Assalamu ' Alaikum Wr, Wb,

Buat Pak Moderator terima Kasih jika tulisan saya dimuat.

Menanggapai tulisan di bawah ini, dan juga menanggapi Tulisan " OM PEPENG 
" mungkin kah saya memanggil Om seperti itu, Mohon maaf jika saya terlalu
lancang memanggil OM demikian, 

Om Pepeng mungkin saya salah satu orang yang dalam tulisan om orang yang 
kuat ( Menurut Pendapat saya selama ini ), walaupun cobaan datang silih 
berganti dari yang kecil,
sampai yang besar menerpa saya, saya masih kuat, tapi setelah saya membaca 
tulisan dibawah ini saya tersadar ternyata hati saya masih belum lembut 
dan belum dapat dikate-
gorikan tidak sempat melembutkan hati, Alahamdulillah mungkin ini hidayah 
dari Allah melalui Om Pepeng dan yang lainnya.

Buat Om Pepeng saya hendak mengucapkan Semoga Om Pepeng menjadi orang yang 
sabar, yang kuat, yang tegar,dan semuanya kelebihan yang sekarang sedang 
dijalani oleh
Om Pepeng itu merupakan suatu tanda Kasih sayang Allah, Allah masih sayang 
sama Om Pepeng saya hendak menangis jika melihat Om Pepeng dengan segala 
Kelebihannya.
Teringat Ayahanda yang telah Wafat ( Mohon Maaf Om, Ayahanda saya juga 
mendapat Kelebihan dari Allah ) dan satu tanda / Bentuk kasih sayang Allah 
terhadap hambanya yaitu
sperti yang sedang Om jalani ini. Om saya mendoakan semoga Allah berkenan 
Meridhoi Doa hamba yang satu ini. Semoga Om pepeng diberikan KEtabahan 
Iman yang Luar Biasa dalam
menjalani Kasih sayang Allah tersebut.

Buat semuanya saya hatrukan Terima Kasih telah menyadarkan saya bahwa saya 
masih belum mempunyai kelembutan hati seperti yang Om Pepeng katakan. 
Om Pepeng yang tabah yah..Semoga Allah mengabulkan doa saya.Om diberikan 
Kesehatan Semua itu pasti ada Hikmahnya.
Amin Ya Robbal ' Alamiin.

Wassalaamu " Alaikum Wr, Wb.
MARYANI
QA DEPT.
PT. ASMO INDONESIA
MM 2100 INDUSTRIAL TOWN BLOCK FF-3/ FF-5
CIBITUNG BEKASI 17520 
PHONE : 62 - 21 8981288   EXT. 219   FAX : 89982777
NICE NET : 5066 - 219 
EMAIL ; [EMAIL PROTECTED]
----- Forwarded by Quality Assurance/AINE on 09/20/2007 03:53 PM -----


"Pepeng" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
09/20/2007 02:34 PM

 
        To:     "SI" <[email protected]>, "DT" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Ica Harahap" <[EMAIL PROTECTED]>
        cc: 
        Subject:        Re: [syiar-islam] Menangis -->>(tulisan sy di Republika)


Selasa, 20 Februari 2007

Air Mata 

Ferrasta 'Pepeng' Soebardi 

Saudaraku, banyak orang berpendapat mengalirkan air mata, identik dengan 
perempuan. Juga, identik dengan lemah, cengeng, dan banyak label yang 
mengacu pada kerapuhan. Benarkah begitu? Sejak dulu saya tidak sependapat!

Dua tahun belakangan ini pendapat saya menguat. Hari ini saya semakin 
yakin mengalirkan air mata adalah signal, anugerah yang tiada duanya. 
Signal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menangis adalah manifestasi dari 
kemahalembutan Allah Sang Khalik.

Saudaraku, insya Allah setiap orang pernah merasakan aliran aneh yg 
membuat air mata kita mengalir. Penyebabnya bisa apa saja. Membaca kisah 
hidup seseorang, mendengar pernyataan orang, atau melihat penderitaan 
orang. Bahkan, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba air mata kita mengalir. 
Bahkan, datangnya sebuah kabar yang sangat menyenangkan pun, kadang air 
mata bergulir menetes.

Berbahagialah mereka yang selalu menyebut asma Allah setiap mengalirnya 
air mata. Karena, kita selalu ingat dari mana sumber kelembutan yang kita 
miliki itu.

Mungkin kita pernah mengalami masa di mana kita tidak sempat mengalirkan 
air mata. Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, kita tidak menangis. 
Melihat kepedihan orang --lalu mencoba berempati dengan kitalah yang 
menanggung kepedihan itu-- air mata tak setitik pun menetes. Benarkah itu 
hebat? 

Mungkin ya, tergantung dari mana kita melihatnya. Walau saya tidak menolak 
dan setuju siapa pun boleh mengalirkan air mata, tapi pernah saya 
berpikir, ''Menangis? Tak sempatlah bagi saya untuk menangis.'' Namun, 
hari ini saya sadar, berarti saya adalah orang yang tidak sempat 
melembutkan hati. 

Ya Allah, maafkan keangkuhan hamba. Ya Latief, lembutkan hati hamba untuk 
bisa merasakan semua takdir-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan signal hati 
hamba ya Rahman, ya Rahim, agar hamba selalu bisa menangkap dengan cerdas 
semua tanda-tanda kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah, dan 
ketakutan. Jadikanlah air mata kami sebagai tanda kedekatan hamba 
kepada-Mu.

Akhirnya mendung di mata tak terbendung lagi. Meringankan semua rasa yang 
berbaur menjadi satu, melihat begitu banyak bencana datang silih berganti 
di muka bumi ini. 

Peliharalah kami ya Muhaimin. Amin yaa mujibass saailiin. ''Dan 
sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah 
orang yang mengambil pelajaran?'' (Al-Qamar [54]: 17)

----- Original Message ----- 
From: Ica Harahap 
To: SI ; DT 
Sent: Wednesday, September 19, 2007 2:30 PM
Subject: [syiar-islam] Menangis

Kiriman dari seorang saudara... Semoga bermanfaat..

Menangis. 
Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi 
sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang 
sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang 
membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada 
pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. 
Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat 
dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari 
kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan 
tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika 
anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. 
Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena 
dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya 
dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup. 

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati 
dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa 
dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika 
ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari 
oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). 
Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang 
Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu 
ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca 
Al Qur'an, ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika) manusia berdiri 
menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga 
beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang 
menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. 
Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami 
dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati 
mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka. 

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan 
pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang 
berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? 
Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati 
seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya 
justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri 
di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian 
dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus 
diembannya di dunia ini. 

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan 
senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga lembutan dan kepekaan 
jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran 
umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat 
menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak 
akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika 
tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan 
fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan 
segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan 
tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam. 

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. "Dan 
apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), 
kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al 
Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya 
berkata: "Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama 
orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian 
Muhammad)". (QS. Al Maidah: 83).

Ja'far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 
kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah 
dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya 
kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan 
hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja 
yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya. 

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat 
Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan 
tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk 
penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada 
Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak 
peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, 
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka 
yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang 
penolongpun bagi mereka". (QS. An Nisa': 145) 

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah 
disaat membaca Al Qur'an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam 
terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau 
tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat 
Allah. 

Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta 
penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan 
sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. "Maka 
mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa 
yang selalu mereka kerjakan". (QS At Taubah: 82).

---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, 
news, photos & more. 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke