sdr/i yang berbahagia... pada artikel dibawah ini ada kalimat...."Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan syah (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan."...
mohon penjelasannya, 1. apakah semua umat Islam harus mengikuti Abdul Hakim bin Amir Abdat ? 2. apa konsekuensi-nya bila tidak sepaham dengan Abdul Hakim bin Amir Abdat ? terima kasih. --- In [email protected], "Suhardiono Dino" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > LeavesDERAJAT HADITS-HADTS TENTANG BACAAN WAKTU BERBUKA PUASA DAN KELEMAHAN > BEBERAPA HADITS TENTANG KEUTAMAAN / FADHILAH - FADHILAH PUASA > > > oleh > Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat > > Dibawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang dzikir atau do'a di > waktu berbuka puasa Kemudian akan saya terangkan satu persatu derajatnya > sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits) tidak > boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan syah > (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan. Kemudian saya iringi > dengan tambahan keterangan tentang kelemahan beberapa hadits lemah/dla'if > tentang keutamaan puasa yang sering dibacakan di mimbar-mimbar khususnya di > bulan Ramadhan. > > Hadits Pertama > "Artinya : "Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa > sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa > ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul 'Alim > (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami > berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha > Mendengar, Maha Mengetahui)". [Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu > Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya > Mu'jamul Kabir] > > Sanad hadits ini sangat Lemah / Dhoif > > Catatan : > Pertama : > Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin 'Antarah. > Dia ini rawi yang sangat lemah. > [1]. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo'if > [2]. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta) > [3]. Kata Imam Ibnu Hibban : Pemalsu hadits > [4]. Kata Imam Dzahabi : Dia dituduh pemalsu hadits > [5]. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya) > [6]. Kata Imam Sa'dy : Dajjal, pendusta. > > Kedua : > Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin > 'Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. > Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah > berkata : "Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali > tidak boleh berhujjah dengannya". > > Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami > dan Al-Albani dan lain-lain > > Periksalah kitab-kitab : > [1]. Mizanul I'tidal 2/666 > [2]. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami > [3]. Zaadul Ma'ad di kitab Shiyam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim > [4]. Irwaul Ghalil 4/36-39 oleh Muhaddist Al-Albani. > > > Hadits Kedua > "Artinya : Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam > apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa > Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku > berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka)". [Riwayat : Thabrani di > kitabnya Mu'jam Shagir hal 189 dan Mu'jam Awshath] > > Sanad hadits ini Lemah/Dlo'if > > Pertama : > Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. > Dia seorang rawi yang lemah. > [1]. Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu'afa : Bukan hanya satu > orang saja yang telah melemahkannya. > [2]. Kata Imam Ibnu 'Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh > diturut. > [3]. Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah ! > [4]. Saya berkata Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak > boleh adzan (lihat : Mizanul I'tidal 1/239). > > Kedua : > Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan. > [1]. Kata Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly. > [2]. Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur'ah dan Ibnu Hajar : Matruk. > [3]. Kata Imam Ibnu 'Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh > diturut (lihat Mizanul I'tidal 2/7) > [4]. Saya berkata : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani > ini di kitabnya Risalah Puasa akan tetapi beliau diam tentang derajat hadits > ini ? > > Hadits Ketiga > "Artinya : Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, > sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila berbuka (puasa) > beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu ....." [Riwayat : Abu Dawud No. > 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunniy] > > Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 > kecuali awalnya tidak pakai Bismillah. > > Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit. > > Pertama : > "Mursal, karena Mu'adz bin (Abi) Zur'ah seorang Tabi'in bukan shahabat Nabi > Shallallahu 'alaihi wa sallam. (hadits Mursal adalah : seorang tabi'in > meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tanpa > perantara shahabat). > > Kedua : > "Selain itu, Mu'adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang Majhul. Tidak ada > yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu > Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta'dil tidak menerangkan tentang celaan dan > pujian baginya". > > Hadits Keempat > "Artinya : Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka (puasa) > beliau mengucapkan : DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL 'URUQU WA TSABATAL AJRU > INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah > kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah). > [Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66. Daruquthni dan ia > mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239] > > Al-Albani menyetujui apa yang dikatakn Daruquhni.! > > Saya berkata : Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan > (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya > ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau > dikatakan hadits ini HASAN. > > Kesimpulan. > [1]. Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) > maka tidak boleh lagi diamalkan. > > [2]. Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka bolehlah > kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja). > > > BEBERAPA HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN PUASA > > Hadits Pertama > > "Artinya : Awal bulan Ramadhan merupakan rahmat, sedang pertengahannya > merupakan magfhiroh (ampunan), dan akhirnya merupakan pembebasan dari api > neraka". [Riwayat : Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asakir, Dailami dll. dari jalan Abu > Hurairah] > > Derajat hadits ini : DLAIFUN JIDDAN (sangat lemah). > Periksalah kitab : Dla'if Jamius Shagir wa Ziyadatihi no. 2134, Faidhul > Qadir No. 2815. > > Hadits Kedua : > > "Artinya : Dari Salman Al-Farisi, ia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi > wa sallam. Pernah berkhutbah kepada kami di hari terakhir bulan Sya'ban. > Beliau bersabda : "Wahai manusia ! Sesungguhnya akan menaungi kamu satu > bulan yang agung penuh berkah, bulan yang didalamnya ada satu malam yang > lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah telah jadikan puasanya > sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sunat, barang siapa yang > beribadat di bulan itu dengan satu cabang kebaikan, adalah dia seperti orang > yang menunaikan kewajiban di bulan lainnya, dan barangsiapa yang menunaikan > kewajiban di bulan itu adalah dia seperti orang yang menunaikan tujuh puluh > kewajiban di bulan lainnya. Dia itulah bulan shabar, sedangkan keshabaran > itu ganjarannya surga.... dan dia bulan yang awalnya rahmat, dan tengahnya > magfiroh (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka..." [Riwayat : > Ibnu Khuzaimah No. hadits 1887 dan lain-lain] > > Sanad Hadits ini DLAIF. Karena ada seorang rawi bernama : Ali bin Zaid bin > Jud'an. Dia ini rawi yang lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam Ahmad, > Yahya, Bukhari, Daruqhutni, Abi Hatim, dan lain-lain. > > Dan Imam Ibnu Khuzaimah sendiri berkata : Aku tidak berhujah dengannya > karena jelek hafalannya. > > Imam Abu Hatim mengatakan : Hadits ini Munkar !! > > Periksalah kitab : Silsilah Ahaadits Dloif wal Maudluah No. 871, At-Targhib > Wat-Tarhieb jilid 2 halaman 94, Mizanul I'tidal jilid 3 halaman 127. > > Hadits Ketiga > > "Artinya : Orang yang berpuasa itu tetap didalam ibadat meskipun ia tidur di > atas kasurnya". [Riwayat : Tamam] > > Sanad Hadits ini DLA'IF. Karena di sanadnya ada : Yahya bin Abdullah bin > Zujaaj dan Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakkar bin Hilal. Kedua orang > ini gelap keadaannnya karena kita tidak jumpai keterangan tentang keduanya > di kitab-kitab Jarh Wat-Ta'dil (yaitu kitab yang menerangkan cacat/cela dan > pujian tiap-tiap rawi hadits). Selain itu di sanad hadits ini juga ada > Hasyim bin Abi Hurairah Al-Himsi seorang rawi yang Majhul (tidak dikenal > keadaannya dirinya). Sebagaimana diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya > Mizanul I'tidal, dan Imam 'Uqail berkata : Munkarul Hadits !! > > Kemudian hadits yang semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Dailami di > kitabnya Musnad Firdaus dari jalan Anas bin Malik yang lafadnya sebagai > berikut : > > "Artinya :"Orang yang berpuasa itu tetap di dalam ibadat meskipun ia tidur > diatas kasurnya". > > Sanad hadits ini Maudlu'/Palsu. Karena ada seorang rawi yang bernama > Muhammad bin Ahmad bin Suhail, dia ini seorang yang tukang pemalsu hadits, > demikian diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa. > > Periksalah kitab : Silsilah Ahaadist Dla'if wal Maudl'uah No. 653, Faidlul > Qadir No. hadits 5125. > > Hadits Keempat. > > "Artinya : Tidurnya orang yang berpuasa itu dianggap ibadah, dan diamnya > merupakan tasbih, dan amalnya (diganjari) berlipat ganda, dan do'anya > mustajab, sedang dosanya diampuni" [Riwayat : Baihaqy di kitabnya Su'abul > Iman, dari jalan Abdullah bin Abi Aufa] > > Hadits ini derajadnya sangat Dla'if atau Maudlu. Karena di sanadnya ada > Sulaiman bin Umar An-Nakha'i, salah seorang pendusta (baca : Faidlul Qadir > No. 9293). > > Hadits Kelima. > > "Artinya : Puasa itu setengah dari pada sabar" [Riwayat : Ibnu Majah]. > > Kata Imam Ibnu Al-Arabi : Hadits (ini) sangat lemah ! > > Hadist Keenam. > > "Artinya : Puasa itu setengah dari pada sabar, dan atas tiap-tiap sesuatu > itu ada zakatnya, sedang zakat badan itu ialah puasa" [Riwayat : Baihaqy di > kitabnya Su'abul Iman dari jalan Abu Hurairah]. > > Hadits ini sangat lemah ! > [1]. Ada Muhammad bin Ya'kub, Dia mempunyai riwayat-riwayat yang munkar. > Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa > [2]. Ada Musa bin 'Ubaid. Ulama ahli hadits. Imam Ahmad berkata : Tidak > boleh diterima riwayat dari padanya (baca : Faidlul Qodir no. 5201). > > Itulah beberapa hadits lemah tentang keutamaan puasa dan bulannya. Selain > itu masih banyak lagi hadits-hadits lemah tentang bab ini. Hadits-hadits di > atas sering kali kita dengar dibacakan di mimbar-mimbar khususnya pada bulan > Ramadhan oleh para penceramah.[1] > > [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, > Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - > Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M] > _________ > Foote Note > [1]. Ditulis tanggal 7-11-1986 > > Sumber : > http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1099&bagian=0 > > Salam, > Dino > Salam, > Dino > --------------------------------- Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car Finder tool. [Non-text portions of this message have been removed]

