Wa'alaikum salam wr wb,
Jika kita kaji ayat Al Qur'an, maka ketaatan itu
adalah kepada Allah SWT dan Rasulnya. Ada pun terhadap
Ulil Amri itu tidak ada tambahan kata taatilah
(athii'u).
4. An Nisaa'
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Dari ayat di atas, maka kita harus taat pada perintah
dan larangan Allah. Ulil Amri ditaati jika mematuhi
aturan Allah dan Rasul. Jika ada perbedaan pendapat,
maka kita kembalikan/berpegang dapa Al Qur'an dan
Hadits.
Jadi tidak bisa kita mengikuti Ulil Amri dengan tidak
menjalankan perintah Allah dan melanggar larangan
Allah.
Oleh karena itulah ketika Umar Ra dilantik jadi
Khalifah dan jika dia salah dia mohon dikoreksi,
seorang sahabat menghunus pedang dan berkata bahwa
jika Umar ra menyimpang, dia akan membenarkannya
dengan pedangnya.
Aisyah ra, Mu'awiyah, dan beberapa sahabat berontak
kepada khalifah Ali ra padahal Khalifah Ali ra
merupakan pemimpin yang lumayan lurus. Jika ada
pemimpin yang zholim, maka seluruh sahabat/rakyat bisa
berontak menggulingkannya.
Ini persis ketika imam sholat. Dia mengimami
berdasarkan aturan yang telah ditetapkan Allah dan
rasulnya. Jika menyimpang, makmum tidak mengikutinya
dan mengkoreksinya. Jika imam kentut, maka dia harus
diganti. Sistem kepemimpinan Islam seperti itu.
Tidak benar jika rakyat nrimo saja bahkan ketika
dibunuh oleh pemimpinnya diam saja tanpa berusaha
memberikan perlawanan dengan alasan pemimpin masih
sholat. Padahal orang yang membunuh sesama Muslim
bukan bagian dari Islam, begitu kata Nabi.
4. An Nisaa'
60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang
mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan
sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut,
padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut
itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan)
penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Ini adalah sambungan dari ayat di atas bahwa ummat
Islam baik itu pemimpin atau rakyat harus mengikuti
hukum yang diturunkan oleh Allah SWT.
4. An Nisaa'
61. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu
(tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan
kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang
munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya
dari (mendekati) kamu.
Rakyat yang mengikuti pemimpin zhalim secara membabi
buta kelak akan disiksa di neraka:
33. Al Ahzab
67. Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya
kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami
dari jalan (yang benar).
Allah memerintahkan kita bersatu. Artinya 1,4 milyar
ummat Islam ini harusnya punya 1 pemimpin dan tidak
berpecah-belah:
3. Ali 'Imran
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.
Pada saat dikatakan taatilah pemimpin tentu mentaati
pemimpin yang satu. Bukan banyak pemimpin. Misalnya
pemimpin Indonesia menyuruh rakyat Indonesia perang
melawan Malaysia. Pemimpin Malaysia memerintahkan
rakyatnya perang melawan Indonesia. Jika masing2
mentaati pemimpin2 tsb, maka ummat Islam saling bunuh
padahal itu diharamkan.
Demikian pula pemimpin Iraq menyuruh rakyatnya perang
melawan Saudi, Kuwait, dan Qatar. Pemimpin Saudi,
Kuwait, dan Qatar juga menyuruh seperti itu.
Itu bukanlah pemimpin yang dimaksud dalam Al Qur'an.
Yang dimaksud dalam Al Qur'an adalah pemimpin yang
tunduk pada Allah dan rasulnya sebagaimana ayat Al
Qur'an di atas.
Wassalam
--- Muhammad Shulfi Alaydrus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
>
> Bismillaahir rahmaanir rahiimi,
> Alhamdu lillaahil ladzii ja'alanaa minan
> naashihiina, wa afhamanaa min 'uluumil 'ulamaa-ir
> raasikhiina, wash shalaatu was-salaamu 'alaa man
> nasakha diinuhu adyaanal kafarati wath
> thaalihiina, wa 'alaa aalihi wa ashhaabihil ladziina
> kaanuu bitamas-suki syarii'athihi shalihiina.
>
> "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha
> Penyayang,
> Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita
> termasuk para penasihat, dan yang telah
> memberi kepahaman kepada kita dari berbagai ilmu
> para 'ulama yang ahli, dan mudah-mudahan
> shalawat serta salam tetap dilimpahkan kepada (Nabi
> Besar Muhammad) yang agamanya menghapuskan
> agama-agama orang kafir dan orang yang jahat, dan
> semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan
> kepada keluarga dan para shabatnya yang baik yang
> selalu berpegang dengan syari'atnya".
>
> Wahai saudara-saudariku yang dicintai Allah Swt.
> disini saya sebagai hamba yang faqir dan dhaif
> ingin memberikan sedikit pengetahuan yang mungkin
> tidak seberapa dengan ilmu saudara-saudari
> ketahui/miliki. Disini saya bukan menggurui tetapi
> sekedar membagi sedikit pengetahuan untuk
> menambah ilmu bagi yang belum mengetahui dan
> menambah keyakinan kita dalam beramal untuk
> mencapai ridha Allah Swt. bagi yang sudah
> mengetahui.
>
> Wajib mentaati perintah penguasa, dan melanggar
> dalam maksiat.
>
> Qaalallaahu ta'alaa : Yaa ayyuhaalladziina aamanuu
> athii'uullaaha wa athii'urrasuula
> wa uuliil amri minkum.
> Allah Ta'ala berfirman : "Hai orang-orang yang
> beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan
> ulil amri diantara kamu". (An-Nisa' : 59)
>
> Wa 'anibni 'umara radhiyallaahu 'anhuma 'aninnabiyyi
> shallallaahu 'alaihi wasallama Qaala :
> 'alaalmar'il-muslimis-sam'u warh-thaa'atu fiimaa
> ahabba wakariha illa an yu'mara bima'shiyatiin
> faidza umira bima'shiyatiin falaa sam'a walaa
> thaa'ata.
> Dari Ibnu Umar ra., dari Nabi Saww., beliau bersabda
> : Seseorang muslim wajib mendengar dan taat
> terhadap perintah yang disukainya maupun yang tidak,
> kecuali bila ia diperintah mengerjakan
> kemaksiatan, maka ia tidak wajib mendengar dan
> taat". (Hr.Bukhari dan Muslim)
>
> Wa 'anibni 'umara radhiyallaahu 'anhuma wa 'anhu
> qaala : sami'tu rasuulallahi shallallaahu
> 'alaihi wasallama yaquulu : man khala'a yadan min
> thaa'atin laqiiallahu yaumalqiyaamati wala
> hujjatalahu, wa man maata walaisa fii 'unuqihi
> bai'atun, maata miyyatan jaahiliyyatan.
> Dari Ibnu Umar., ia berkata : Saya mendengat
> Rasulullah Saww. bersabda : "Siapa saja yang
> melepaskan diri dari ketaatan, pada hari kiyamat ia
> akan bertemu Allah tanpa dapat mengajukan
> alasan. dan saiapa saja yang meninggal dunia sedang
> dilehernya tidak ada tanda bai'at
> (janji setia), maka ia mati seperti pada jaaman
> Jahiliyah. (Hr.Muslim)
> Wafii riwaayatin lahu waman maata wahuwa mufaariqun
> lil-jamaa'ati fainahu yamutu miitatan
> jaahiliyyatan.
> Dalam Riwayat lain dikatakan : "Siapa saja yang mati
> sedang ia memisahkan diri dari jamaah,
> sungguh ia telah mati seperti pada jaman
> Jahiliyah".
>
> Wa 'an anasin radhiyallaahu anhu qaala : Qaala
> rasuulallahi shallallaahu 'alaihi
> wasallama : Asma'uu wa athii'uu wa inistu'mila
> 'alaikum 'abdun habasyiyyun ka'ana ra'sahu
> zabiibatun.
> Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah Saww.,
> bersabda : "Dengar dan taatilah ! Walaupun yang
> menguasaimu seorang budak Ethopia, yang bentuk
> kepalanya seperti biji kurma". (Hr.Bukhari)
>
> Wa 'an Abii hurairata radhiyallaahu 'anhu qaala :
> Qaala rasuulallahi shallallaahu 'alaihi
> wasallama : 'Alaikas-sam'a wath-thaa'ata fii usrika
> wayusrika wamansyathika wamakrahika
> wa asyaratin alaika.
> Dari Abi Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah
> Saww., bersabda : "Kamu harus selalu mendengar
> dan taat pada penguasa (pemerintah yang sah), baik
> dalam hal yang sulit, menyenangkan,
> dan menjemukan walaupun ia tidak memperdulikan
> kamu". (Hr.Muslim)
>
> Wa 'an Abii hurairata radhiyallaahu 'anhu qaala :
> Qaala rasuulallahi shallallaahu 'alaihi
> wasallama : man athaa'anii faqod athaa'allaaha,
> waman 'ashaanii faqod 'asha'allaaha,
> waman yuthii'il-amiira faqod athaa'anii, waman
> ya'shil-amiira faqod 'ashaani.
> Dari Abi Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah
> Saww., bersabda : "Siapa saja yang taat
> kepadaku, ia telah taat kepada Allah, dan siapa saja
> yang durhaka kepadaku, ia telah
> durhaka kepada Allah, siapa saja yang taat kepada
> pimpinannya, ia telah taat kepadaku, dan
> siapa saja yang durhaka kepada pimpinannya, ia telah
> durhaka kepadaku. (Hr. Bukhari dan Muslim)
>
> Wa 'anibni 'abbaasin radhiyallaahu 'anhuma : 'an
> rasuulallaahi shallallaahu 'alaihi
> wasallama qaala : man kariha min amiirihi syai'aan
> falyashbir ! fainnahu man kharaja
> minas-sulthaani sibran maata miitatan jaahiliyyatan.
>
> Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah Saww.
> bersabda : "Siapa saja yang benci terhadap
> tindakan penguasanya, hendaklah ia sabar !
> Sesungguhnya orang yang meninggalkan raja (membelot)
>
> walau hanya sejengkal, ia akan mati seperti mati
> pada jaman Jahiliyah". (Hr.Bukhari dan Muslim)
>
> wa 'an avii bakrata radhiyallaahu anhu qalaa ;
> Sami'tu rasulallahi shallallaahu 'alaihi
> wasallama yaquulu : man ahaanas-sulthana
> ahaanallahu.
> Dari Abu Bakar ra., ia berkata : Sya mendengar
> Rasulullah Saww. bersabda : "Siapa saja
> yang menghina penguasanya, Allah akan menghinakan
> dirinya". (Hr.Tirmidzi)
>
> Wabitsubuuti ru'yati hilaali ramadhaana
> 'indal-qaadhi bisyahaadati adlin baina yadaihi
> kamaamarra, wama'a qaulihi "tsabata 'indi"
> yajibush-shaumu alaa jamii'i ahlil-baladil-marii
> fiihi.
> Dan (wajib puasa) dengan adanya persaksian bahwa
> melihat hilal Ramadhan oleh seorang adil
> dihadapan Qadhi (pemerintah) lalu sang Qadhi
> mengatakan "Saya menerima dan menguatkan
> persaksian tersebut" maka tibalah kewajiban berpuasa
> atas segenap penduduk daerah yang
> hilal tampak dari sana (tempat daerahnya). (Kitab
> Fathul Mu'in)
>
> Untuk menetapkan (Ru'yatul Hilal) awal Ramadhan
> cukup dengan seorang saksi, sedangkan untuk awal
> Syawwal maka wajib dengan dua orang saksi. (Kitab
> Taudhihul-Adillah jilid I hal.156)
>
> Wahai saudaraku yang dimuliyakan Allah, sudah jelas
> dari al-qur'an dan hadis-hadis tersebut di
> atas bahwa kita harus taat sama pemerintah. jadi
> dalam menetapkan puasa atau idul fitri
> (1 Syawwal) kita tidak usah pusing dan ragu, karena
> kita wajib mengikuti pemerintah kita yang
> sah, karena untuk menetapkan 1 Ramadhan atau 1
> syawwal, pemerintah mempunyai MUI (Majelis Ulama
> Indnesia), yang salah satu tugasnya untuk melihat
> (bulan) dan menetapkan ramadhan atau 1 syawwal
> (idul fitri). "Apabila ada seseorang atau golongan
> sudah menetapkan bulan (ramadhan atau
> syawwal) tersebut hanya boleh untuk dirinya sendiri
> saja, maka mereka tidak berhak untuk menyebar
> luaskan karena bukan wewenang mereka dan bagi mereka
> yang menyebarluaskan akan mendapatkan
> dosa, juga akan menimbulkan kekacauan, perpecahan,
> keragu-raguan pada umat islam".
> (Al-Allamah Al-Habib Salim Mauladdawilah),
>
> Huwallaahu A'lam Bisawab
>
> Washallallaahu Alaa Sayyidina Muhammadin Wa Alaa
> Alihi Wa Shahbihi Wattaabi-iina Lahum Bi'ihsaanin
> Ilaa Yaumiddiini Walhamdulillahi Rabbil Aalamiin.
>
> Referensi :
> * Riyadhush-Shalihin -> Imam An-Nawawi
> * Fathul Mu'in -> Syaikh Zainuddin bin Abdul-Aziz
> Al-Malibariy
> * Taudhihul-Adillah -> K.H.M. Syafi'i Hadzami
>
>
> Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
>
===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
____________________________________________________________________________________
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel.yahoo.com/