Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Dari: -
  Tanggal: Tue, 10 Jul 2007 20:43:59 -0700 (PDT)
Topik: Re: [dzikrullah] Memahami Allah
   
    Assalamu alaikum wr wb
   
  Ulasan saudara Dody Ide sangat menarik dan mengetuk pikiran dan hati saya. 
Kebetulan saya bukan ilmuwan kondang, bukan pula peneliti agama yang mumpuni, 
bukan pula profesional yang unggul, ketiga sisi itu saya hanya 
  sekedar tahu saja.  
   
  Saya hanya ingin berbagi pemahaman - yaitu bahwa Allah SWT Maha Adil dan 
lain-lain serba Maha. Allah menyiapkan begitu banyak "pintu masuk"untuk 
memahami keberadaan-Nya untuk setiap jenis dan kelas dan status manusia. 
  Ilmuwan ulung seperti Einstein (Yahudi, tapi SD Kristen, sangat suka musik 
klasik) setelah sepanjang hidupnya bergelut dengan sains di lab dan di panggung 
kuliah ahirnya mengatakan "science without religion is lame".
   
  Takdir Alisyahbana yang "agnostik"pada penghujung hayatnya "menyadari" 
kebesaran Allah ketika selamat dari kecelakaan pesawat terbang. 
   
  Rendra "terbuka"  hatinya kepada Islam setelah bergelut sekian lama dalam 
keindahan syair dan puisi. 


  Saya percaya bahwa ada saja pedagang besar atau bahkan petani kecil yang 
"memahami" Allah melalui keadilan pembagian rezeki oleh-Nya kepada orang 
  yang berbeda status sosialnya.
   
  Jenis manusia lain adalah seperti yg disebut mas Dody "pejalan spiritual" 
yang dari awal sudah "mengenal" Allah (?) dan mengambil dari dunia hanya 
sekedar 
  asal cukup saja.
   
  Pintu masuk mana kepada memahami Allah (atau Islam - atau agama lain) yang 
dapat ditempuh seseorang adalah sangat banyak - Allah memang Maha Adil - 
  ditunjukkan-Nya pintu kepada-Nya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. 
Beruntunglah dia yang terus mencari pintu itu lalu dibukakan-Nya.
   
  Semoga pintu itu selalu terbuka lebar bagi kita semuadengan nama atau dari 
sisi kehidupan apapun.

Semoga bermanfaat. 
Wallahu a'lam bishshawab.
   
  Syarif
  ==========
  
 
  From: DODY ISKANDAR dinata <dody_ide........>
Subject: Memahami Allah



  Memahami Allah
   
  Para ilmuwan laboratoriumnya di luar diri, modalnya berfikir.
  Para pejalan laboratoriumnya di dalam diri, modalnya berkeyakinan.
  Sama - sama mencari kemantapan rahasia hidup...
  Siapakah yang cepat sampai ?
   
  Abad 21 adalah titik klimaks sebuah pencarian manusia terhadap Tuhannya. Di 
belahan bumi India para maha guru spiritual menganggap abad ini adalah ttitk 
ordinat peredaran simetris ter! baik antara jagad mikrokosmos dengan 
makrokosmos sehingga orang akan mudah belajar mengenai ketuhanan. Di belahan 
barat para intelektual kebingungan mencari titik perhentian karir, titik Tuhan, 
God spot. Para spirilogic mengkotak - kotakkan IQ, EQ dan SQ kemudian 
menganggapnya sebagai sebuah temuan besar yang harus dipatentkan guna sebuah 
urusan professional alias imperium perut. Tak ketinggalan para pecinta dunia 
berusaha meluruskan konsep bisnisnya dengan Spiritual Capital. Psikolog tak 
kalah anehnya menyederhanakan puluhan teori usang menjadi sebuah teori flow, 
pasrah mengalir sajalah agar mampu mencapai authentic happiness.


  Bagaimana dengan dunia Islam, khususnya di Indonesia ? Tentu tak kalah unik...
  Terkad! ang akhir -akhir ini saya merasa agak geli ketika melihat buku-buku 
baru atau hot topic di internet kok semua bahasan mengenai kebenaran Allah 
harus dilegalisasi dulu oleh ilmu pengetahuan moden, entah itu fisika, kimia , 
biologi, kedokteran dan semacamnya. Seakan-akan walau memperoleh manfaat sebab 
dari bertaqarub dengan Allah tetapi dilain hal nggak ilmiah, maka kita akan 
tertolak, sesat. Sebuah pertanyaan ke dalam diri, sejak kapan sih seorang 
muslim harus menunggu legalisasi logis formal untuk memperoleh spiritual 
journey sebuah ayat ? Apakah hanya karena sebuah alasan modernitas ilmiah maka 
kita harus mengalahkan keyakinan akan manfaat sebuah perjalanan ? Padahal 
sejauh dan secanggih saat ini, kalau sudah sudah membahas sebuah agama, ilmu 
pengetahuan hanya bisa berputar -putar di wilayah hipotesa, tesis, disertasi 
dan rumusan-rumusan tanpa bisa lebih jauh masuk menjadikannya sebuah inti 
perjalanan.


  Sebagai contoh seorang Einstein atau Stephen Hawking dan kawan-kawan 
seprofesi bisa saja merumuskan hukum melipat waktu, konsep black hole, big bang 
ataupun teori kecepatan cahaya dan semua itu memang relatif berbanding benar 
dengan ayat Quran. Tetapi tanpa mengurangi rasa hormat, apakah beliau-beliau 
ini bisa mengalami, mengaktifkan dan menjalankannya ? Apakah beliau seorang 
pejalan atau masih terhenti sebatas pemikir ? Padahal di kalangan pejalan 
spiritual muslim yang banyak bertebaran di Malang pinggiran, Jember, 
Banyuwangi, dan banyak titik lagi di penjuru Nusantara, hal itu sudah menjadi 
realitas perjalanan. Dan tentu saja Rasulullah Muhammad adalah panglima pelipat 
waktu, pengajar sejati metode perjalanan kecepatan cahaya ini dengan pembuktian 
peristiwa Isra Mi'raj. Dalam hal ini Abubakar yang terkenal cerdas dan sidiq 
langsung mengiyakan tanpa banyak riset. 
   
  Inilah yang dinamakan konsep iman. Percaya dan akhirnya harus mengalami 
sendiri.
   
  Anehnya kalau kejadian semacam ini sebenarnya tetap ada dan saya ungkapkan 
seperti sekarang, mungkin orang yang terbiasa kritis dan sangat ilmiah malah 
menarik mundur jam waktu, menyetel mindset seperti pendeta menghadapi Galileo, 
menyelidiki siapa penulis penyebar berita awu -awu ini.. Ah itu sihir... jin 
beserta kemampuan tehnologinya ... Kita berbalik 180 derajat menjadi penuduh 
yang tercerabut dari tradisi ilmiah dan keakhlakan. 
   
  Pertanyaan dasar, bagaimana mungkin jin bisa secanggih itu, padahal menurut 
Islam hanya manusia saja mahluk yang berakal. Lalu bagaimana mungkin sihir wong 
modalnya cuma baca La ilaha ilallah dan La haula walaquwwata ila billah plus 
puasa sunnah. Sebuah penyerahan full dan berlindung di dalam benteng Allah 
masak jin bisa masuk sih ? Sebegitu lemahkah benteng Allah untuk ditembus ? 
masak safety nya kalah sama benteng Pentagon ? Padahal para dukun KGB atau 
spiritual manapun dengan kekuatan bantuan bolo kurowo jin gendruwo ndhas 
klunthung saja nggak mampu mencuri data di Pentagon. Belum lagi kalau saya 
ungkapkan ada banyak orang yang mampu menjalankan proses materialisasi, 
menciptakan benda dengan perantara partikel udara seperti teori - teori ilmiah 
hanya bermodal meyakini komposisi ayat kun fayakun dan La haula walaquwwata ila 
billah yang dihunjamkan sampai akar keyakinan terdalam. 
   
  Begitu sederhananya aplikasi teori ayat ini sehingga kita yang hidup di jaman 
modern menolaknya karena tidak mengandung kemewahan konsep entah itu konsep 
fisika, biologi ataupun hukum fiqih. Padahal saat ini seorang anak bangsa 
Professor Johanes Surya dengan pasukan fisikawan muda yang merajai olympiade 
fisika tingkat dunia malah bercita-cita menggunakan fisika tanpa rumus. Semua 
rumus digantikan dengan prinsip dasar MESTAKUNG alias semesta mendukung dengan 
penjelasan sederhana, bahwa ketika sesuatu dalam keadaan terdesak maka seluruh 
partikel alam raya akan mendukung dan menolongnya. Hebat benar beliau. Bangunan 
pikiran yang begitu eksak menjadi non eksak sebab sebenarnya non eksak hanyalah 
sebuah bangunan eksak dengan parameter tak terhingga sehingga orang sulit 
membuat rumusan pasti. Bagi saya beliau sangat islami sekali walaupun entah KTP 
nya beragama apa.
   
  Dan, sebenarnya konsep puasa dibarengi berniat kalimat tauhid adalah konsep 
mestakung sejati yang telah diajarkan Rasul belasan abad yang lalu. Ketika 
seseorang melakukan puasa, otomatis bangunan konsep material dalam dirinya 
perlahan mulai tampak melemah. Pertama tenaga fisik yang gemagah mulai 
berkurang, kemudian otak yang katanya cerdas pun menurun gelombang 
frekwensinya. Kewaspadaan terhadap dunia luar mulai berkurang namun kewaspadaan 
ke dalam diri semakin bertambah tingkat kekonsentrasiannya. Lambat laun hanya 
dengan sebuah proses latihan mengikhlaskan sebuah pengakuan bahwa kita benar 
-benar nggak punya kekuatan. Blesss...semesta mendukung apa yang kita 
maui...tiba - tiba kesuperpoweran diri terkuak, semua seperti mimpi yang 
terkendali penuh dengan kekuatan lintas dimensi, entah dimensi benda, dimensi 
akal, dimensi ruang ataupun dimensi waktu....semua ada dan dapat kita 
gunakan...kata pedagang Padang, dipilih... dipilih... dipilih... tinggal 
pilih... tinggal
 pilih... tinggal pilih.... Semua adalah imajinasi yang mewujud mengikuti 
Kehendak. Kun fayakun...
   
  Tapi ini adalah sebuah perjalanan yang masih bersifat Isra' yang harus 
diteruskan menuju perjalanan Mi'raj. Sebab banyak sekali orang yang mengalami 
pembebasan konsep diri melalui ke Isra' an ini lalu menganggap sebagai puncak 
pencapaian karena memang di sinilah digelar dengan nyata senyata-nyatanya 
segala kemampuan sang masterpiece, menungso. Perjalanan Isra adalah konsep 
perjalanan horizontal yang kita sebut hablumminannas dimana semua pencapaiannya 
masih bersifat kebutuhan dunia itu sendiri entah yang terwujud dalam ilmu 
ekonomi, politik, budaya, pengobatan, hukum fiqih, fisika biologi, olah raga 
bahkan kebatinan yang sering dianggap orang sebagai ilmu kegaiban langit. 
   
  Dan pada kenyataannya semua ilmu itu memang hanya berlaku dan berguna selama 
nafas masih di kandung badan, urusan habluminannas. Sebab setelah kehidupan 
dunia ini usia yang berlaku hanyalah urusan Mi'raj. Ruh yang kembali, jiwa yang 
tenang.
   
  Benar adanya bahwa nanti yang dipertimbangkan terlebih dahulu amal seseorang 
adalah kebenaran sholatnya, bukan modal kapital, keringat atau akal karena 
ketiganya harus balik maning ke bumi untuk dimanfaatkan generasi selanjutnya. 
Untuk itulah kemudian diperlukan konsep Mi'raj.
   
  Lalu bagaimana konsep Mi'raj itu sendiri ? Mi'raj adalah kumpulan ingatan 
kepada Allah yang di rangkum dalam ibadah sholat. Sholat itu Mi'raj nya orang 
mukmin...begitu kata Rasul. Lebih begitu sederhananya lagi konsep ini sehingga 
orang yang berada di wilayah Isra' pun terkadang malah tak percaya, sebab orang 
sudah terbiasa dengan alam yang aneh-aneh dan menara gading pikiran.
   
  ! Konsep Mi'raj sangatlah mudah... Ingatlah, ya, cuma mengingat.....mengingat 
tidak ada rumusannya selain mengurut kejadian ke belakang, bukan malah menebak 
ke depan...hanya dengan MENGINGAT Allah-lah hati menjadi tenteram ( RA'D :29 ). 
Jadi parameter orang yang ingat pernah bertemu Allah ya sederhana saja, jiwanya 
selalu tenang walau menghadapi berbagai persoalan hidup 
   
  Tapi bagaimana mau ingat wong ketemu aja nggak pernah ? Contoh semisal, saya 
ingat kalau putri Diana adalah teman saya waktu kecil, sebab memang dulu pernah 
bertemu akrab bahkan selalu mengendarai kuda bersama. Lha kalau waktu kecil 
nggak pernah ketemu, apanya yang harus diingat ? Masak saya harus ngaku-ngaku 
dan pura -pura ingat bahwa dulu pernah akrab dan selalu bertemu di Istana. 
Untungnya Allah begitu mahfum bahwa daya ingat otak kita yang pandai ini 
ternyata masih sangat cekak. Untuk itu dengan murahnya Allah menjelaskan bahwa 
kita pernah berhadapan langsung. 

  "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari 
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya 
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan 
kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari 
kiamat kamu tidak mengata-kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah 
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" ( Al A'raf 172 ). 

   
  Maka ber Mi'raj lah dengan membahas dan memahami Allah dengan cara yang 
sangat sederhana yaitu mengingat-ingat - merunut kebelakang mencari asal muasal 
kejadian diri dengan metode berdzikir. Masalah saya dan Anda hanya bisa 
mengingat sebatas NamaNya, SifatNya, IlmuNya, atau CiptaanNya saja ya nggak 
masalah. Allah Maha Memahami kok. 
   
  Selama berniat untuk yakin bisa berjumpa dengan Allah, nanti  lama-lama 
keyakinan itulah yang membimbing pada tujuan akhir dengan sebuah proses yang 
unik tak terduga. Pun seandainya kita sudah bisa menyaksikan Dzatnya sebagai 
konsekuensi kelanjutan ada nama pasti ada yang dinamai, lebih baik disimpan 
saja sebagai kenangan terindah sebab kalau diomongkan nggak akan pernah ketemu, 
malah - malah hilang nikmatnya plus berakhir hanya sekedar jadi fitnah dan 
kehebohan yang tak bermakna. 

Biarkan ban luar tetap berada diluar, ban dalam tetap di dalam dengan penuh 
angin agar roda kehidupan tetap berputar dengan baik.
   
  Wassalam, Semoga bermanfaat
   
  Dody Ide
   
  Proses Isra lebih dari tujuh samudra tinta tertulis
  Poses Mi'raj lebih dari tujuh samudra tinta terhapus
  Ketika tiada yang tertulis maka tak ada yang terbaca
  Maka muncullah sang ummi yang bersyahadat di sudut keheningan....
   
   
   

                
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
 http://id.mail.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke