Wa'alaikum salam wr wb,
Benar mas Pepeng. Menangis memang bermacam2.
Kalau menangis karena dipukul orang atau karena
mendengar lagu Rinto mungkin itu cemen...
Rasulullah sendiri meski rahang terluka dan gigi
tanggal karena serangan musuh tapi tetap tegar.
Meski demikian, Rasul sering menangis karena khusyu'
ibadah kepada Allah.
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyu'." [Al
Israa':109]
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi
nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan
Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama
Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari
orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah
Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang
Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur
dengan bersujud dan menangis." [Maryam:58]
Menangis kala ibadah di malam hari karena khusyu'
ibadah kepada Allah merupakan satu kebahagiaan yang
indahnya tak dapat dilukiskan. Membawa ketenangan.
Orang yang menangis karena Allah, niscaya kedua
matanya tidak akan tersentuh oleh api neraka:
Dari Ibnu Abbas ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah
SAW bersabda, Ada dua mata yang tidak akan tersentuh
api neraka. Mata yang menangis karena takut kepada
Allah. Dan mata yang begadang berjaga dalam jihad fi
sabilillah. (HR At-Tirmizy - Hasan Shahih)
Insya Allah itu satu metafora. Maksudnya bukan cuma
kedua mata yang tak kena api neraka, tapi juga
orang-orangnya...:)
Ketika melihat di TV jema'ah zikir ustad Arifin Ilham
menangis-nangis, saya sempat berpikir ah itu
dibuat-buat. Tapi masya Allah, meski ustad Arifin
Ilham hanya berzikir dan berceramah sekitar 3/4 jam
saja, mata saya sudah berkaca2 dan nyaris menangis
ketika zikir bersama membaca zikir "Subhanallah
walhamdulillah wa la ilaaha illallah wallahu akbar"
(Maha Suci Allah dan segala puji baginya dan tidak ada
Tuhan selai Allah dan Allah Maha Besar).
Wassalam
--- Pepeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Selasa, 20 Februari 2007
>
> Air Mata
>
> Ferrasta 'Pepeng' Soebardi
>
>
> Saudaraku, banyak orang berpendapat mengalirkan air
> mata, identik dengan perempuan. Juga, identik dengan
> lemah, cengeng, dan banyak label yang mengacu pada
> kerapuhan. Benarkah begitu? Sejak dulu saya tidak
> sependapat!
>
> Dua tahun belakangan ini pendapat saya menguat. Hari
> ini saya semakin yakin mengalirkan air mata adalah
> signal, anugerah yang tiada duanya. Signal dari
> Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menangis adalah
> manifestasi dari kemahalembutan Allah Sang Khalik.
>
> Saudaraku, insya Allah setiap orang pernah merasakan
> aliran aneh yg membuat air mata kita mengalir.
> Penyebabnya bisa apa saja. Membaca kisah hidup
> seseorang, mendengar pernyataan orang, atau melihat
> penderitaan orang. Bahkan, tanpa sebab yang jelas
> tiba-tiba air mata kita mengalir. Bahkan, datangnya
> sebuah kabar yang sangat menyenangkan pun, kadang
> air mata bergulir menetes.
>
> Berbahagialah mereka yang selalu menyebut asma Allah
> setiap mengalirnya air mata. Karena, kita selalu
> ingat dari mana sumber kelembutan yang kita miliki
> itu.
>
> Mungkin kita pernah mengalami masa di mana kita
> tidak sempat mengalirkan air mata. Ketika cobaan
> datang dan menyesakkan dada, kita tidak menangis.
> Melihat kepedihan orang --lalu mencoba berempati
> dengan kitalah yang menanggung kepedihan itu-- air
> mata tak setitik pun menetes. Benarkah itu hebat?
>
> Mungkin ya, tergantung dari mana kita melihatnya.
> Walau saya tidak menolak dan setuju siapa pun boleh
> mengalirkan air mata, tapi pernah saya berpikir,
> ''Menangis? Tak sempatlah bagi saya untuk
> menangis.'' Namun, hari ini saya sadar, berarti saya
> adalah orang yang tidak sempat melembutkan hati.
>
> Ya Allah, maafkan keangkuhan hamba. Ya Latief,
> lembutkan hati hamba untuk bisa merasakan semua
> takdir-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan signal hati
> hamba ya Rahman, ya Rahim, agar hamba selalu bisa
> menangkap dengan cerdas semua tanda-tanda
> kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah,
> dan ketakutan. Jadikanlah air mata kami sebagai
> tanda kedekatan hamba kepada-Mu.
>
> Akhirnya mendung di mata tak terbendung lagi.
> Meringankan semua rasa yang berbaur menjadi satu,
> melihat begitu banyak bencana datang silih berganti
> di muka bumi ini.
>
> Peliharalah kami ya Muhaimin. Amin yaa mujibass
> saailiin. ''Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan
> Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang
> mengambil pelajaran?'' (Al-Qamar [54]: 17)
>
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Ica Harahap
> To: SI ; DT
> Sent: Wednesday, September 19, 2007 2:30 PM
> Subject: [syiar-islam] Menangis
>
>
> Kiriman dari seorang saudara... Semoga
> bermanfaat..
>
> Menangis.
> Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis
> itu manusia menjadi sadar. Sadar akan
> kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang
> sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah
> Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan
> akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah
> stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang
> dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan
> maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah
> tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling
> dari kebenaran.
>
> Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal
> yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang.
> Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya
> menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan
> musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan
> memarahi anaknya jika mereka menangis karena
> dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis
> adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang
> tidak mempunyai prinsip hidup.
>
> Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis
> merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan
> jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa
> dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan
> air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya,
> Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh
> anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang
> selalu menangis). Beliau senantiasa menangis,
> dadanya bergolak manakala sholat dibelakang
> Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah.
> Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah
> yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al
> Qur'an, ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika)
> manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS.
> Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam
> berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya
> seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian
> beliau menangis.
> Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya
> benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran
> keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati
> mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang
> peka.
>
> Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan
> mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan
> kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa
> kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia
> meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit
> meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati
> seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia
> dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak
> sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di
> dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis
> dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya.
> Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya
> di dunia ini.
>
> Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap
> dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri
> dan hatinya. Menjaga lembutan dan kepekaan jiwanya.
> Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat
> kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan
> perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang
> tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan
> melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka
> ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa
> berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang
> sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan
> segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak
> mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan
> berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.
>
> Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan
> terhadap kebenaran. "Dan apabila mereka mendengarkan
> apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu
> lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
> kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui
> (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata:
> "Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah
> kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas
> kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad)". (QS. Al
> Maidah: 83).
>
> Ja'far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam
> ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani
> yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah
> dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu.
> Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat
> tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan
> hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab
> kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran
> benar-benar merasakannya.
>
> Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat
> dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang
> teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa
> atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun
> bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah
> bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit
> pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli
> ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat
> nanti, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu
> (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling
> bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan
> seorang penolongpun bagi mereka". (QS. An Nisa':
> 145)
>
> Barangkali di antara kita yang belum pernah
> menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur'an,
> menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam
> terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat
> yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak
> bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah.
>
> Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan
> menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.
> Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan
> sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya
> selama di dunia. "Maka mereka sedikit tertawa dan
> banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang
> selalu mereka kerjakan". (QS At Taubah: 82).
>
>
> ---------------------------------
> Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the
> Internet in your pocket: mail, news, photos & more.
>
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
>
>
===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC