Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Alhamdulilah, segala puji bagi allah subhanahu wata’aala, kami mohon ampunan 
hanya kepada-MU atas segala dosa dan keburukan amal kami.Sholawat serta salam 
semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi 
wasalam, beserta para sahabatnya dan pengikutnya hingga yaumil akhir. Saudaraku 
seiman dan seaqidah, tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan yang 
penuh barokah, rohmat dan ampunan yaitu Bulan Romadhon.Saudaraku, agar kita 
bisa lebih baik dalam mengerjakan amalan dibulan ini daripada tahun yang lalu, 
maka kita harus mempersiapkan dengan ilmu tentangnya. Maka semoga tulisan ini 
bisa bermanfaat dan diambil faidahnya.

Panduan Puasa Ramadhan 

(dibawah panduan al-quran dan sunnah)
Oleh : Al Ustadz. Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary-hafizhahullah-

Berikut ini kami ketengahkan ke hadapan para pembaca tuntunan puasa Ramadhan 
yang benar, berupa kesimpulan-kesimpulan yang dipetik dari Al-Qur`an dan Sunnah 
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang shohih. Tulisan 
ini, kami sarikan dari pembahasan luas dari berbagai madzhab fiqh dan kami 
uraikan dengan kesimpulan-kesimpulan ringkas agar menjadi tuntunan praktis bagi 
setiap muslim dan muslimah dalam menjalankan puasa Ramadhan. Harapan kami, 
mudah-mudahan bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan muslimat dalam 
menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang mulia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.


1. Beberapa Perkara Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Ramadhan.
Tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan maksud 
berhati-hati jangan sampai Ramadhan telah masuk pada satu atau dua hari itu 
sementara mereka tidak mengetahuinya. Adapun kalau berpuasa sehari atau dua 
hari sebelum Ramadhan karena bertepatan dengan kebiasaannya seperti puasa 
Senin-Kamis, puasa Daud dan lain-lain, maka hal tersebut diperbolehkan. Seluruh 
hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary 
dan Muslim, Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

áóÇ ÊõÞóÏøöãõæúÇ ÑóãóÖóÇäó ÈöÕóæúãö íóæúãò Ãóæú íóæúãóíúäö ÅöáøóÇ ÑóÌõáðÇ ßóÇäó 
íóÕõæúãõ ÕóæúãðÇ ÝóáúíóÕõãúåõ“

Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari 
kecuali seseorang yang biasa berpuasa dengan suatu puasa maka (tetaplah) ia 
berpuasa.”
Penentuan masuknya bulan dengan cara melihat Hilal. Hilal adalah bulan sabit 
kecil yang nampak di awal bulan. Dan dalam perhitungan bulan Islam hanya 
terdapat 29 atau 30 hari, sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar 
radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa 
‘ala alihi wa sallam tatkala menyebut bulan Ramadhan beliau memukulkan kedua 
tangannya seraya berkata :

ÇáÔøóåúÑõ åóßóÐóÇ æóåóßóÐóÇ æóåóßóÐóÇ Ëõãøó ÚóÞóÏó ÅöÈúåóÇãóåõ Ýöí ÇáËøóÇáöËóÉö 
ÝóÕõæúãõæúÇ áöÑõÄúíóÊöåö æóÃóÝúØöÑõæúÇ áöÑõÄúíóÊöåö ÝóÅöäú ÃõÛúãöíó Úóáóíúßõãú 
ÝóÇÞúÏõÑõæúÇ áóåõ ËóáóÇËöíúäó

Bulan (itu) begini, begini dan begini, kemudian beliau melipat ibu jarinya pada 
yang ketiga (yaitu sepuluh tambah sepuluh tambah sembilan,-pent.), maka 
puasalah kalian karena kalian melihatnya (hilal), dan berbukalah kalian karena 
kalian melihatnya, kemudian apabila bulan tertutupi atas kalian maka 
genapkanlah bulan itu tiga puluh.”

Maka untuk melihat hilal Ramadhan hendaknya dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban 
setelah matahari terbenam. Selang beberapa saat bila hilal nampak maka telah 
masuk tanggal 1 Ramadhan dan apabila hilalnya tidak nampak berarti bulan 
Sya’ban digenapkan 30 hari dan setelah tanggal 30 Sya’ban secara otomatis 
besoknya adalah tanggal 1 Ramadhan.
Apabila hilal telah terlihat pada satu negeri maka harus atas seluruh negeri 
lain di dunia untuk berpuasa. Ini merupakan pendapat Jumhur ‘Ulama yang dipetik 
dari surat Al-Baqaroh ayat 185 :

Ýóãóäú ÔóåöÏó ãöäúßõãõ ÇáÔøóåúÑó ÝóáúíóÕõãúåõ

Maka barangsiapa dari kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa.”

Dan juga dari hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary 
dan Muslim yang tersebut di atas dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma 
riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam 
:

ÕõæúãõæúÇ áöÑõÄúíóÊöåö æóÃóÝúØöÑõæúÇ áöÑõÄúíóÊöåö ÝóÅöäú Ûõãøöíó Úóáóíúßõãú 
ÇáÔøóåúÑõ ÝóÚóÏøõæúÇ ËóáóÇËöíúäó

Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya 
dan apabila bulan tertutup atas kalian maka sempurnakanlah tiga puluh.”

Ayat dan dua hadits di atas adalah pembicaraan yang ditujukan kepada seluruh 
kaum muslimin di manapun mereka berada di belahan bumi ini, wajib atas mereka 
untuk berpuasa tatkala ada dari kaum muslimin yang melihat hilal.

2. Niat Dalam Puasa

* Tidak diragukan bahwa niat merupakan syarat syah puasa dan syarat syah 
seluruh jenis ibadah lainnya sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasululllah 
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam hadits ‘Umar bin Khaththab 
radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

ÅöäøóãóÇ ÇáúÃóÚúãóÇáõ ÈöÇáäøöíøóÇÊö æóÅöäøóãóÇ áößõáøö ÇãúÑöÆò ãóÇ äóæóìó

Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung pada niatnya dan setiap orang 
hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Karena itu hendaknyalah seorang muslim benar-benar memperhatikan masalah niat 
ini yang menjadi tolak ukur diterima atau tidaknya amalannya dan seorang muslim 
tatkala akan berpuasa hendaknya berniat dengan sungguh-sungguh dan bertekad 
untuk berpuasa ikhlash karena Allah Ta’ala.
Dan niat tempatnya di dalam hati dan tidak dilafadzkan. Hal ini dapat dipahami 
dari hadits di atas.
Diwajibkan bagi orang yang akan berpuasa untuk berniat semenjak malam harinya 
yaitu setelah matahari terbenam sampai terbit fajar subuh.
Dan kewajiban berniat dari malam hari ini umum pada puasa wajib maupun puasa 
sunnah menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.
Dan tidak dibenarkan berniat satu kali saja untuk satu bulan bahkan diharuskan 
berniat setiap malam menurut pendapat yang paling kuat. 

Tiga point terakhir berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar dan Hafshoh radhiyallahu 
‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’ (sama hukumnya dengan hadits yang diucapkan 
langsung oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) dengan sanad 
yang shohih :

ãóäú áóãú íõÈóíøöÊö ÇáÕøöíóÇãó ãöäó Çááøóíúáö ÝóáóÇ ÕöíóÇãó áóåõ

Siapa yang tidak berniat puasa dari malam hari maka tidak ada puasa baginya.”
Apabila telah pasti masuk 1 Ramadhan dan berita tidak diterima kecuali pada 
pertengahan hari, maka hendaknyalah bersegera berpuasa sampai maghrib walaupun 
telah makan atau minum sebelumnya dan tidak ada kewajiban qodho` atasnya 
sebagaimana dalam hadits Salamah Ibnul Akwa’ riwayat Al-Bukhary dan Muslim, 
beliau berkata :

ÈóÚóËó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó ÑóÌõáðÇ 
ãöäú ÃóÓúáóãó íóæúãó ÚóÇÔõæúÑóÇÁó ÝóÃóãóÑóåõ Ãóäú íõÄúÐöäó Ýöí ÇáäøóÇÓö ãóäú 
ßóÇäó áóãú íóÕõãú ÝóáúíóÕõãú æóãóäú ßóÇäó Ãóßóáó ÝóáúíõÊöãøó ÕöíóÇãóåõ Åöáóì 
Çááøóíúáö

Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus seorang 
laki-laki dari Aslam pada hari ‘Asyuro` (10 Muharram,-pent.) dengan 
memerintahkannya untuk mengumumkan kepada manusia siapa yang belum berpuasa 
maka hendaklah ia berpuasa dan siapa yang telah makan maka hendaknya dia 
sempurnakan puasanya sampai malam hari.”

3. Waktu Pelaksanaan Puasa

Waktu puasa bermula dari terbitnya fajar subuh dan berakhir ketika matahari 
terbenam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :

æóßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÊøóì íóÊóÈóíøóäó áóßõãõ ÇáúÎóíúØõ ÇáúÃóÈúíóÖõ ãöäó 
ÇáúÎóíúØö ÇáúÃóÓúæóÏö ãöäó ÇáúÝóÌúÑö Ëõãøó ÃóÊöãøõæÇ ÇáÕøöíóÇãó Åöáóì Çááøóíúáö

Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari 
benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”

4. Makan Sahur
Makan sahur adalah suatu hal yang sangat disunnahkan dalam syari’at Islam 
menurut kesepakatan para ulama. Hal itu karena Rasululllah shollallahu ‘alaihi 
wa ‘ala alihi wa sallam sangat menganjurkannya dan mengabarkan bahwa pada sahur 
itu berkah bagi seorang muslim di dunia dan di akhirat sebagaimana dalam hadits 
Anas bin Malik riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

ÊóÓóÍøóÑõæúÇ ÝóÅöäøó Ýöí ÇáÓøóÍõæúÑö ÈóÑóßóÉð

Bersahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu ada berkah.”

Bahkan beliau menjadikan sahur itu sebagai salah satu syi’ar (simbol) Islam 
sangat agung yang membedakan kaum muslimin dari orang–orang yahudi dan 
nashroni, beliau bersabda dalam hadits ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu riwayat 
Muslim :

ÝóÕúáõ ãóÇ Èóíúäó ÕöíóÇãöäóÇ æóÕöíóÇãö Ãóåúáö ÇáúßöÊóÇÈö ÃóßóáóÉõ ÇáÓøóÍúÑö

Dan beda antara puasa kami dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.”
Dan juga disunnahkan mengakhirkan sahur sampai dekat dari adzan subuh, 
sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memulai 
makan sahur dalam selang waktu membaca 50 ayat yang tidak panjang dan tidak 
pula pendek sampai waktu adzan sholat subuh. Hal tersebut dinyatakan dalam 
hadits Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

ÊóÓóÍøóÑúäóÇ ãóÚó ÑóÓõæúáö Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó 
Ëõãøó ÞõãúäóÇ Åöáóì ÇáÕøóáóÇÉö. ÞõáúÊõ : ßóãú ßóÇäó ÞõÏúÑõ ãóÇ ÈóíúäóåõãóÇ¿ 
ÞóÇáó ÎóãúÓöíúäó ÂíóÉð 

“Kami bersahur bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam 
kemudian kami berdiri untuk sholat. Saya berkata (Anas bin Malik yang 
meriwaytkan dari Zaid,-pent.) : “Berapa jarak antara keduanya (antara sahur dan 
adzan)?”. Ia menjawab : “Lima puluh ayat”.”
Dan dari hadits di atas, juga dapat dipetik kesimpulan akan disunnahkannya 
makan sahur secara bersama.
Dan sebaik-baik makanan yang dipakai bersahur oleh seorang mu’min adalah korma. 
Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Dawud 
dengan sanad yang shohih, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa 
sallam menyatakan :

äöÚúãó ÓóÍõæúÑõ ÇáúãõÄúãöäö ÇáÊøóãúÑõ

“Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah korma.”
Batas akhir bolehnya makan sahur sampai adzan subuh, apabila telah masuk adzan 
subuh maka hendaknya menahan makan dan minum. Hal ini sebagaimana yang dipahami 
dari ayat dalam surah Al Baqoroh ayat 187 :

æóßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÊøóì íóÊóÈóíøóäó áóßõãõ ÇáúÎóíúØõ ÇáúÃóÈúíóÖõ ãöäó 
ÇáúÎóíúØö ÇáúÃóÓúæóÏö ãöäó ÇáúÝóÌúÑö Ëõãøó ÃóÊöãøõæÇ ÇáÕøöíóÇãó Åöáóì Çááøóíúáö

“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari 
benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
Apabila telah yakin akan masuk waktu subuh dan seseorang sedang makan atau 
minum maka hendaknyalah berhenti dari makan dan minumnya. Ini merupakan fatwa 
Al-Lajnah Ad-Daimah yang diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz 
rahimahullah, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy dan beberapa ulama lainnya 
berdasarkan nash ayat di atas. Adapun hadits Abu Daud, Ahmad dan lain-lainnya 
yang menyebutkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam 
bersabda :

ÅöÐóÇ ÓóãöÚó ÃóÍõÏõßõãõ ÇáúäöÏóÇÁó æóÇáúÅöäóÇÁõ Úóáóì íóÏöåö ÝóáÇó íóÖóÚúåõ 
ÍóÊøóì íóÞúÖöíó ÍóÇÌóÊóåõ ãöäúåõ

“Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) dan bejana 
berada di tangannya maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan 
hajatnya (dari bejana tersebut).”

Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abu 
Hatim. Baca Al-‘Ilal 1/123 no 340 dan 1/256 no 756 dan An-Nashihah Vol. 02 
rubrik Hadits. Dan andaikata hadits ini shohih maka maknanya tidak bisa 
dipahami secara zhohir-nya tapi harus dipahami sebagaimana yang dikatakan oleh 
Imam Al-Baihaqy dalam Sunanul Kubra 4/218 bahwa yang diinginkan dari hadits 
adalah ia boleh minum apabila diketahui bahwa si muadzdzin mengumandangkan 
adzan sebelum terbitnya fajar shubuh, demikianlah menurut kebanyakan para 
‘ulama. Wallahu A’lam.

* Apabila seeorang ragu apakah waktu subuh telah masuk atau tidak, maka 
diperbolehkan makan dan minum sampai ia yakin bahwa waktu subuh telah masuk.Hal 
ini berdasarkan firman Allah :

æóßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÊøóì íóÊóÈóíøóäó áóßõãõ ÇáúÎóíúØõ ÇáúÃóÈúíóÖõ ãöäó 
ÇáúÎóíúØö ÇáúÃóÓúæóÏö ãöäó ÇáúÝóÌúÑö Ëõãøó ÃóÊöãøõæÇ ÇáÕøöíóÇãó Åöáóì Çááøóíúáö

“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari 
benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. 
Al-Baqaroh ayat 187)

Ayat ini memberikan pengertian apabila fajar subuh telah jelas nampak maka 
harus berhenti dari makan dan minum, adapun kalau belum jelas nampak seperti 
yang terjadi pada orang yang ragu di atas masih boleh makan dan minum.

5. Perkara-Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Oleh Orang Yang Berpuasa
<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–> Diwajibkan atas orang yang berpuasa untuk 
meninggalkan makan, minum dan hubungan seksual. Hal tentunya sangat dimaklumi 
berdasarkan firmann Allah :

 
æóßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÊøóì íóÊóÈóíøóäó áóßõãõ ÇáúÎóíúØõ ÇáúÃóÈúíóÖõ ãöäó 
ÇáúÎóíúØö ÇáúÃóÓúæóÏö ãöäó ÇáúÝóÌúÑö Ëõãøó ÃóÊöãøõæÇ ÇáÕøöíóÇãó Åöáóì Çááøóíúáö

 
“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari 
benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”

 
Dan dalam hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, 
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan :

ßõáøõ Úóãóáö ÇÈúäö ÂÏóãó íõÖóÇÚóÝõ ÇáúÍóÓóäóÉõ ÚóÔóÑó ÃóãúËóÇáöåóÇ Åöáóì 
ÓóÈúÚöãöÇÆóÉö ÖöÚúÝò ÞóÇáó Çááåõ ÊóÚóÇáóì : ÅöáÇóø ÇáÕøöíóÇãó ÝóÅöäøóåõ áöíú 
æóÃóäóÇ ÃóÌúÒöíú Èöåö, íóÏóÚõ ÔóåúæóÊóåõ æóØóÚóÇãóåõ ãöäú ÃóÌúáöíú

“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai 
tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, sesungguhnya 
ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang 
yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh 
hadits bagi Imam Muslim)
Diwajibkan meninggalkan perkataan dusta, makan harta riba dan mengadu domba.
Juga diharuskan meninggalkan segala perkara yang sia-sia dan tidak berguna.

Dua point di atas berdasarkan dalil-dalil umum akan larangan melakukan 
perkara-perkara di atas. Dan secara khusus menyangkut puasa Rasulullah 
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits Abu 
Huroiroh radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary :

ãóäú áóãú íóÏóÚú Þóæúáó ÇáÒøõæúÑö æóÇáúÚóãóáó Èöåö ÝóáóíúÓó ááåö ÍóÇÌóÉñ Ýöíú 
Ãóäú íóÏóÚó ØóÚóÇãóåõ æóÔóÑóÇÈóåõ

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka Allah 
tidak ada hajat/keperluan pada ia meninggalkan makan dan minumnya (yaitu pada 
puasanya, -pent.).”

Dan juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Ibnu Khuzaimah 
dengan sanad yang hasan, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam 
menegaskan :

áóíúÓó ÇáÕøöíóÇãõ ãöäó ÇáúÃóßúáö æóÇáÔøóÑóÇÈö, ÅöäøóãóÇ ÇáÕøöíóÇãõ ãöäó 
ÇááøóÛúæö æóÇáÑóÝóËö

“Bukanlah puasa itu sekedar (menahan) dari makan dan minumannya, namun puasa 
itu hanyalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan tidak berguna.”
Meninggalkan puasa wishol.

Puasa wishol artinya menyambung puasa dua hari berturut-turut atau lebih tanpa 
berbuka. Puasa wishol adalah haram atas umat ini kecuali bagi Rasulullah 
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menurut pendapat yang paling kuat 
di kalangan para ‘ulama.Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar, Abu 
Hurairah, ‘Aisyah dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum riwayat Al-Bukhary dan 
Muslim. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan :

äóåóì ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó Úóäö 
ÇáúæöÕóÇáö ÞóÇáõæúÇ: Åöäøóßó ÊõæóÇÕöáõ ÞóÇáó : Åöäøöíú áóÓúÊõ ãöËúáóßõãú 
Åöäøöíú ÃõØúÚóãõ æóÃõÓúÞóì

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dari puasa 
wishol, maka para sahabat berkata : “Sesungguhnya engkau melakukan wishol?”. 
Beliau menjawab : “Sesungguhnya saya tidak seperti kalian saya diberi 
(kekuatan) makan dan minum.” 

6. Perkara-Perkara Yang Jika Terdapat Pada Orang Yang Berpuasa Boleh Baginya 
Untuk Berpuasa.
Orang yang bangun kesiangan dalam keadaan junub.Diperbolehkan baginya untuk 
berpuasa berdasarkan dalam hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma 
riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

Ãóäøó ÇáäøóÈöíøó Õóáøóì Çááåõ Úóáóóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó ßóÇäó 
íõÏúÑößõåõ ÇáúÝóÌúÑõæóåõæó ÌõäõÈñ ãöäú Ãóåúáöåö Ëõãøó íóÛúÊóÓöáõ æóíóÕõæúãõ

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kadang 
waktu subuh mendapatinya dan beliau dalam keadaan junub dari istrinya, kemudian 
beliau mandi dan berpuasa.”

Tidak ada perbedaan apakah dia junub sebab mimpi atau sebab berhubungan. Dan 
demikian pula wanita yang haid atau nifas yang telah suci sebelum terbit fajar 
akan tetapi dia belum mandi sehingga kesiangan juga boleh berpuasa menurut 
pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama berdasarkan hadits di atas.
Juga boleh untuk bersiwak bahkan hal tersebut merupakan sunnah, apakah 
menggunakan kayu siwak atau dengan sikat gigi.
Dan juga boleh sikat gigi dengan pasta gigi, tetapi dengan menjaga jangan 
sampai menelan sesuatu ke dalam kerongkongannya dan juga jangan mempergunakan 
pasta gigi yang mempunyai pengaruh kuat ke dalam perut dan tidak bisa dikontrol.

Dua point di atas berdasarkan umumnya hadits-hadits yang menunjukkan akan 
disunnahkannya bersiwak seperti hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat 
Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam 
bersabda :

áóæúáóÇ Ãóäú ÃóÔõÞøó Úóáóì ÃõãøóÊöíú áóÃóãóÑúÊõåõãú ÈöÇáÓøöæóÇßö ÚöäúÏó ßõáøö 
ÕõáóÇÉò

Andaikata tidak aku memberatkan atas ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka 
untuk bersiwak bersama setiap sholat.”

Dan dalam riwayat lain Malik, Ahmad, An-Nasa`i dan lain-lainnya dari Abu 
Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz :

óæúáóÇ Ãóäú ÃóÔõÞøó Úóáóì ÃõãøóÊöíú áóÃóãóÑúÊõåõãú ÈöÇáÓøöæóÇßö ÚöäúÏó ßõáøö 
æõÖõæúÁò

“Andaikata tidak aku memberatkan atas ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka 
untuk bersiwak bersama setiap wudhu`.”

Dua hadits ini menunjukkan sunnah bersiwak secara mutlak tanpa membedakan 
apakah dalam keadaan berpuasa atau tidak.
Boleh berkumur-kumur dan menghirup air ketika berwudhu` adalah dengan ketentuan 
tidak bersungguh-sungguh sehingga mengakibatkan air masuk ke dalam tenggorokan. 
Juga tidak ada larangan pula berkumur-kumur karena matahari yang sangat terik 
sepanjang tidak menelan air ke tenggorokan. Seluruh hal ini berdasarkan hadits 
shohih dari Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, 
At-Tirmidzy, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu 
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan :

æóÈóÇáöÛú Ýöí ÇáúÅöÓúÊöäúÔóÇÞö ÅöáÇøó Ãóäú Êóßõæúäó ÕóÇÆöãðÇ

“Dan bersungguh-sungguhlah engkau dalam menghirup air kecuali jika engkau dalam 
keadaan puasa.”

Dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan disunnahkannya berkumur-kumur dan 
menghirup air dalam wudhu`, juga datang dengan bentuk umum tanpa membedakan 
dalam keadaan berpuasa atau tidak.
Juga boleh mandi dalam keadaan berpuasa bahkan juga boleh berenang sepanjang ia 
menjaga tidak tertelannya air ke dalam tenggorokannya.
Dan juga boleh bercelak untuk mata ketika berpuasa. Dua point di atas boleh 
karena tidak adanya dalil yang melarangnya.
Dan juga boleh memeluk dan mencium istri bila mampu menguasai dirinya. Menurut 
pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan 
Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

ßóÇäó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó íõÞóÈøöáõ 
æóåõæó ÕóÇÆöãñ æóíõÈóÇÔöÑõ æóåõæó ÕóÇÆöãñ, æóáóßöäøóåõ ßóÇäó Ãóãúáóßóßõãú 
áöÅöÑúÈöåö

“Adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mencium dalam keadaan 
berpuasa dan memeluk dalam keadaan berpuasa dan beliau adalah orang yang paling 
mampu menguasai syahwatnya.”
Boleh menelan ludah bagi orang yang berpuasa bahkan lebih dari itu juga boleh 
mengumpulkan ludah dengan sengaja di mulut kemudian menelannya. Adapun dahak 
tidaklah membatalkan puasa kalau ditelan, tetapi menelan dahak tidak boleh 
karena ia adalah kotoran yang membahayakan tubuh.
Boleh mencium bau-bau harum apakah itu bau makanan, bau parfum dan 
lain-lain.Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarang.
Boleh mencicipi masakan dengan ketentuan menjaganya jangan sampai masuk ke 
dalam tenggorokan dan kembali mengeluarkannya. Hal ini berdasarkan perkataan 
‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’ dengan 
sanad yang hasan dari seluruh jalan-jalannya :

áóÇ ÈóÃúÓó Ãóäú íóÐõæúÞó ÇáÕøóÇÆöãõ ÇáúÎóáøó æóÇáÔøóíúÁó ÇáøóÐöíú íõÑöíúÏõ 
ÔóÑóÇÁóåõ ãóÇáóãú íõÏúÎõáú ÍóáúÞóåõ æóåõæó ÕóÇÆöãñ

“Tidak apa-apa bagi orang yang berpuasa merasakan cuka atau sesuatu yang ia 
ingin beli sepanjang tidak masuk ke dalam tenggorokannya.”
Boleh bersuntik dengan apa saja yang tidak mengandung makna makanan dan minuman 
seperti suntikan vitamin, suntikan kekuatan, infus, dan lain-lainnya.Hal ini 
boleh karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut membatalkan 
puasa.

7. Hal-Hal Yang Makruh Bagi Orang Yang Berpuasa
Berbekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala dan lainnya) adalah makruh 
karena bisa mengakibatkan lemahnya tubuh dan menyeret orang berbekam untuk 
berbuka.

Demikian pula memberikan donor darah semakna dengan ini.

Hukum ini merupakan bentuk kompromi dari dua hadits Rasulullah shollallahu 
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, yaitu antara hadits mutawatir yang di dalamnya 
beliau menyatakan :

ÃóÝúØóÑó ÇáúÍóÇÌöãõ æóÇáúãóÍúÌõæúãõ

“Telah berbuka orang yang berbekam dan orang yang membekamnya.”

Dan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary :

ÇÍúÊóÌóãó ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó æóåõæó 
ÕóÇÆöãñ

Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbekam dan beliau dalam 
keadaan berpuasa.”
Memeluk dan mencium istrinya hingga membangkitkan syahwatnya.

Hal tersebut berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu 
Daud dengan sanad yang shahih, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa 
sallam berkata :

Ãóäøó ÑóÌõáðÇ ÓóÃóáó ÇáäøóÈöíøó Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÓóáøóãó 
Úóäö ÇáúãóÈóÇÔóÑóÉö áöáÕøóÇÆöãö ÝóÑóÎøóÕó áóåõ æóÃóÊóÇåõ ÂÎóÑõ ÝóÓóÃóáóåõ 
ÝóäóåóÇåõ ÝóÅöÐóÇ ÇáøóÐöíú ÑóÎøóÕó áóåõ ÔóíúÎñ æóÇáøóÐöíú äóåóÇåõ ÔóÇÈøñ

Sesungguhnya seseorang lelaki bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala 
alihi wa sallam tentang memeluk bagi orang yang berpuasa maka beliau memberikan 
keringanan kepadanya (untuk melakukan hal tersebut) dan datang laki-laki lain 
bertanya kepadanya dan beliaupun melarangnya (untuk melakukan hal tersebut), 
ternyata orang yang diberikan keringanan padanya adalah orang tua dan dilarang 
adalah seorang pemuda.”
Menyambung puasa dari maghrib sampai waktu sahur (puasa wishol)

Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwayat 
Al-Bukhary. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

áóÇ ÊõæóÇÕöáõæúÇ ÝóÃóíøõßõãú ÃóÑóÇÏó Ãóäú íõæóÇÕöáó ÝóáúíõæóÇÕöáú ÍóÊøóì 
ÇáÓøóÍúÑó

Janganlah kalian puasa wishol, siapa yang menyambung maka sambunglah sampai 
waktu sahur.”

Wallahu’alam


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Bagi yang ingin menyumbang untuk pendirian TV Komunitas Madani Depok bisa 
transfer ke:
Bank Syariah Mandiri KCP Margonda Depok.  No. Rek. 0670010778 a.n BURSA AMAL 
MADANI
Mohon konfirmasi nama, besar sumbangan, tanggal ke: [EMAIL PROTECTED]
Contact Person: pak Hafiz 021 92805591 / 08128508057, Al Qudwah, Jl Beringin 
No. 1, Jl. Margonda Raya Depok
http://islamicbroadcasting.wordpress.com 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke