Assalamu'alaykum wr.wb. Mas io,
aku jawab satu persatu dech.. mba rita pha khabar? titip mas ku di MW ya..:) memang benar, bahwa menggunakan baju panjang dan penutup kepala adalah kebiasaan wanita bangsawan di timur tengah dahulu, termasuk wanita2 arab, yg didalamnya ada umat yahudi dan nasrani. aku mau mengutip penjelasan dari Dr. Eliwati Maliki, Ahli fiqh lulusan madinah, yg menerangkan riwayat turunnya ayat (An-Nuur : 31) Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Ayat itu turun, karena kebiasaan wanita2 arab dahulu yg menutup kepalanya, namun tidak menjulurkannya hingga ke dada, namun mengikatkan kerudungnya ke belakang dan membiarkan dada dan perhiasaan yg dipakai itu terlihat umum. hingga turunlah ayat itu, namun berhubung hanya diyakini oleh kaum muslimahnya saja yg kemudian langsung mengulurkan kerudungnya hingga ke dada, sedangkan wanita2 yahudi dan nasrani tetap dengan kebiasaannya, yaitu tidak menjulurkan kerudung itu hingga ke dada, namun hanya dilampirkan ke belakang saja. spt Bunda Theresia dan para suster2 -:) pak irwan, penyebutan istilah kafir bagi orang2 di luar muslim, itu adalah hal yg biasa. bahkan orang2 quraish yg merupakan satu suku dengan Rasulullah pun di beri identitas kafir quraish, apabila mengingkari ketuhanan Allah dan ke Rasulan Muhammad. Yg tidak boleh adalah, menisbatkan label tersebut kepada sesama muslim yg masih mengakui Allah dan RasulNya, serta konsekuen di jalanNya-:) Hmm..dalam Islam yg diajarkan oleh Rasulullah dan diteruskan oleh para sahabat, semua identitas seseorang itu jelas..yaitu istilah kafir diberikan kepada orang2 yg menolak dan menentang Allah juga RasulNya, istilah Munafik diberikan kepada orang2 muslim yg enggan menjalankan perintah Allah dan RAsulNya, dan istilah Musyrik diberikan kepada orang2 yg melakukan penyembahan kepada berhala2 (tuhan2 selain Allah), dan Fasiq diberikan kepada orang2 yg malas/bodoh dalam ibadah. sedangkan, istilah non muslim dan kafir yg bapak sebutkan itu, hanya sebatas etika kebiasaan yg dilakukan oleh orang2 indonesia saat ini:) yg intinya sama saja, sedangkan aku pribadi lebih suka yg jelas2 -:) ibu sofie, Jika dalam berdakwah, kita selalu saja terhenti hanya karena komentar2 orang2 sekitar, lalu apa artinya dakwah itu?? menyampaikan kebenaran itu dasarnya adalah jelas yaitu Al-qur'an dan hadist, namun apabila kita mempertimbangkan kebenaran hanya karena ketidak enakan pendapat orang2 sekitar kita, lalu apakah kebenaran itu harus mengikuti kenyamanan orang2 sekitar?? hmm..menyampaikan kebenaran itu memang bukan spt menyampaikan sesuatu yg selalu enak di dengar dan di rasa, namun lebih banyak tidak enaknya untuk dilakukan karena dominan bertentangan dengan hawa nafsu yg ada dalam diri kita. Nabi Ibrahim terputus dengan ayahnya hanya karena menyampaikan kebenaran Allah (Tauhid). begitupun dengan Nabi Nuh, Nabi Luth yg harus terputus dengan semua keluarganya hanya untuk menyampaikan kebenaran Allah (Tauhid0. dan hal serupapun terjadi pada BAginda Rasulllah Muhammad SAW, yg harus terputus dengan pamanya Abu Tholib yg begitu dicintainya. ya..jika menyampaikan kebenaran harus dijauhi oleh sohib atau teman2 kita sendiri dan dilabeli sesuatu yg tidak enak di dengar oleh telinga kita, apalah artinya semua itu bila dibandingkan dengan sesuatu yg dialami oleh para NAbi dan Rasul juga kaum mukminin sebelum kita?? tugas kita sesama muslim adalah hanya sebatas saling mengingatkan, namun memasukkan hidayah untuk membuka mata hatinya adalah hak Allah, tapi..nda perlu takut kalau harus ditinggalkan oleh mereka lah..:) atau jadi risih dikatakan ini dan itu, yg penting..niat kita adalah tidak pernah melakukan hal2 yg mereka tuduhkan, selebihnya biarkan Allah yg menilai dan memutuskan:) salam hana --- In [email protected], "rsa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hana, > > ini ada tanggapa dari milis sebelah buat tulisanmu ini. tanggapi > ya ... > > salam, > satriyo > > === > > Tentu, setelah teman saya yang menulis "HARUS PAKE JILBAB LAH..:)" > menerima tanggapan anda ini, bu sofie, bu Rita, pak Irwan. > > salam, > satriyo > > --- In [EMAIL PROTECTED], "ritajkt" <ritajkt@> wrote: > > Tolong dong saya dikasih pencerahan.., > apa bener frasa "untuk dibedakan" dalam konteks thread ini > adalah "untuk dibedakan dari wanita kafir/non muslim"? > > Setahu saya nih, baju yang disebut "busana Muslimah" tersebut adalah > busana para perempuan "saleh"/"terhormat"/"dari keluarga bangsawan" > dari daratan Timur Tengah (terutama perempuan Yahudi)yang telah > dikenakan jauh sebelum lahirnya agama Islam. Jadi ketika Ayat Quran > tentang "Untuk Dibedakan" itu lahir, setting sosial pada waktu itu > ada orang Islam, Kristen dan Yahudi hidup bersama di suatu lokasi > dimana para perempuan dari KASTA sosial yang tinggi memakai busana > yang khas, berupa gaun panjang dan kerudung penutup kepala. Busana > itu diabadikan oleh para perempuan saleh dalam agama Katholik sampai > sekarang (bisa dilihat dlm foto Ibu Theresa dll). Para perempuan > Yahudi juga memakai penutup kepala pada hari besar mereka, antara > lain saat pemakaman dan upacara perkawnan karena itu memang TRADISI > mereka. > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], IrwanK <irwank2k6@> wrote: > > > > Penyebutan kata kafir, meskipun (mungkin) secara terjemahan tidak > salah, > > tetap kurang nyaman.. apalagi disampaikan di depan publik.. > > Kenapa bukan non muslim yang dipopulerkan ketimbang kafir? > > Maaf, saya sebenarnya gak punya ilmu banyak.. cuma berasa agak > ngeganjel > > aja baca/dengar kata kafir keluar dengan lancarnya.. makanya jadi > nyahut > > nih.. > > > > Tentu lain halnya kalau Alqur-an yang menyampaikan itu.. sebagai > paparan.. > > atau bahan pelajaran bagi yang membaca/mempelajarinya.. > > > > CMIIW.. > > > > Wassalam, > > > > Irwan.K > > > > On 7/12/07, candle light <lilinku@> wrote: > > > > > > alhamdulillah...aku terharu lho dg isi milismu. sayangnya aku > masih > > > belum bisa berdakwah seperti itu. soalnya aku sendiri merasa > belum pantas > > > mendakwahi orang lain. karena itu juga aku memutuskan untuk > keluar dari > > > kelompok liqo. aku ga mau kehilangan mereka, ladang dakwahku. > mereka > > > menganggap ikhwan-akhwat liqo kedudukannya jauh lebih baik di > mata Allah. > > > pdhl khan sama saja. tergantung dari amal ibadah yg notabene > hanya Allah-lah > > > yg mengetahui. gimana mnrtmu? > > > wassalam > > > - sofie- > > > > > > rsa <efikoe@ <efikoe%40gmail.com>> wrote: > > > HARUS PAKE JILBAB LAH..:) > > > > > > ini salah satu kisah kawan2ku beberapa tahun yg lalu dan belum > > > mengenakan kerudung saat itu, dan alhamdulillah saat ini semuanya > yg > > > berada di kisah itu sudah mengenakan kerudung. dan aku juga pernah > > > kenal dengan salah seorang teman wanita dari milis, pada suatu > saat > > > dia berkenalan dgnku dan ku singgung ego kewanitaannya untuk > tidak boleh disamakan dengan wanita kafir. > > --- End forwarded message --- >

