Wa’alaikum salam wr wb,
Sesungguhnya Allah memerintahkan ummat Islam membela
orang2 yang lemah yang dizalimi:

4. An Nisaa' 
75. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah
dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki,
wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini
(Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami
pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong
dari sisi Engkau!."  

Jadi agak aneh jika justru sastrawan atheist seperti
Pramudya yang melakukan pembelaan terhadap orang2
miskin lewat karya sastranya. Harusnya sastrawan
Muslim lebih baik dari itu karena itu merupakan
kewajiban dari Allah: Berjihad dengan Pena.

Mungkin sebagian ada yang betul-betul tidak peduli
sehingga menghasilkan karya sastra yang tidak ada
manfaatnya kecuali hanya sekedar hiasan/alat kosmetik.

Tapi sebagian besar lainnya mungkin kurang paham
dengan situasi politik, ekonomi sehingga tidak mampu
melahirkan karya sastra yang berbobot yang membela
orang2 lemah yang dizalimi. Bagi yang seperti ini,
yang sudah paham masalah politik/ekonomi bisa
memberikan pencerahan kepada mereka.

Kalau ingin tahu soal ekonomi, bisa gabung ke milis:
[EMAIL PROTECTED]

Antrinya rakyat membeli minyak tanah, naiknya harga
sembako seperti minyak goreng dari rp 7.000/kg menjadi
rp 12.000/kg dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan,
banyak orang bunuh diri/stress karena kemiskinan
adalah gejala yang bisa dilihat oleh sastrawan yang
peka.

Di atas itu ada lagi yang namanya Neo Kolonialisme.
Penjajahan Gaya Baru.

Saya pernah menghadiri diskusi di mana pesertanya
adalah ekonom Dr. Revrisond Baswir, Fadli Zon, pakar
minyak Kurtubi, dsb.

Di sana mereka memberikan pencerahan bahwa saat ini
kita mengalami penjajahan gaya baru.

Dulu yang berkuasa adalah perusahaan/company yang
bernama VOC (Verenigdee Oosch Indische Compagnie) dari
Belanda. Meski pemerintahan lokal dipegang oleh
pribumi. Sultan, raja, bupati, bahkan polisi hitam
pribumi, namun yang berkuasa adalah perusahaan VOC.
Tanah perkebunan dikuasai oleh VOC. Bangsa kita
bekerja sebagai kuli kontrak.

Nah saat ini lebih parah. Presiden, gubernur, dan
bupati adalah pribumi. Namun kekayaan alam kita
seperti minyak, gas, emas, perak, dsb dikuasai oleh
perusahaan2 asing seperti Chevron, Exxon Mobil,
Standard Oil, Freeport, dsb.

Kita punya minyak dan gas, tapi oleh perusahaan2 asing
tersebut rakyat Indonesia dipaksa beli dengan harga
internasional. Meski biaya pengambilan dan pengolahan
minyak hanya US$ 15/barrel, rakyat kita dipaksa beli
dengan harga US$ 70 lebih per barrel. Kalau kurang
dianggap pemerintah ”mensubsidi” rakyatnya ratusan
trilyun.

Perusahaan2 asing tsb mengekspor hasil minyak dan gas
kita ke Singapura, Jepang, dan Korea. Negara2 tsb
meski tak punya sumber minyak dan gas tak pernah
kekurangan dan antri minyak/gas. Sebaliknya rakyat
kita yang punya harus antri.

Tanah-tanah yang ada di Indonesia dikuasai oleh
perusahaan2 asing. Ratusan juta hektar tanah dikuasai
perusahaan asing dalam bentuk HPH, konsesi tambang,
dsb. Rakyat kita tidak bisa menambang emas. Hanya
perusahaan asing yang boleh. Rakyat kita tidak bisa
berkebun/bertani karena tanah sudah dikuasai oleh
perusahaan asing.

Pasar Uang dengan sistem mata uang mengambang yang ada
merupakan ajang judi/spekulasi pedagang forex. Rupiah
kita dihancurkan spekulan uang macam George Soros dgn
Quantum Fundnya sehingga turun dari rp 2.200/1 USD
menjadi rp 16.700/USD. Banyak rakyat jadi miskin
akibat sistem pasar uang yang bebas (bukan peg atau
patok zaman Soeharto dulu). Agar stabil, pemerintah
mensubsidi spekulan uang tsb dengan ”intervensi”
membeli uang. Setiap tahun pemerintah mensubsidi
spekulan uang sekitar rp 60 trilyun lewat bunga SBI
yang nilainya berkisar 8,5-16,5% per tahun.

Pasar saham juga merupakan ajang judi/spekulasi saham.
BUMN2/Perusahaan2 negara diobral lewat pasar saham
sehingga keuntungan BUMN sebesar puluhan trilyun
rupiah/tahun yang dulu masuk ke kas negara untuk
rakyat, sekarang masuk ke kantong segelintir pemilik
modal.

Sistem pasar bebas memungkinkan pengusaha minyak
mengekspr minyak goreng ke luar negeri dan menjual di
dalam negeri dengan harga internasional. Akibatnya
harga minyak goreng melejit dari rp 7.000 jadi rp 12
ribu/kg dalam tempo kurang dari 6 bulan. Sementara
gaji rakyat/UMR ditekan sehingga 1/20 dari UMR di AS.

Itulah sistem ekonomi Neo Liberalisme yang
mengantarkan rakyat Indonesia ke dalam Neo
Kolonialisme.

Mungkin suatu saat ekonom seperti Revrisond Baswir
perlu memberi pencerahan kepada para sastrawan yang
peduli rakyat sehingga para sastrawan ini bisa
mengkomunikasikan neokolonialisme dengan lebih
komunikatif kepada rakyat. Sebab bagaimana pun juga
bahasa akademis itu sering tidak nyambung dengan
rakyat banyak.

Wassalam

> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] 
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of rexoholic
> Sent: Thursday, September 06, 2007 11:45 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [FLP] kredo dari seorang Rex
> 
> Ketika para sastrawan telah terbuai oleh
kapitalisme, maka 
> karya sastra yang lahir dari penanya adalah karya
yang bisu 
> akan realita, tuli akan derita, dan buta akan segala
ketidak 
> adilan yang terjadi di hadapan sepasang matanya.
> 
> Sebelumnya saya sempat menyatakan bahwa sastra
adalah sastra. 
> Sastra bukanlah semacam kitab suci yang menghitamkan
sang 
> putih dan memutihkan sang hitam. Sastra adalah
sastra, yang 
> tidak diciptakan untuk dipertunggangi. Tetapi saya
sadar 
> bahwa ternyata pernyataan saya itu keliru. Tidak ada
yang 
> netral di bumi ini. Batu pun memiliki tari. Seorang
sastrawan 
> pastilah memiliki keberpihakan terhadap apa yang
diyakininya. 
> Itu sebabnya dengan penuh kesadaran saya akui bahwa 
> pernyataan saya itu adalah keliru. Sastra pastilah
memiliki 
> keberpihakan. 
> 
> Kapitalisme sudah semakin kurang ajar. Bumi kita
telah di 
> perkosa habis2an oleh para pemilik modal. Pemerintah
kita pun 
> sudah kehilangan taringnya jika sedang berada di
hadapan para 
> pengusaha. 
> Penjajahan Fisik masih dapat kita rasakan. Namun
Kapitalisme 
> bukan hanya menjajah fisik, namun juga pemikiran.
Penjajahan 
> pemikiran tentu saja sangat berbahaya. Sebab
penjajahan itu 
> tidak dapat kita sadari sehingga kita tidak akan
pernah ada 
> keinginan untuk melakukan perlawanan. Dampak dari
penjajahan 
> pemikiran inilah, pada akhirnya pemikiran kita
tadinya di 
> selimuti kebenaran (Islam) akan terdistorsi dengan
pemikiran 
> materialisme. (Profit...Profit...Profit...)
> 
> Duhai para sastrawan yang memiliki hati yang peka,
untuk apa 
> kalian memburu kata-kata jika tidak digunakan untuk
membantu 
> saudara kalian yang sedang mengantri minyak tanah?
> Duhai para mujahid pena, untuk apa kalian berhias
diri dengan 
> bahasa yang kemilau jika tidak di gunakan untuk
menegakkan 
> kebenaran-Nya? 
> Duhai para perias cerita yang selalu berkontemplasi
di 
> ruang-ruang sunyi, mengapa kalian masih berdiam diri
ketika 
> menyaksikan saudara seiman kalian dihina oleh para
serdadu 
> liberal keparat?
> 
> kata terakhir dari saya, "Tempat yang cocok untuk
para 
> sastrawan yang cuma memikirkan bahasa tanpa
memikirkan 
> manusia, adalah: SELOKAN!"
> 
> salam,
> 
> Rex sang pencaci ulung
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.6/991 -
Release 
> Date: 9/5/2007 2:55 PM
> 
> 
>


===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]


      
____________________________________________________________________________________
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!   
http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7 


Kirim email ke