Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Mas iwan yang insyaalah dirahmati allah subhanahu wataala, Walau saya
baru belajar tentang islam, saya mencoba ikut urung rembug
Menjawab pertanyaaan mas iwan =
1. sebelum menjawab pertanyaan ini, dalam al-qu'an kita diperintah
mengecheck ( crosscheck ) kebenaran berita yang disampaikan orang lain,
apalagi hadits,,pasti pasti ada sanad dan riwayatnya dari sahabat
dan ditulis di kitab apa ?
mas iwan bisa mengecheck kebenarannya atau menanyakan kepada
ahlinya ( ahli hadits tentunya )
dan derajat keilmuan & keshahihan berita yang disampaikan
bisa dilihat dari kebenarannya.
Yang saya ketahui , sepanjang saya mendengar ceramah beliau ustd Abdul
Hakim bin Amir Abdat, beliau adalah salah satu ahli hadits di Indonesia
Namun beliau tidak maksum ( tidak lepas dari kesalahan dan khilaf )
Apabila kita mendengar hadits yang sahih dari siapapun ( termasuk dari
anak kecil sekalipun )
Maka wajib diamalkan, dan hadits yang lebih lemah/ dhoif lebih baik
ditinggalkan.
Jadi masalahnya bukan siapa yang menyampaikan dalam hal ini, tapi apa
yang disampaikan, kalau kebenaran ( al qur'an dan hadits note shahih )
Maka wajib kita terima, kecuali kita ingin menjadi golongan orang2 yang
apabila sudah datang kebenaran kepadanya namun membelakanginya.
Kita tidak harus mengikuti ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat kalau
menyimpang dari kebenaran ( al qur'an dan hadits note shahih )
Dan dalam mengikuti ustadz hakim pun kita tidak boleh taklid buta (
mengikuti dengan membabi-buta ) tapi harus disharing dengan ilmu
Mendahulukan ilmu kemudian amal
2. bagi saya pribadi, tidak ada konsekuensi apapun kalau kita
tidak mengikuti atau sepaham dengan ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat,
saya pribadi apabila kita memperoleh kebenaran ( al qur'an dan hadits
note shahih ) dari siapapun termasuk ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat,
apabila berasal dari rasulullah sallahu alaihi wasallam ( hadits dan
sunnah ) saya akan berusaha melaksanakannya dengan maksimal,
dan menjauhkan diri dari bid'ah.
Afwan kalau ada salah kata
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
adi
________________________________
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Iwan Jiunk
Sent: Wednesday, August 01, 2007 1:19 PM
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam] Re: Hadits berbuka puasa
sdr/i yang berbahagia...
pada artikel dibawah ini ada kalimat...."Maka, apa-apa yang telah saya
lemahkan (secara ilmu hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi,
dan mana yang telah saya nyatakan syah (shahih atau hasan) bolehlah
saudara-saudara amalkan."...
mohon penjelasannya,
1. apakah semua umat Islam harus mengikuti Abdul Hakim bin Amir Abdat ?
2. apa konsekuensi-nya bila tidak sepaham dengan Abdul Hakim bin Amir
Abdat ?
terima kasih.
--- In [email protected]
<mailto:syiar-islam%40yahoogroups.com> , "Suhardiono Dino"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> LeavesDERAJAT HADITS-HADTS TENTANG BACAAN WAKTU BERBUKA PUASA DAN
KELEMAHAN
> BEBERAPA HADITS TENTANG KEUTAMAAN / FADHILAH - FADHILAH PUASA
>
>
> oleh
> Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
>
> Dibawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang dzikir atau
do'a di
> waktu berbuka puasa Kemudian akan saya terangkan satu persatu
derajatnya
> sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits)
tidak
> boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan
syah
> (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan. Kemudian saya
iringi
> dengan tambahan keterangan tentang kelemahan beberapa hadits
lemah/dla'if
> tentang keutamaan puasa yang sering dibacakan di mimbar-mimbar
khususnya di
> bulan Ramadhan.
>
> Hadits Pertama
> "Artinya : "Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu
'alaihi wa
> sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka
Shumna wa
> ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul
'Alim
> (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu
kami
> berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha
> Mendengar, Maha Mengetahui)". [Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya,
Ibnu
> Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya
> Mu'jamul Kabir]
>
> Sanad hadits ini sangat Lemah / Dhoif
>
> Catatan :
> Pertama :
> Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin 'Antarah.
> Dia ini rawi yang sangat lemah.
> [1]. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo'if
> [2]. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)
> [3]. Kata Imam Ibnu Hibban : Pemalsu hadits
> [4]. Kata Imam Dzahabi : Dia dituduh pemalsu hadits
> [5]. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)
> [6]. Kata Imam Sa'dy : Dajjal, pendusta.
>
> Kedua :
> Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin
> 'Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli
hadits.
> Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah
> berkata : "Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama
sekali
> tidak boleh berhujjah dengannya".
>
> Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar,
Al-Haitsami
> dan Al-Albani dan lain-lain
>
> Periksalah kitab-kitab :
> [1]. Mizanul I'tidal 2/666
> [2]. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami
> [3]. Zaadul Ma'ad di kitab Shiyam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim
> [4]. Irwaul Ghalil 4/36-39 oleh Muhaddist Al-Albani.
>
>
> Hadits Kedua
> "Artinya : Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam
> apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu
Wa
> Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu
aku
> berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka)". [Riwayat :
Thabrani di
> kitabnya Mu'jam Shagir hal 189 dan Mu'jam Awshath]
>
> Sanad hadits ini Lemah/Dlo'if
>
> Pertama :
> Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly.
> Dia seorang rawi yang lemah.
> [1]. Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu'afa : Bukan hanya
satu
> orang saja yang telah melemahkannya.
> [2]. Kata Imam Ibnu 'Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak
boleh
> diturut.
> [3]. Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
> [4]. Saya berkata Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam
tidak
> boleh adzan (lihat : Mizanul I'tidal 1/239).
>
> Kedua :
> Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
> [1]. Kata Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr
Al-Bajaly.
> [2]. Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur'ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
> [3]. Kata Imam Ibnu 'Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh
> diturut (lihat Mizanul I'tidal 2/7)
> [4]. Saya berkata : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat
Thabrani
> ini di kitabnya Risalah Puasa akan tetapi beliau diam tentang derajat
hadits
> ini ?
>
> Hadits Ketiga
> "Artinya : Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya,
> sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila berbuka
(puasa)
> beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu ....." [Riwayat : Abu Dawud
No.
> 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunniy]
>
> Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang
ke 2
> kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.
>
> Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.
>
> Pertama :
> "Mursal, karena Mu'adz bin (Abi) Zur'ah seorang Tabi'in bukan shahabat
Nabi
> Shallallahu 'alaihi wa sallam. (hadits Mursal adalah : seorang tabi'in
> meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tanpa
> perantara shahabat).
>
> Kedua :
> "Selain itu, Mu'adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang Majhul. Tidak
ada
> yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang
Ibnu
> Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta'dil tidak menerangkan tentang celaan
dan
> pujian baginya".
>
> Hadits Keempat
> "Artinya : Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka
(puasa)
> beliau mengucapkan : DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL 'URUQU WA TSABATAL
AJRU
> INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah
> kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).
> [Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66. Daruquthni
dan ia
> mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239]
>
> Al-Albani menyetujui apa yang dikatakn Daruquhni.!
>
> Saya berkata : Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan
> (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi
padanya
> ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau
> dikatakan hadits ini HASAN.
>
> Kesimpulan.
> [1]. Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan
dloif)
> maka tidak boleh lagi diamalkan.
>
> [2]. Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka
bolehlah
> kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja).
>
>
> BEBERAPA HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN PUASA
>
> Hadits Pertama
>
> "Artinya : Awal bulan Ramadhan merupakan rahmat, sedang pertengahannya
> merupakan magfhiroh (ampunan), dan akhirnya merupakan pembebasan dari
api
> neraka". [Riwayat : Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asakir, Dailami dll. dari
jalan Abu
> Hurairah]
>
> Derajat hadits ini : DLAIFUN JIDDAN (sangat lemah).
> Periksalah kitab : Dla'if Jamius Shagir wa Ziyadatihi no. 2134,
Faidhul
> Qadir No. 2815.
>
> Hadits Kedua :
>
> "Artinya : Dari Salman Al-Farisi, ia berkata : Rasulullah Shallallahu
alaihi
> wa sallam. Pernah berkhutbah kepada kami di hari terakhir bulan
Sya'ban.
> Beliau bersabda : "Wahai manusia ! Sesungguhnya akan menaungi kamu
satu
> bulan yang agung penuh berkah, bulan yang didalamnya ada satu malam
yang
> lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah telah jadikan puasanya
> sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sunat, barang siapa yang
> beribadat di bulan itu dengan satu cabang kebaikan, adalah dia seperti
orang
> yang menunaikan kewajiban di bulan lainnya, dan barangsiapa yang
menunaikan
> kewajiban di bulan itu adalah dia seperti orang yang menunaikan tujuh
puluh
> kewajiban di bulan lainnya. Dia itulah bulan shabar, sedangkan
keshabaran
> itu ganjarannya surga.... dan dia bulan yang awalnya rahmat, dan
tengahnya
> magfiroh (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka..."
[Riwayat :
> Ibnu Khuzaimah No. hadits 1887 dan lain-lain]
>
> Sanad Hadits ini DLAIF. Karena ada seorang rawi bernama : Ali bin Zaid
bin
> Jud'an. Dia ini rawi yang lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam
Ahmad,
> Yahya, Bukhari, Daruqhutni, Abi Hatim, dan lain-lain.
>
> Dan Imam Ibnu Khuzaimah sendiri berkata : Aku tidak berhujah dengannya
> karena jelek hafalannya.
>
> Imam Abu Hatim mengatakan : Hadits ini Munkar !!
>
> Periksalah kitab : Silsilah Ahaadits Dloif wal Maudluah No. 871,
At-Targhib
> Wat-Tarhieb jilid 2 halaman 94, Mizanul I'tidal jilid 3 halaman 127.
>
> Hadits Ketiga
>
> "Artinya : Orang yang berpuasa itu tetap didalam ibadat meskipun ia
tidur di
> atas kasurnya". [Riwayat : Tamam]
>
> Sanad Hadits ini DLA'IF. Karena di sanadnya ada : Yahya bin Abdullah
bin
> Zujaaj dan Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakkar bin Hilal. Kedua
orang
> ini gelap keadaannnya karena kita tidak jumpai keterangan tentang
keduanya
> di kitab-kitab Jarh Wat-Ta'dil (yaitu kitab yang menerangkan
cacat/cela dan
> pujian tiap-tiap rawi hadits). Selain itu di sanad hadits ini juga ada
> Hasyim bin Abi Hurairah Al-Himsi seorang rawi yang Majhul (tidak
dikenal
> keadaannya dirinya). Sebagaimana diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya
> Mizanul I'tidal, dan Imam 'Uqail berkata : Munkarul Hadits !!
>
> Kemudian hadits yang semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Dailami
di
> kitabnya Musnad Firdaus dari jalan Anas bin Malik yang lafadnya
sebagai
> berikut :
>
> "Artinya :"Orang yang berpuasa itu tetap di dalam ibadat meskipun ia
tidur
> diatas kasurnya".
>
> Sanad hadits ini Maudlu'/Palsu. Karena ada seorang rawi yang bernama
> Muhammad bin Ahmad bin Suhail, dia ini seorang yang tukang pemalsu
hadits,
> demikian diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa.
>
> Periksalah kitab : Silsilah Ahaadist Dla'if wal Maudl'uah No. 653,
Faidlul
> Qadir No. hadits 5125.
>
> Hadits Keempat.
>
> "Artinya : Tidurnya orang yang berpuasa itu dianggap ibadah, dan
diamnya
> merupakan tasbih, dan amalnya (diganjari) berlipat ganda, dan do'anya
> mustajab, sedang dosanya diampuni" [Riwayat : Baihaqy di kitabnya
Su'abul
> Iman, dari jalan Abdullah bin Abi Aufa]
>
> Hadits ini derajadnya sangat Dla'if atau Maudlu. Karena di sanadnya
ada
> Sulaiman bin Umar An-Nakha'i, salah seorang pendusta (baca : Faidlul
Qadir
> No. 9293).
>
> Hadits Kelima.
>
> "Artinya : Puasa itu setengah dari pada sabar" [Riwayat : Ibnu Majah].
>
> Kata Imam Ibnu Al-Arabi : Hadits (ini) sangat lemah !
>
> Hadist Keenam.
>
> "Artinya : Puasa itu setengah dari pada sabar, dan atas tiap-tiap
sesuatu
> itu ada zakatnya, sedang zakat badan itu ialah puasa" [Riwayat :
Baihaqy di
> kitabnya Su'abul Iman dari jalan Abu Hurairah].
>
> Hadits ini sangat lemah !
> [1]. Ada Muhammad bin Ya'kub, Dia mempunyai riwayat-riwayat yang
munkar.
> Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa
> [2]. Ada Musa bin 'Ubaid. Ulama ahli hadits. Imam Ahmad berkata :
Tidak
> boleh diterima riwayat dari padanya (baca : Faidlul Qodir no. 5201).
>
> Itulah beberapa hadits lemah tentang keutamaan puasa dan bulannya.
Selain
> itu masih banyak lagi hadits-hadits lemah tentang bab ini.
Hadits-hadits di
> atas sering kali kita dengar dibacakan di mimbar-mimbar khususnya pada
bulan
> Ramadhan oleh para penceramah.[1]
>
> [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke
satu,
> Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam -
> Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M]
> _________
> Foote Note
> [1]. Ditulis tanggal 7-11-1986
>
> Sumber :
> http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1099&bagian=0
<http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1099&bagian=0>
>
> Salam,
> Dino
> Salam,
> Dino
>
---------------------------------
Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car
Finder tool.
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]