3. Sikap kita terhadap kondisi saat ini (bukan kondisi ideal / seharusnya)
   
  Sebagai muslim, adalah kewajiban bagi kita untuk melaksanakan Islam secara 
kaffah, ada pun karena suatu hal kewajiban itu terhalang, maka setidaknya kita 
harus tahu terlebih dahulu ajaran Islam secara lengkap untuk kemudian di 
tunaikan.
   
  Bila ada seseorang yang berikrar dengan mngucapkan lafaz dua kalimat 
syahadat, dimana dia mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT dan dia 
juga mengakui bahwa muhammad itu adalah nabi dan Rasul Allah, maka secara 
status dia adalah seorang muslim. 
  
Sehingga semua hal yang terkait dengan hukum, maka kepadanya diperlakukan 
sesuai dengan statusnya sebagai muslim. Misalnya, bila di mati, maka 
dimandikan, dikafani dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan muslim. Dia boleh 
menikahi wanita muslimah, boleh menjadi wali bagi anaknya yang muslimah, berhak 
mewarisi dan diwarisi hartanya dan lain sebagainya. 
  
Sedangkan disisi Allah SWT, tentu saja bila ikrar syahadatnya itu benar-benar 
murni dari lubuk hati akan diterima oleh-Nya dan dimasukkan ke dalam barisan 
hamba-Nya. Bahwa dalam perjalananya menjadi muslim dia terkadang suka melakukan 
maksiat, atau dosa dan hal-hal yang melahirkan ancaman dari Allah SWT, tentu 
tidak serta merta mengeluarkannya dari barisan muslimin. 
  
Sebab dalam pandangan Islam, dosa kecil dan dosa besar manusia itu tidaklah 
menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Ada dua kemungkinan mengapa manusia 
berbuat dosa demikian. Pertama, mungkin ilmunya belum sampai. Kedua, ilmunya 
sudah sampai tapi hatinya memang ingkar kepada Allah. Sedangkan apa saja yamg 
menyebabkan kekafiran, akan kami jelaskan di bab selanjutnya. Dengan catatan 
jangan lupa “Kaidah Takfir dan Peringatan Penting” yang telah kami sampaikan di 
bab dua di atas.
   
  Karenanya bisa ada seorang muslim yang melakukan kesalahan, ia tetap masuk 
surga. Hanya saja, bisa saja ia langsung masuk ke dalam surga atau mampir dulu 
ke neraka. Artinya, masuknya seorang muslim yang berdosa ke dalam neraka tidak 
untuk selama-lamanya. 
  
Dalam hal ini ada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, 
  Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila ahli surga telah masuk 
surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata,'Orang 
yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan!' Maka mereka pun 
keluar dari neraka." …(HR. Bukhari 6560 dan Muslim 184) 
  
Dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Dikeluarkan dari neraka orang yang 
mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari 
kebaikan (iman). (HR. Bukhari 44 dan Muslim 193) 
  
Ada juga hadits yang isinya merupakan sumpah Allah SWT bahwa orang yang 
mengucapkan syahadatain itu akan dikeluarkan dari neraka. 
  
Dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang Allah SWT yang   
berfirman,”Demi Izzah-Ku, demi Jala-Ku, demi Kesombongan-Ku dan demi 
Keagungan-Ku, Aku pasti keluarkan (dari neraka) orang yang mengucapkan (Laa 
ilaaha illallah) (HR Bukhari) 
   
  Semua hadits di atas dan masih banyak lagi hadits di atas memang memberikan 
jamiman bahwa orang yang telah pernah mengucapkan syahadatain itu pastilah 
dikeluarkan dari neraka dan masuk ke dalam surga.
  
Hanya saja masalahnya, tidak ada jaminan bahwa sebelum masuk ke surga itu 
apakah akan mampir ke neraka dulu atau tidak. Yang kedua, tentu saja yang 
dimaksud dengan mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah ikrar yang datang 
dari lubuk hati, bukan sekedar asal bunyi tapi tanpa rasa percaya.

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke