6 Mengapa Meyakini Kalimah Thayyibah? Mengapa kita harus meyakini kalimah thayyibah? Keuntungan apa yang akan kita peroleh dengan meyakini kalimah tersebut? Mari kita coba temukan jawaban atas persoalan penting ini.
Kita melakukan segala sesuatu tentu saja tidak lepas dari tujuan atau keuntungan yang kita inginkan. Kita tidak pernah melakukan suatu perbuatan tanpa ada tujuan atau keperluan. Mengapa kita minum air? Karena akan menghilangkan haus. Jika air yang kita minum tidak dapat menghilangkan rasa haus, tentu kita tidak akan melakukan hal yang sama di lain kesempatan ketika merasa haus. Mengapa kita makan? Karena kita ingin mengatasi rasa lapar dan memelihara kekuatan agar tetap hidup. Jika tidak ada perbedaan kita makan atau tidak, secara alamiah kita merasa bahwa makan yang kita lakukan menjadi perbuatan yang sia sia. Mengapa kita minum obat ketika sakit? Karena kita ingin sembuh dari rasa sakit dan memperoleh kesehatan. Kita tidak minum obat manakala tidak ada gunanya. Mengapa kita bekerja keras mengolah tanah? Sebab dengan mengolah tanah, tanaman, tumbuhan dan buah buahan bisa dihasilkan. Akan tetapi jika tidak ada yang tumbuh setelah kita menyemai benih, kita tidak akan lagi mengolah tanah tersebut untuk menyemai benih dan mengairinya. Jadi apa pun perbuatan yang kita lakukan pasti tidak lepas dari tujuan yang ingin kita capai. Jika tujuan itu tercapai, kita sebut membuahkan hasil, dan jika gagal, kita sebut sia sia. Sukses di Akhirat Terlintas dalam pikiran kita, mengapa kalimah thayyibah mesti diucapkan? Jawabannya adalah: untuk menunjukkan perbedaan antara orang kafir dengan orang Islam. Namun, apa dasar perbedaan itu? Apakah kalau orang kafir memiliki dua mata, orang Islam memiliki empat buah? Ataukah jika orang kafir memiliki satu kepala, orang Islam memiliki dua? Jawaban kita: Tidak! Bukan seperti ini jawabannya. Yang dimaksudkan bahwa harus ada perbedaan dalam hal tujuan dan hasil yang dicapai dalam kehidupan orang Islam dan kehidupan orang kafir. Hasil akhir dari kehidupan orang kafir adalah kegagalan. Mereka akan gagal memperoleh kasih sayang Tuhan di alam sana, di akhirat, dan akan celaka. Sedangkan orang Islam akan meraih kesuksesan. Mereka akan mendapatkan kasih sayang-Nya, memperoleh kebahagiaan dan pahala di sisi Allah SWT. Dunia dan Akhirat Jawaban di atas memang benar. Tetapi muncul pertanyaan: Bagaimana sifat akhirat? Apa makna memperoleh kegagalan di akhirat? Apa makna sukses dan memperoleh pahala? Kita tidak akan menunda menjawab pertanyaan ini. Pertama, karena ada hadis Nabi saw sendiri yang menyatakan bahwa, Dunia adalah tempat bercocok tanam untuk memperoleh kehidupan akhirat. Dunia dan akhirat bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan merupakan satu proses yang berurutan. Proses ini berawal di dunia dan berakhir di akhirat. Hubungan antara keduanya adalah seperti mengolah tanah dan memelihara tanaman. Kita mengolah tanah, menyemai benih, mengairi dan merawat persemaian sampai tanaman tumbuh. Ketika kita memperoleh hasil panen, kita menikmatinya sepanjang tahun. Secara alamiah, kita akan memanen apa yang kita tanam di atas tanah. Jika kita menanam gandum, hanya gandum yang akan tumbuh. Jika rumput yang kita tanam, rumput itu yang akan tumbuh, jika tidak ada yang kita tanam, tidak ada tanaman yang tumbuh. Kesalahan yang kita lakukan dalam mengolah tanah, mengairi atau merawat persemaian, akan berakibat pada saat panen. Namun, jika kita melakukan persiapan persiapan penting sebelumnya, kita akan memperoleh hasil lain pada saat menuai panen. Seperti inilah posisi dunia dan akhirat. Dunia seperti tanah yang diolah. Manusia diciptakan di dunia ini untuk bercocok tanam bagi dirinya sendiri melalui upaya upaya dan kerja kerasnya. Mereka diberi waktu khusus dari lahir sampai meninggal untuk melakukan upaya upaya tersebut. Jenis tumbuhan apa pun yang ditanam, akan di panen di alam baka. Dan apa yang dihasilkannnya akan menentukan kehidupannya di akhirat. Jika kita menanam benih yang bagus di tempat persemaian dunia dan merawatnya dengan air dan memeliharanya dengan hati hati, kita akan memperoleh hasil di akhirat berbentuk tanaman tanaman yang indah. Kita bisa hidup dengan bahagia menikmati buah dari tanaman yang kita tanam dengan tekun di sepanjang kehidupan dunia. Kita tidak perlu bekerja keras lagi di akhirat. Inilah surga, inilah kesuksean, inilah kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya, jika kita menanam tanaman yang berduri dengan buah yang pahit dan beracun di dunia, kita pun akan menuai tanaman yang sama di akhirat nanti. Dan kita tidak diberi kesempatan untuk yang kedua kalinya untuk menanam tanaman yang baik, dan kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali merawat tanaman di tempat persemaian yang buruk. Kita akan berbaring di tempat pembaringan berduri yang kita ciptakan sendiri, makan buah pahit beracun hasil tanaman yang kita tanam di dunia. Inilah arti kegagalan dan kesedihan di akhirat. Insyaallah bersambung (Sumber : al-Maududi, Abul Ala . Let Us Be Muslims / Menjadi Muslim Sejati, Jogjakarta : Mitra Pustaka, 1998) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

