Assalamualaikum Wr. Wb.
Mari kita sejenak keluar dari pakem pembicaraan kita selama ini. Saya akan
coba mengutarakan sisi lain dari satu konsep Kesolehan Sosial.
Sebagai pengantar langsung saja saya akan membicarakan berkenaan dengan
kondisi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), ada beberapa hal yang perlu diketahui
bahwa kondisi KIA di Indonesia sangat menghawatirkan :
Setiap jam ada 2 orang ibu hamil yang meninggal berarti sekitar 1.500/bln,
atau 18.000/tahun ibu hamil yang meninggal.
Setiap jam ada 10 orang bayi meninggal sebelum berusia 7 hari, artinya
setiap bulan kita kehilangan 7.200 bayi/bulan atau 86.400 bayi/tahun.
Belum lagi kasus gizi buruk yang pernah diprediksi disuatu harian terkemuka
(saya lupa tanggalnya) bahwa kasus gizi buruk di Indonesia akan menyumbangkan
5.000.000 orang generasi pada 15 tahun mendatang, sebagai generasi yang tidak
sanggup bersaing dan bekerja karena buruknya kesehatan dan kecerdasan mereka,
ujung-unjungnya akan menambah problematika di masyarakat.
Ironisnya seperti biasa bila kita berbicara Indonesia maka angka kematian
tersebut mayoritas disumbangkan oleh masyarakat di pedesaan dan kaum papa.
Padahal bila kita berbicara KIA, maka berarti kita sedang memperbincangkan
dan merencanakan sebuah generasi.
Banyak hal yang bisa kita upayakan dalam hal penyelamatan generasi ini. Di
luar penyelamatan akhlak dan agama yang sudah banyak digembar-gemborkan oleh
seluruh pemikir Islam di negeri ini, namun jangan lupa bahwa untuk menjadikan
sebuah generasi pejuang Islam, harus didukung dengan kesehatan yang baik, sejak
dini.
Insya Alloh saya akan mencoba untuk sharing kepada ikhwan, akhwat semua
tentang bagaimana seluk-beluk kesehatan Ibu dan anak, upaya yang bisa kita
lakukan, juga tentang HIV AIDS yang telah menular bukan saja kepada para pemuja
seks bebas dan pemakai narkoba suntik namun sudah menjalar kepada masyarakat
biasa yang jauh dari semua itu.
Ini sangat penting untuk diketahui karena menurut saya Islam bukan cuma
berkutat dengan masalah Fikih, apalagi menghabiskan waktu dengan berdebat
masalah furuiyah - khilafiyah. Tidak produktif. Justru ini akan membuat kita
terbuai dan mudah diobok-obok oleh para kaum misionaris dan zionis...
Baik untuk bahasan kali ini saya akan mengangkat masalah :
SUNAT PEREMPUAN
Mudah-mudahan topik ini belum pernah diangkat sebelumnya.
Sunat perempuan sangat banyak ditemui di pedesaan. Entah dengan dalih itu
adalah satu kehormatan untuk wanita, agar bayi tersebut tidak jadi wanita
genit/centil ataupun untuk kebersihan, dll. Namun dalam hal ini saya belum
menemukan suatu nash yang bisa membenarkan sunat perempuan tersebut dari sisi
Agama Islam. (Mohon koreksi bila saya salah).
Yang terjadi di lapangan adalah sunat tersebut rata-rata dilakukan oleh dukun
beranak (paraji). Ada yang sekedar diusap untuk dibersihkan, atau dicolek-colek
kuncup klitoris bayi perempuan tersebut agar kotorannya hilang, bahkan yang
lebih banyak adalah dengan cara memotong kuncup klitoris yang sudah memang
sangat kecil (sebesar biji kacang ijo) tersebut menjadi rata
Dari sisi kesehatan ada beberapa hal yang dikhawatirkan dari tindakan
pemotongan ini :
Infeksi di daerah kemaluan bayi tersebut.
Yang lebih parah adalah bahwa byi perempuan tersebut akan tumbuh sebagai
wanita yang frigid alias dingin.
Untuk diketahui bahwa klitoris adalah sebuah ciptaan anugrah Alloh kepada
perempuan sebagai pusat berkumpulnya syaraf-syaraf kenikmatan seksual. Maka
bila benda ini dipangkas maka yang terjadi adalah bila nanti perempuan ini
berhubungan intim dengan suaminya, maka seringkali tidak akan mencapai orgasme
(klimaks). Belum lagi ditambah dengan masalah ejakulasi dini suaminya, akan
memperparah kondisi hubungan pasutri ini.
Maka tidak heran BANYAK perempuan (silahkan tanya pada saudara perempuan
ikhwan-akhwat yang sudah bersuami) yang tidak merasakan nikmatnya hubungan
pasutri, dan pada akhirnya hanya sekedar melayani suami. Syukur-syukur niatnya
ibadah, tapi bila niatnya beda, apalagi malah yang terjadi adalah para istri
tersebut mengutuk suaminya yang tidak bisa memuaskan istri, ini akan menjadi
persoalan serius dan dapat memicu persoalan lain, seperti selingkuh misalnya.
Ini realita.
Di banyak pertemuan dengan orang-orang desa mereka memang mengakui bahwa para
istri mereka seperti mohon maaf " gedebog pisang" kata orang sunda nya mah,
ketika sedang melakukan hubungan pasutri. Diaaaam nyelonjor begitu saja
katanya. Sungguh memprihatinkan.
Jangan-jangan situasi ini juga turut menyumbang merebaknya perselingkuhan
yang banyak diberitakan di media cetak dan elektronik. Karena baik suami dan
istri mencari sensasi lain yang tidak ditemukan pada pasangannya. Suami mencap
istrinya frigid, istrinya mencap suaminya ejakulasi dini dan tidak bisa
memuaskan dirinya. Siapa yang salah, ternyata bisa jadi karena kelakuan sunat
perempuan ini biang keladinya... Wallohu alam.
Untuk itu mohon bila sunat perempuan ini memang tidak ada nash yang benar dan
soheh, maka perlu diwaspadai dan diberitahukan pada seluruh keluarga kita,
khususnya yang sedang hamil untuk mewaspadai dan meyakinkan kepada siapapun
yang membantu persalinan bayinya untuk tidak melakukan sunat perempuan
tersebut, kecuali bila hanya sekedar dibersihkan tentunya.
Mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf bila banyak kesalahan.
Walafwumingkum, Wassalamualaikum Wr. Wb.
Hidayatul Firdaus
Pekerja pendamping masyarakat bidang kesehatan.
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
[Non-text portions of this message have been removed]