Saat ini orang lebih takut azab dunia berupa AIDS yang
waktunya paling cuma 20 tahun ketimbang azab neraka
yang lebih kekal.


--- yusuf rinaldy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya pernah mengikuti sebuah seminar tentang
> pencegahan HIV/AIDS. Instrukturnya saat itu berasal
> dari sebuah yayasan yang beranggotakan dokter-dokter
> dari Surabaya. Isi dari seminar itu adalah
> pentingnya melindungi diri saat berhubungan intim
> dengan menggunakan kondom. Selain itu juga
> pentingnya memperlakukan pengidap HIV tanpa
> memandang negatif terhadap mereka. 
>   Saat sesi tanya jawab, saya coba bertanya tentang
> mengapa dalam setiap iklan tentang pencegahan HIV/
> AIDS selalu disebutkan pentingnya memakai kondom
> saat berhubungan. Dengan sedikit protes saya
> bertanya mengapa tidak dikedepankan pentingnya
> berhubungan intim hanya dengan istri atau suami yang
> sah. 
>   Jawabannya ternyata jauh dari harapan saya. "Ya
> memang kalau bisa seperti itu lebih baik, tapi kan
> kadang seseorang melakukan dengan orang lain, nah
> merekalah yang harus memakai kondom,"itu jawaban
> mereka. Tampaknya mereka sengaja mengambangkan
> jawaban dari perntanyaan saya
>   Akhirnya saya berkesimpulan bahwa para instruktur
> seminar itu yang kebetulan bukan muslim terlalu
> mengedepankan ilmu pengetahuan dibandingkan
> ketetepan Allah Subhanahuwata'ala. Begitulah kalau
> dokter tapi nggak ada dasar iman yang kuat
> 
> Merza Gamal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Sebelum masa reformasi, kondom dikenal
> sebagai salah satu alat kontrasepsi dalam program
> Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah.
> Iklan kondom di media televisi dialkukan dengan
> bahasa isyarat yang masih malu-malu. Namun di era
> ekonomi baru saat itu telah terjadi perubahan
> signifikan dalam penampilan iklan kondom. Jika
> dahulu digambarkan dengan seorang suami yang
> malu-malu menangih sesuatu pada sang istri sebagai
> pasangan resminya, maka pada saat ini iklan kondom
> digambarkan tanpa malu-malu lagi.
> 
> Sebuah iklan kondom di televisi menceritakan
> sekelompok laki-laki muda mengendarai beberapa
> motor. Kelihatannya mereka akan bersenang-senang.
> Salah satu dari mereka mengajak untuk membeli
> antibiotik di sebuah toko obat. Pelayan di toko obat
> bertanya, antibiotik itu untuk apa? Para lelaki muda
> itu mejawab bersamaan : Supaya terhindari dari HIV.
> Lalu si pelayan di toko obat mengatakan yang bisa
> mencegah HIV bukan antibiotik tapi kondom. Dengan
> demikian fungsi kondom bukan lagi sebagai alat
> kontrasepsi untuk sebuah program Keluarga Berencana,
> namun sebagai sebuah alat penjaga kesehatan. 
> 
> Arti yang lain, iklan tersebut tidak mempersoalkan
> hubungan seks yang kemungkinan besar akan dilakukan
> para lelaki itu, dengan pasangan resminya atau
> bukan. Iklan itu lebih mementingkan kesehatan
> pelaku. Mencegah HIV yah dengan kondom bukan dengan
> antibiotik.
> 
> Memang itu iklan tersebut adalah sosialisasi dari
> pemakaian kondom sebagai salah satu pencegah
> penularan HIV. Kalau kita menilik lebih jauh, iklan
> tersebutkan memberi contoh kehidupan seks bebas.
> Tidak berbeda dengan iklan kondom komersil, dimana
> diperlihatkan seorang lelaki dan perempuan membeli
> kondom lebih dulu disebuah swalayan berbeda sebelum
> masuk di tempat semacam café/bar/diskotik. Kemudian
> ketika bertemu, duduk berangkulan lalu berdiri
> meninggalkan tempat tersebut sambil tetap
> berangkulan. Dan yang lebih mencengangkan lagi
> sebuah iklan kondom yang menggambarkan remaja ABG
> yang akan "hang out" dengan memakai helm sebagai
> simbol keamanan dan dibumbui dengan kata-kata
> "cewek-cewek sukanya yang aman" kemudian diikuti
> dengan penampilan kondom merk terkenal. 
> 
> Saya hanya bisa mengurut dada menyaksikan
> iklan-iklan tersebut yang mengartikan bahwa media
> televisi sudah mensosialisaikan kehidupan seks bebas
> di Indonesia. Dan yang lebih menyedihkan iklan-iklan
> tersebut bisa muncul kapan saja, bukan pada jam
> tayang tengah malam. Saya punya anak-anak yang masih
> kecil-kecil dan sangat mudah meniru hal-hal yang
> belum konsumsi mereka. Saya atau istri saya mungkin
> bisa mematikan televisi jika sedang berada di rumah
> atau pada acara-acara jam dewasa. Tapi sehari itu
> ada 24 jam dan tidak setiap saat kami bisa
> mengontrolnya. Dan jika anak dilarang sama sekali
> tidak menonton TV, apakah itu sebuah tindakan yang
> bijak, sementara semua teman sebayanya juga sedang
> senang-senangnya menonton TV???
> 
> Apakah memang pada era ekonomi baru saat ini,
> kegiatan ekonomi harus bebas nilai??? Apakah nilai
> kesehatan lebih tinggi dari nilai moral (yang
> diajarkan oleh agama manapun) dalam menjual sebuah
> produk ekonomi??????
> Mungkinkah saya harus seperti Ebiet G Ade untuk
> menanyakan pada rumput yang bergoyang??? Sedangkan
> rumput pun sudah sulit ditemukan saat ini.........
> 
> Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi
> Islami)
> 
> 
> ---------------------------------
> Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet
> in your pocket: mail, news, photos & more. 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Got a little couch potato? 
> Check out fun summer activities for kids.
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]


       
____________________________________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for 
today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow  

Kirim email ke