Sumber : www.taushiyah-online.com
   
  “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit 
tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan 
segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya 
teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan 
akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya 
banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke 
pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan 
tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya 
sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian 
kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan- Nya kepadamu apa yang 
kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa 
banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan 
jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau 
tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. 
Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa 
beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk 
mempertanggungjawab kan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di 
hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang 
sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali 
dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat 
lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah 
sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita 
peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang 
lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai 
manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya 
(tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia 
musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). 
Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian 
kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir 
lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak 
henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” 
begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari 
cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, 
kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun 
tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar 
pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang 
suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan 
satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah 
pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, 
Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam 
daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. 
Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih 
surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah 
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu 
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa 
malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) 
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah 
datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat 
dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam 
tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. 
Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia 
saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan 
akhir nasib seorang anak manusia.
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari 
isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai 
urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia 
cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan 
pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh 
siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka 
pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua 
bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak 
ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah 
siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita 
sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas 
di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah 
tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru 
menangislah karena ketidakmampuan itu. 
   
  Sumber : www.taushiyah-online.com

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke