'alaikumsalam wr wb
SubhanaAllah, terima kasih u/ emailnya, terima kasih u/ do'a antum, semoga kita 
selalu memperoleh rahmat dr ALLAH SWT
Barokallah

pepeng


  ----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: Pepeng 
  Cc: SI ; DT ; Ica Harahap 
  Sent: Thursday, September 20, 2007 4:05 PM
  Subject: Re: [syiar-islam]OOT-->Pendapat --> Menangis -->>(tulisan sy di 
Republika)-



  Assalamu ' Alaikum Wr, Wb, 

  Buat Pak Moderator terima Kasih jika tulisan saya dimuat. 

  Menanggapai tulisan di bawah ini, dan juga menanggapi Tulisan " OM PEPENG " 
mungkin kah saya memanggil Om seperti itu, Mohon maaf jika saya terlalu 
  lancang memanggil OM demikian, 

  Om Pepeng mungkin saya salah satu orang yang dalam tulisan om orang yang kuat 
( Menurut Pendapat saya selama ini ), walaupun cobaan datang silih berganti 
dari yang kecil, 
  sampai yang besar menerpa saya, saya masih kuat, tapi setelah saya membaca 
tulisan dibawah ini saya tersadar ternyata hati saya masih belum lembut dan 
belum dapat dikate- 
  gorikan tidak sempat melembutkan hati, Alahamdulillah mungkin ini hidayah 
dari Allah melalui Om Pepeng dan yang lainnya. 

  Buat Om Pepeng saya hendak mengucapkan Semoga Om Pepeng menjadi orang yang 
sabar, yang kuat, yang tegar,dan semuanya kelebihan yang sekarang sedang 
dijalani oleh 
  Om Pepeng itu merupakan suatu tanda Kasih sayang Allah, Allah masih sayang 
sama Om Pepeng saya hendak menangis jika melihat Om Pepeng dengan segala 
Kelebihannya. 
  Teringat Ayahanda yang telah Wafat ( Mohon Maaf Om, Ayahanda saya juga 
mendapat Kelebihan dari Allah ) dan satu tanda / Bentuk kasih sayang Allah 
terhadap hambanya yaitu 
  sperti yang sedang Om jalani ini. Om saya mendoakan semoga Allah berkenan 
Meridhoi Doa hamba yang satu ini. Semoga Om pepeng diberikan KEtabahan Iman 
yang Luar Biasa dalam 
  menjalani Kasih sayang Allah tersebut. 

  Buat semuanya saya hatrukan Terima Kasih telah menyadarkan saya bahwa saya 
masih belum mempunyai kelembutan hati seperti yang Om Pepeng katakan.   
  Om Pepeng yang tabah yah..Semoga Allah mengabulkan doa saya.Om diberikan 
Kesehatan Semua itu pasti ada Hikmahnya. 
  Amin Ya Robbal ' Alamiin. 

  Wassalaamu " Alaikum Wr, Wb. 
  MARYANI
  QA DEPT.
  PT. ASMO INDONESIA
  MM 2100 INDUSTRIAL TOWN BLOCK FF-3/ FF-5
  CIBITUNG BEKASI 17520 
  PHONE : 62 - 21 8981288   EXT. 219   FAX : 89982777
  NICE NET : 5066 - 219  
  EMAIL ; [EMAIL PROTECTED] 
  ----- Forwarded by Quality Assurance/AINE on 09/20/2007 03:53 PM ----- 
       "Pepeng" <[EMAIL PROTECTED]> 
        Sent by: [email protected] 
        09/20/2007 02:34 PM 

               
                To:        "SI" <[email protected]>, "DT" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Ica Harahap" <[EMAIL PROTECTED]> 
                cc:         
                Subject:        Re: [syiar-islam] Menangis -->>(tulisan sy di 
Republika) 



  Selasa, 20 Februari 2007

  Air Mata 

  Ferrasta 'Pepeng' Soebardi 

  Saudaraku, banyak orang berpendapat mengalirkan air mata, identik dengan 
perempuan. Juga, identik dengan lemah, cengeng, dan banyak label yang mengacu 
pada kerapuhan. Benarkah begitu? Sejak dulu saya tidak sependapat!

  Dua tahun belakangan ini pendapat saya menguat. Hari ini saya semakin yakin 
mengalirkan air mata adalah signal, anugerah yang tiada duanya. Signal dari 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menangis adalah manifestasi dari kemahalembutan 
Allah Sang Khalik.

  Saudaraku, insya Allah setiap orang pernah merasakan aliran aneh yg membuat 
air mata kita mengalir. Penyebabnya bisa apa saja. Membaca kisah hidup 
seseorang, mendengar pernyataan orang, atau melihat penderitaan orang. Bahkan, 
tanpa sebab yang jelas tiba-tiba air mata kita mengalir. Bahkan, datangnya 
sebuah kabar yang sangat menyenangkan pun, kadang air mata bergulir menetes.

  Berbahagialah mereka yang selalu menyebut asma Allah setiap mengalirnya air 
mata. Karena, kita selalu ingat dari mana sumber kelembutan yang kita miliki 
itu.

  Mungkin kita pernah mengalami masa di mana kita tidak sempat mengalirkan air 
mata. Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, kita tidak menangis. Melihat 
kepedihan orang --lalu mencoba berempati dengan kitalah yang menanggung 
kepedihan itu-- air mata tak setitik pun menetes. Benarkah itu hebat? 

  Mungkin ya, tergantung dari mana kita melihatnya. Walau saya tidak menolak 
dan setuju siapa pun boleh mengalirkan air mata, tapi pernah saya berpikir, 
''Menangis? Tak sempatlah bagi saya untuk menangis.'' Namun, hari ini saya 
sadar, berarti saya adalah orang yang tidak sempat melembutkan hati. 

  Ya Allah, maafkan keangkuhan hamba. Ya Latief, lembutkan hati hamba untuk 
bisa merasakan semua takdir-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan signal hati hamba 
ya Rahman, ya Rahim, agar hamba selalu bisa menangkap dengan cerdas semua 
tanda-tanda kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah, dan ketakutan. 
Jadikanlah air mata kami sebagai tanda kedekatan hamba kepada-Mu.

  Akhirnya mendung di mata tak terbendung lagi. Meringankan semua rasa yang 
berbaur menjadi satu, melihat begitu banyak bencana datang silih berganti di 
muka bumi ini. 

  Peliharalah kami ya Muhaimin. Amin yaa mujibass saailiin. ''Dan sesungguhnya 
telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil 
pelajaran?'' (Al-Qamar [54]: 17)

  ----- Original Message ----- 
  From: Ica Harahap 
  To: SI ; DT 
  Sent: Wednesday, September 19, 2007 2:30 PM
  Subject: [syiar-islam] Menangis

  Kiriman dari seorang saudara... Semoga bermanfaat..

  Menangis. 
  Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. 
Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup 
menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat 
dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu 
berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi 
kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit 
orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.

  Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan 
tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya 
menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua 
di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak 
tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka 
yang tidak mempunyai prinsip hidup. 

  Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan 
pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya 
maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati 
oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra 
sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, 
dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar 
ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di 
dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur'an, ketika sampai pada ayat: "Hari 
(ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6). 
Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya 
seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. 
  Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan 
merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati 
mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka. 

  Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada 
hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada 
Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu 
sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak 
lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. 
Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya 
seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada 
Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini. 

  Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan 
senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga lembutan dan kepekaan jiwanya. Dia 
akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya 
begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap 
terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin 
bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, 
ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan 
dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang 
mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa 
memohon kepada Tuhan semesta alam. 

  Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. "Dan apabila 
mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat 
mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah 
mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: "Ya Robb kami, 
kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi 
(atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad)". (QS. Al Maidah: 83).

  Ja'far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada 
seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, 
bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam 
dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut 
menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran 
benar-benar merasakannya. 

  Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. 
Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau 
malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang 
tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun 
tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam 
keadaan mereka di akhirat nanti, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu 
(ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali 
tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka". (QS. An Nisa': 145) 

  Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat 
membaca Al Qur'an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, 
menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu 
karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. 

  Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta 
penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan 
sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. "Maka 
mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang 
selalu mereka kerjakan". (QS At Taubah: 82).

  ---------------------------------
  Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, 
news, photos & more. 

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]

   



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke