Kenyataan sehari2 ini sering meresahkanterutama sahabat2ku ikhwan dan
akhwat ( he he he saya juga ), tapi sebenarnya apabila kita mencermati
lebih jauh, hal tsb merupakan tanda kasih sayang Allah kepada kita,
kenapa ? Karena Allah lah yang paling tahu akan kebutuhan hamba-Nya,
dalam satu "SITUS" hati kita pasti Allah melihat ke"BELUM" siapan,
mungkin dari bekal "ruhiyah" atau mungkin "jasadiyah". Disini lagi2 kita
diharuskan untuk berhikmah dalam setiap hal, kmdn membuat action plan
yang sesuai dengan kaidah2 syar'i... Nah..lho,.. :) Kembali lagi, kepada
manusia, bahwa segala sesuatu harus diIKHTIYARKAN, disamping kita juga
harus ikhtiyar dalam diri pribadi kita dengan terus menempa diri dengan
bekal2 ruhiyah ataupun yang lain, adalah tanggungjawab sosial kita pula.
Kalau saya baca kisah2 di jaman Rasulullah dulu,bahwa urusan jodoh
adalah termasuk urusan ULIL AMRI, tapi rupanya ulil amrinya kemaren
sedang disibukan dengan sembako. Nah diatas baru salah satu saja,
alternatif tinjauan kewajiban sosialnya saja, mau lengkap, bagaimana
keterkaitan, peran & tanggung jawab sosial dalam urusan BARANG yang satu
ini, silahkan cermati article berikut, syukur 2 kalau mau dikomentarin
lebih lanjut...Begitulah komentar dari saya, minta maaf kalau terkesan
"sok tahu"... hehe he, ( abis sepi banget sih... milisnya ) 
Jazakumullah khairan katsiran.

Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba. Pasangan hidup adalah belahan jiwa. Tempat
hati menemukan ketentraman dan kasih sayang. Tak heran, sebelum berjumpa
dengannya, jiwa selalu mendamba. Konon jodoh seperti rezeki. Kadang
muncul tanpa diduga, tetapi sering luput walau sudah jatuh bangun
mengejarnya. Banyak cara manusia berburu jodoh. Dijodohkan barangkali
cara paling tua. Biasanya orang tua atau kerabat yang lebih tua berperan
dominan. Calon yang dipilihkan kadang masih terhitung kerabat atau
tetangga yang sudah dikenal bobot, bibit dan bebetnya. Menjaga hubungan
silaturahmi adalah salah satu alasan orang tua menjodohkan anaknya.
Banyak pasangan telah membuktikan keampuhan cara ini. Perkawinan
pasangan tua yang langgeng puluhan tahun merupakan bukti
keberhasilannya. Namun, ada juga orang tua yang menjodohkan anak dengan
motivasi lain misal karena harta atau kedudukan. Motivasi 'tertentu'
tersebut seringkali melahirkan pemaksaan kehendak terhadap anak.
Alhasil, tak sedikit rumah tangga yang berakhir tragis. Beberapa dekade
belakangan perjodohan lewat orang tua atau kerabat tak lagi populer.
Bahkan kerap dicandai sebagai cara mencari jodoh ala zaman Siti Nurbaya
Pengaruh budaya dan nilai dari luar telah mengubah cara pandang sebagian
masyarakat. Mencari pasangan sendiri lebih disukai. Supaya lebih sesuai
dengan selera dan aspirasi, barangkali. Sebelum memasuki jenjang
perkawinan, masing-masing pihak merasa perlu mengenal calon pasangan
hidupnya lebih jauh. Akhirnya, orang tua pun menyerahkan sepenuhnya pada
anak. Muncullah "tradisi" pacaran. Dalam perkembangannya pacaran
kemudian menyimpang menjadi sekedar ajang "bersenang-senang" dengan
lawan jenis tanpa ikatan dan komitmen jelas. Bahkan belakangan batasan
tentang interaksi antar pacar menjadi semakin permisif dengan titik
ekstrim, berzina. Pacaran sebagai cara mencari jodoh mempunyai
kelemahan. "Menurut saya, ketika orang berpacaran, maka pada saat itu
mereka menjadi buta. Biasanya yang jelek pun jadi terlihat baik. Cinta
membuat semua keburukan akan terlihat baik-baik saja. Katakanlah
kebaikannya ada 3, kejelekannya ada 9, bisa-bisa yang kelihatan cuma
yang 3 itu saja. Pacaran juga bukan jaminan rumah tangganya akan baik.
Ada yang sudah pacaran 10 tahun, terus tidak jadi menikah. Semakin lama
pacaran kan bikin orang bosan semua. Dalam agama sebenarnya pacaran
tidak diperbolehkan. Apalagi dengan gaya pacaran sekarang yang cenderung
serba bebas. 
Kita memang harus berusaha, berikhtiar apapun bentuk ikhtiar, sepanjang
yang kita lakukan itu untuk tujuan yang benar Insya Allah akan
memperoleh ridlo-Nya. Seringkali dalam upaya ini banyak kendala terjadi
yang meyebabkan keputus-asaan, karena apa yang kita pohonkan belum
tercapai juga. Kenyataan ini bukan hanya karena "kekurang-siapan" kita
mendapatkannya, bukan. Masih segar dalam ingatan kita kisah yang dikirim
di beberapa milis tentang keputus-asaan seorang hamba Allah karena
do'anya yang belum juga dikabulkan. Saat dia menghentikan do'a itu
bermimpilah, salah satu dialog yang muncul saya cuplikan sbb : "Wahai
Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah menciptakan
dirimu yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku
hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi
kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah terus beralasan
bahwa semua tergantung dariMu. Maafkan aku selama ini, ampuni aku selama
ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !" Ampuni dia yaa Al
'Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!". Tersentak beliau, itu..._u
kata-kataku semalam ...celaka, pikirnya. Kemudian terdengar suara lagi :
"Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan
Aku paling suka melihat wajahnya yang terpendam menangis, bersimpuh
dengan menengadahkan tangannya yang gemetar kepadaKu, dengan
bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan pemintaan-permintaannya
kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak Aku
berikan kepadanya agar lebih lama dan sering Aku memandang wajahnya, Aku
percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging
haram badannya dengan sakit yang ringan. Aku sangat menyukai keikhlasan
hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat Kuberi ia cobaan tak pernah Ku
dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya. Aku rindu kepadanya...
rindukah ia kepadaKu, hai malaikat-malaikatKu ?" Suasana hening, tak ada
jawaban. Menyesallah beliau atas pernyataannya semalam, ingin ia
berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar,
bising dalam hatinya karenanya. "Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku
yaa Robbi, maafkan kata-kataku !" semakin takut rasanya ketika tidak
tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di
pipinya. Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii... Segeralah ia
berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu', kembali ia
sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan
berbisik-bisik dengan Al-Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi
sikapnya malam tadi selama-lamanya. " Allah, Yaa Robbi jangan engkau
ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar
berkata manis, datang dengan berlumuran dosa dan segunung masalah dan
harapan, apapun dariMu asal Engkau tidak membenciku aku rela... "Allah,
aku rindu padaMu..." Semoga menambah keimanan dan ketekunan kita dalam
mengerjakan sholat lail...amiin. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke