kita 
harus memilih siapa yang kita pilih sebagai pemimpin kita dalam bermasyarakat, 
berbangsa dan bernegara. Dan mereka yang terbiasa mengambil langkah tepat dalam 
memilih merekalah sebagai umat pilihan. Bukankah kita umat pilihan?. Wallahu 
'alam bishawwab. 
 

Wassalaam,
A.Ghoffar
 
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of 
suhana032003
Sent: Tuesday, June 26, 2007 10:11
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam] Re: Dosakah Mencalonkan Pemimpin yang Korup?



wa'alaykum salam..

Memilih calon yg terbaca akan lakukan korup, berarti membuka ladang
baru bagi koruptor untuk mengkorupsi lebih banyak dan otomatis bahu
membahu dalam kedzoliman terhadap rakyat.

Memilih calon yg sama sekali tidak diketahui identitasnya, berarti
sedang melakukan kecerobohan, dan sedang melakukan tindakan kebodohan,
yg otomatis pula melakukan kedzoliman tanpa sadar karena kebodohan.

Jika ingin menetapkan satu pilihan, alangkah baiknya mengetahui dengan
jelas identitas orang yg akan dipilihnya tersebut dengan secara
mendetail. atau lebih baik diam, jika suatu saat baru sadar dan
menyesal sudah melakukan kebodohan, karena memilih orang dzolim untuk
memimpin.

Apa yg kita pilih, suatu saat akan dipertanggunjawabkan dan
dipertanyakan mengapa kita memilih..?? jadi..bila ingin melakukan
pemilihan or melakukan sesuatu tindakan, harus diketahui secara jelas
apa yg sedang kita kerjakan tsb, karena apa yg kita putuskan saat ini
merupakan salah satu andil perbuatan seseorang yg kita pilih kelak.
dan perbuatan orang yg kita pilih itu, bisa saja kebajikan or kedzoliman. 

maka siap-siaplah menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas apa yg
sudah kita pilih, karena bisa jadi..kita punya andil pahala or andil
dosa.:) 

salam
hana

--- In syiar-islam@ <mailto:syiar-islam%40yahoogroups.com> yahoogroups.com, A 
Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr wb,
> 
> Saya heran juga melihat kekayaan para calon gubernur
> DKI saat ini. Fauzi (pegawai negeri) kekayaannya Rp 40
> milyar sementara Adang yang polisi Rp 28 Milyar.
> 
> Dari mana mereka bisa sekaya itu?
> 
> Kalau dari gaji, seandainya mereka kerja dari umur 20
> tahun selama 40 tahun dengan gaji Rp 30 juta per
> bulan, maka paling banter mereka hanya dapat Rp 14,4
> milyar saja. Ayah saya sendiri yang pensiunan pegawai
> negeri dengan pangkat equivalen dengan Mayor Jendral
> hartanya tak lebih dari Rp 500 juta. Padahal kami
> hidup sederhana dan tidak sekolah di sekolahan yang
> elit (cuma sekolah negeri). Jadi terus terang saya
> sekali lagi heran dengan prestasi mereka menumpuk
> kekayaan?
> 
> Kiranya bukan hanya KPUD saja yang memeriksa total
> kekayaan. Tapi harusnya KPK juga meneliti dari mana
> kekayaan tersebut di dapat. Apakah dapat warisan,
> usaha sampingan, atau dari jalan yang haram? Apalagi
> setahu saya para pejabat tidak dibolehkan untuk
> berbisnis. 
> 
> Allah saja ketika menghisab manusia tidak hanya
> menghitung total kekayaan. Tapi darimana kekayaan itu
> didapat dan kemana kekayaan tersebut digunakan. Apakah
> kekayaan itu didapat dengan jalan halal dan dihabiskan
> untuk sedekah. Atau didapat dengan jalan haram dan
> digunakan untuk menumpuk kekayaan dan foya-foya? Orang
> yang menumpuk harta kekayaannya dengan korupsi dan
> untuk foya-foya tidak akan punya kepedulian pada
> rakyat.
> 
> Seandainya uang itu haram, maka mencalonkan dan
> memilih orang tersebut juga haram. Tadi pagi ada
> ceramah yang bilang bahwa orang yang membantu orang
> lain melakukan kejahatan, maka dia juga berdosa.
> Kemudian ada hadits yang menyatakan bahwa dalam
> kejahatan riba, bukan hanya pelaku riba saja yang
> berdosa, tapi juga penulis dan saksinya. Kenapa?
> Karena jika calon tersebut adalah koruptor, maka
> ketika mendapat kekuasaan lebih dia akan korupsi lebih
> hebat lagi.
> 
> Maka berdosalah orang yang mencalonkan dan memilihnya
> jika dia tahu ada yang aneh dengan kekayaan calon yang
> dia dukung, tapi dia tidak berusaha mencari tahu
> apakah harta calonnya itu halal/haram. Menjauhi
> syubhat itu lebih utama.
> 
> Lebih baik memililh pemimpin yang cerdas, amanah,
> jujur, bersih, dan sederhana ketimbang memilih calon
> yang kaya tapi korup.
> 
> Pada akhirnya niat dakwah yang ada pada aktivis parpol
> Islam hendaknya tidak luntur. Jangan sampai semboyan
> bersih dan dakwah akhirnya berganti jadi "Berani Kotor
> itu Bagus" seperti kata seorang seniman.
> 
> Kita berharap ada kejelasan informasi kekayaan
> calon-calon pemimpin kita. Mudah-mudahan didapat dari
> jalan yang halal.
> 
> Wassalamu'alaikum
> 
> ===
> Kekayaan Fauzi Rp 40 M, Adang Rp 28 Miliar - KOMPAS
> CYBER MEDIA
> Daftar kekayaan ini juga akan diumumkan di depan
> perwakilan parpol pengusung para calon. Adang-Dani
> diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Fauzi
> ...
> www.kompas.com/ver1/Pilkada/0706/15/030346.htm
> 
> 
> ===
> Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
> Kirim email ke: syiar-islam- <mailto:syiar-islam-subscribe%40yahoogroups.com> 
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
>
__________________________________________________________
> Got a little couch potato? 
> Check out fun summer activities for kids.
>
http://search. 
<http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz>
 yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
>



 





NOTICE - This message and any attached files may contain information that is 
confidential and intended only for use by the intended recipient. If you are 
not the intended recipient or the person responsible for delivering the message 
to the intended recipient, be advised that you have received this message in 
error and that any dissemination, copying or use of this message or attachment 
is strictly forbidden, as is the disclosure of the information therein. If you 
have received this message in error please notify the sender immediately and 
delete the message.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke