om..kalau Allah masih membiarkan mata kita menangis dengan caraNya
memberikan banyak ujian pada kita, itu tandanya Allah belum lupa pada
kita dan Dia masih ingat akan adanya diri kita.

hanya kadang orang lupa, bahwa dengan tidak mudahnya dirinya untuk
menangis dan menganggap dirinya lebih kuat dari yg sebentar2 menangis.
hmm..yg aku tahu, Rasulullah sering kali menangis, tapi bukan berarti
menunjukkan betapa cengengnya beliau, tapi betapa lembutnya hati
beliau dan betapa dekatnya beliau dengan Tuhannya hingga beliau
mengatahui hal2 yg tidak pernah kita ketahui dan selalu membuatnya
menangis. diantara para sahabat Rasulullah, Abu Bakarlah yg paling
mudah menangis, dan bukan berarti Umar yg terkenal dengan julukan
singa padang pasir dipundaknya, tidak pernah menangis?:) yg membuat
Umar kembali sering menangis, pada saat mengingat dosa2nya sebelum
masuk ke dalam islam, dimana dahulu telah tega membunuh anak
kandungnya sendiri.

hmm..Nabi Yakub pun karena menangis menyebabkan kedua matanya buta,
karena kesedihan dirinya yg ditinggal menghilang tanpa pesan oleh
anaknya Yusuf. bukan berarti Nabi Yakub orang yg lemah dan cengeng
tapi lebih kepada beliau seorang yg lembut dan penyayang.

hmm..kadang aku ingin segera malam tiba, pada saat di siang hari
segala masalah menyesakkan dadaku, hanya sekedar untuk menangis dan
mengadukan semua masalah yg menghimpit dan Subhanallah segala beban di
dada kadang terasa ringan, pada saat penyumbatnya ditumpahkan.

hmm..ternyata tangisanpun mengobati segala rasa sakit yg sifatnya
fisik maupun non fisik. hmm..aku ada cerita lucu, pada saat anakku ku
bawa ke tukang urut untuk di urut, saat itu aku melihat anakku nda mau
menangis, tapi susah payah menahan sakit akibat urutan di tangannya,
hmm..karena mengetahui keadaannya waktu itu aku langsung berkomentar 

"kak..kalau kerasa sakit nangis aja..?!" kataku senyum2 dan tanpa
memerintahkannya 2x, anakku langsung teriak nangis dan air matanya
kontan jatuhan semua. dan waktu lihat itu, aku jadi geli sendiri dan
jadi ketawa sendiri..hehehehe mosok nangis aja harus tunggu komando :)
hehehe

oh iya..ternyata air mata juga jadi obat mujarab untuk membersihkan
kotoran2 yg terdapat di mata, orang yg sering menangis biasanya
matanya lebih jernih ketimbang yg jarang menangis dan lebih sehat
tanpa bantuan kaca mata dari pada yg tidak suka menangis. hehehe..

aku pribadi pantang menangis kalau hanya dibentak2 oleh orang or
siapapun, but jadi pingin nangis kalau tahu dengan jelas itu orang
tukang bohong tapi seolah2 benar. nangis kesel pingin nonjok. hehehe
or kalau lihat sinetron yg haru biru, jadi suka latah pingin ikutan
nangis. or dengar cerita teman yg lagi sedih, biasanya suka latah juga
pingin nangis. hehehe is ok lah dibilang cengeng yg penting beban di
dada jadi berkurang..*_^



salam
hana





--- In [email protected], "Pepeng" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Selasa, 20 Februari 2007
> 
> Air Mata 
> 
> Ferrasta 'Pepeng' Soebardi 
> 
> 
> Saudaraku, banyak orang berpendapat mengalirkan air mata, identik
dengan perempuan. Juga, identik dengan lemah, cengeng, dan banyak
label yang mengacu pada kerapuhan. Benarkah begitu? Sejak dulu saya
tidak sependapat!
> 
> Dua tahun belakangan ini pendapat saya menguat. Hari ini saya
semakin yakin mengalirkan air mata adalah signal, anugerah yang tiada
duanya. Signal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menangis adalah
manifestasi dari kemahalembutan Allah Sang Khalik.
> 
> Saudaraku, insya Allah setiap orang pernah merasakan aliran aneh yg
membuat air mata kita mengalir. Penyebabnya bisa apa saja. Membaca
kisah hidup seseorang, mendengar pernyataan orang, atau melihat
penderitaan orang. Bahkan, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba air mata
kita mengalir. Bahkan, datangnya sebuah kabar yang sangat menyenangkan
pun, kadang air mata bergulir menetes.
> 
> Berbahagialah mereka yang selalu menyebut asma Allah setiap
mengalirnya air mata. Karena, kita selalu ingat dari mana sumber
kelembutan yang kita miliki itu.
> 
> Mungkin kita pernah mengalami masa di mana kita tidak sempat
mengalirkan air mata. Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, kita
tidak menangis. Melihat kepedihan orang --lalu mencoba berempati
dengan kitalah yang menanggung kepedihan itu-- air mata tak setitik
pun menetes. Benarkah itu hebat? 
> 
> Mungkin ya, tergantung dari mana kita melihatnya. Walau saya tidak
menolak dan setuju siapa pun boleh mengalirkan air mata, tapi pernah
saya berpikir, ''Menangis? Tak sempatlah bagi saya untuk menangis.''
Namun, hari ini saya sadar, berarti saya adalah orang yang tidak
sempat melembutkan hati. 
> 
> Ya Allah, maafkan keangkuhan hamba. Ya Latief, lembutkan hati hamba
untuk bisa merasakan semua takdir-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan
signal hati hamba ya Rahman, ya Rahim, agar hamba selalu bisa
menangkap dengan cerdas semua tanda-tanda kebesaran-Mu tanpa harus
merasa kecil hati, lemah, dan ketakutan. Jadikanlah air mata kami
sebagai tanda kedekatan hamba kepada-Mu.
> 
> Akhirnya mendung di mata tak terbendung lagi. Meringankan semua rasa
yang berbaur menjadi satu, melihat begitu banyak bencana datang silih
berganti di muka bumi ini. 
> 
> Peliharalah kami ya Muhaimin. Amin yaa mujibass saailiin. ''Dan
sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah
orang yang mengambil pelajaran?'' (Al-Qamar [54]: 17)
> 
> 
> 
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Ica Harahap 
>   To: SI ; DT 
>   Sent: Wednesday, September 19, 2007 2:30 PM
>   Subject: [syiar-islam] Menangis
> 
> 
>   Kiriman dari seorang saudara... Semoga bermanfaat..
> 
>   Menangis. 
>   Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia
menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi
yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran
yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia
tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang
dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan
gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa
bahkan berpaling dari kebenaran.
> 
>   Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia
merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam
cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan
musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika
mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis
adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai
prinsip hidup. 
> 
>   Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah
kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai
peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw
meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim.
Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai
Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa
menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw
karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika
melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al
Qur'an, ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika) manusia berdiri
menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu
juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya
seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. 
>   Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar
memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka.
Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka. 
> 
>   Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan
naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah
orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia
meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat
berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa
dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak
sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang
mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada
Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di
dunia ini. 
> 
>   Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin
akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga lembutan dan
kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat
kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya
terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan
umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan
bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai
ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap
membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin
tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa
memohon kepada Tuhan semesta alam. 
> 
>   Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran.
"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul
(Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab
mereka sendiri) seraya berkata: "Ya Robb kami, kami telah beriman,
maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas
kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad)". (QS. Al Maidah: 83).
> 
>   Ja'far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16
hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar
ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia
mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal
kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab
kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar
merasakannya. 
> 
>   Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan
ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia
justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat
apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin
Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada
hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di
akhirat nanti, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan)
pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak
akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka". (QS. An Nisa': 145) 
> 
>   Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka
menangislah disaat membaca Al Qur'an, menangislah ketika berdo'a di
sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang
terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika
mendengar ayat-ayat Allah. 
> 
>   Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk
serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak
menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama
di dunia. "Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai
pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan". (QS At Taubah: 82).
> 
> 
>   ---------------------------------
>   Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your
pocket: mail, news, photos & more. 
> 
>   [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>    
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke