FENOMENA SUBPRIME MORTGAGE & 
DILEMA PEMBIAYAAN KONSUMTIF DI INDONESIA

Belakangan di mass media banyak ditulis, bahwa salah satu permasalahan krisis 
keuangan yang melanda Amerika adalah berkaitan dengan industri “subprime 
mortgage” (KPR Subprima). Diawali pada akhir tahun 2006, industri KPR subprima 
di Amerika memasuki suatu masa yang disebut "masa kehancuran KPR subprima". 
Tingginya angka penyitaan jaminan KPR subprima ini telah menyebabkan lebih dari 
24 perusahaan pemberi pinjaman KPR subprima mengalami kepailitan, salah satunya 
adalah perusahaan terkemuka yaitu New Century Financial Corporation, yang 
merupakan perusahaan KPR subprima terbesar kedua di Amerika. Kehancuran dari 
perusahaan-perusahaan KPR subprima ini telah mengakibatkan harga pasar saham 
berbasis Real estate investment trust senilai 6.5 triliun USD jatuh dan membawa 
pengaruh meluas terhadap bursa saham Amerika serta ekonomi secara keseluruhan. 
Krisis ini masih berlanjut terus dan telah mendapatkan perhatian serius dari 
media massa di Amerika serta
 pembuat undang-undang pada awal tahun 2007.

Permasalahan yang terjadi di Amerika tersebut, tampaknya tidak menjadi sebuah 
pelajaran berharga bagi praktisi keuangan di Indonesia. Dalam berita media masa 
pada awal November disampaikan bahwa perbankan mengenjot kredit konsumtif 
menjelang akhir tahun 2007 untuk memenuhi target pemberian kredit kepada 
masyarakat. Lebih lanjut, apabila kita perhatikan dengan seksama, komposisi 
kredit perbankan pada dua dekade belakangan ini, mengalami perubahan 
signifikan. Pada dekade sebelum 1990-an, komposisi kredit perbankan sebagian 
besar diperuntukkan bagi pembiayaan sektor produktif, baik itu sektor 
pertanian, sektor industri, sektor perdagangan, serta sektor produktif lainnya. 
Dengan demikian yang menjadi debitur perbankan, saat itu, kebanyakan adalah 
petani, pengusaha, ataupun pedagang. Namun seiring perubahan gaya perekonomian, 
porsi mereka dalam mendapatkan pembiayaan dari bank semakin berkurang dari hari 
ke hari. Di lain sisi, satu profesi, yaitu pekerja yang
 sebelumnya sangat jarang menjadi debitur perbankan, saat ini merupakan sasaran 
penyaluran kredit bank-bank dalam pembiayaan yang bersifat konsumtif.
 
Dari catatan perbankan nasional Indonesia per Agustus 2007, terlihat bahwa Rp 
258 trilyun dari Rp 893 trilyun atau 29% outstanding kredit perbankan di 
Indonesia merupakan kredit konsumtif langsung kepada nasabah perbankan. Di 
samping itu, terdapat pula 11% (Rp 95,679 T) merupakan kredit yang diberikan 
kepada sektor jasa dunia usaha, yang isinya sebagian besar merupakan kredit 
kepada multi finance, koperasi simpan pinjam dan institusi lainnya yang 
meneruskan pembiayaan konsumtif kepada “customer” nya. Dengan demikan, 
sebenarnya, 40% dari outstanding kredit yang diberikan perbankan Indonesia 
disalurkan kepada sektor konsumtif yang hampir seluruhnya, dinikmati oleh kaum 
pekerja. Jika dibandingkan dengan profesi pedagang, profesi pekerja sangat 
besar mendapatkan fasilitas kredit dari bank. Pemberian kredit kepada sektor 
perdagangan (termasuk hotel & restoran) “hanya” sebesar 21% (Rp 192T) dari 
total outstanding kredit perbankan Indonesia tahun 2006.
 Sektor pertanian mendapatkan jauh lebih kecil lagi, yaitu “hanya” 5,5% (Rp 
49T). Sektor industri, yang seharusnya menjadi penopang PDB di era ekonomi 
modern saat ini, “hanya” mendapatkan 21% (Rp 189,7T) saja dari total 
outstanding kredit. 
 
Berdasarkan data di atas, dapat kita lihat, bahwa yang mendorong pertumbuhan 
kredit perbankan saat ini adalah sektor konsumtif, bukan sektor produktif. 
Dengan demikian, pada saat ini, jauh lebih banyak profesi pekerja (pegawai) 
yang menjadi debitur perbankan dibandingkan profesi pedagang ataupun pengusaha 
apalagi jika dibandingkan dengan profesi petani. Hal serupa juga terjadi di 
Amerika, sebagaimana yang disampaikan Joseph E. Stiglitz dalam bukunya The 
Roaring Nineties: A New History of the World’s Most Prosperous Decade (2003), 
bahwa kini, rata-rata orang Amerika yang berhutang bukan petani, melainkan 
orang-orang yang menjadi pegawai.   
 
Seringkali kita dengar, dari para pelaku perbankan, bahwa pinjaman konsumtif 
merupakan pendorong pertumbuhan kredit perbankan yang aman. Mereka membuktikan 
dari kecilnya angka NPL (Non Performing Loan) sektor ini, pada tahun 2005 hanya 
2,26% saja. Namun keyakinan itu agak menurun karena mulai naiknya NPL sektor 
konsumtif menjadi 3,37% per Agustus 2007. Apakah keyakinan para pelaku 
perbankan terhadap kredit konsumtif yang menjanjikan benar adanya, dapat kita 
resapi dari bahasan Stiglitz pada bukunya di atas, meskipun ia tidak secara 
khusus membahas permasalahan tersebut.
 
Seorang pekerja dalam sebuah roda perekonomian sangat tergantung dengan sebuah 
produktivitas. Ketika perekonomian sedang menggunakan sumber dayanya secara 
maksimal, peningkatan produktivitas memungkinkan naiknya PDB, upah, dan 
memperbaiki standar hidup. Sebaliknya, ketika perekonomian mengalami resesi, 
semuanya akan berbalik arah dengan turunnya PDB, upah, serta memburuknya 
kualitas hidup masyarakat, termasuk profesi pekerja. Apabila resesi yang 
terjadi karena permintaan yang terbatas, misalnya output  hanya naik 1 persen 
sedangkan kapasitas produksi 3 persen lebih output, maka pekerja yang 
diperlukan menjadi lebih sedikit, sehingga akan berdampak kepada peningkatan 
pengangguran.
 
Peningkatan laju pertumbuhan produktivitas, dalam jangka pendek, bisa jadi 
menghasilkan tingkat output yang lebih rendah. Akan tetapi, angka pengangguran 
yang tinggi akan menjadi penyebab penekan upah pekerja. Situasi dunia kerja 
menjadi tidak menentu yang akan berakibat tertekannya konsumsi, atau paling 
tidak laju pertumbuhan konsumsi akan menurun. Namun, karena kapasitas produksi 
berlebih, kenaikan laba yang disebabkan oleh penurunan upah dan penurunan suku 
bunga, tidak otomatis mendorong peningkatan investasi. Akibat pertumbuhan 
konsumsi yang menurun atau melambat, maka output secara keseluruhan akan 
berkurang. Akhirnya semakin sedikit pekerja yang dibutuhkan.
 
Era “Ekonomi Baru” setelah tahun 1990 yang sangat menekankan teknologi tinggi 
dan kemudahan komunikasi informasi, turut merubah pola perusahaan dalam 
mempertahankan pekerjanya. Dahulu, perusahaan akan mempertahankan para 
pekerjanya di tengah resesi, walaupun mereka tidak terlalu diperlukan. 
Sekarang, seiring berkembangnya era ekonomi baru, berkembang pula budaya yang 
menitikberatkan pada bottom line yang mengandung arti bahwa laba hari ini bukan 
laba jangka panjang, sehingga ketika menghadapi masalah maka perusahaan perlu 
mengambil tindakan cepat dan menentukan. Mempertahankan pekerja pada saat 
perusahaan bermasalah, saat ini, dipandang sebagian pihak sebagai tindakan 
lemah hati dan rendah pikiran. Lebih jauh lagi, telah muncul idiom baru yang 
berbunyi “pecat pegawai anda begitu tidak dibutuhkan lagi, karena mereka selalu 
bisa dikontrak (outsourcing) lagi nanti saat diperlukan”.
 
Munculnya era ekonomi baru beserta budaya baru yang ditimbulkannya, akan sangat 
berpengaruh terhadap pinjaman konsumtif yang diberikan bank kepada nasabahnya, 
yang hampir seluruhnya, merupakan pekerja. Kerentanan kondisi pekerja yang ada 
saat ini akan membuat pekerja mudah sekali kehilangan pekerjaannya. Pada saat 
seseorang kehilangan pekerjaan, hal utama yang akan dipenuhi adalah kebutuhan 
pokok mereka dalam mempertahankan kehidupannya. Dari sisi psikologi, pada saat 
seseorang mempunyai sumber daya yang terbatas, maka pemenuhan kewajiban 
(hutang) akan menjadi urutan pemenuhan yang terakhir. Dengan demikian, risiko 
yang akan ditanggung oleh sebuah bank yang mempunyai portfolio pembiayaan 
konsumtif yang besar turut menjadi besar setiap siklus resesi terjadi pada roda 
perekonomian.
 
Permasalahan penting lainnya yang membayangi portfolio pinjaman konsumtif yang 
besar adalah terjadinya kondisi suku bunga tinggi. Menurut Stiliglitz, suku 
bunga tinggi sangat tidak baik bagi para pekerja (pegawai upahan), dan mereka 
akan rugi pada tiga hitungan, yaitu:
Tingginya suku bunga dapat menimbulkan naiknya angka pengangguran;
Tingginya pengangguran meletakkan tekanan terhadap besaran upah;
Akibat hutang yang dimiliki pekerja, suku bunga tinggi membuat makin 
berkurangnya kemampuan mereka mengeluarkan uang untuk kebutuhan lainnya.
Bila dikaji lebih lanjut, sistem bunga pada sebuah pembiayaan mempunyai 
pengaruh yang tidak baik bukan saja pada saat suku bunga tinggi, melainkan juga 
pada saat suku bunga rendah. Menurut Umer Chapra (1985), sistem bunga akan 
merugikan penghimpunan modal, baik suku bunga tersebut tinggi maupun rendah. 
Suku bunga yang tinggi akan “menghukum” pengusaha sehingga akan:
-         menghambat investasi dan formasi modal;
-         menimbulkan penurunan dalam produktivitas dan kesempatan kerja;
-         menyebabkan laju pertumbuhan yang rendah. 
Suku bunga yang rendah akan “menghukum” para penabung yang akan:
-         menimbulkan ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan;
-         mengurangi rasio tabungan kotor;
-         merangsang pengeluaran konsumtif yang menimbulkan tekanan inflasioner;
-         mendorong investasi yang tidak produktif dan spekulatif;
-         menciptakan kelangkaan modal dan menurunnya kualitas investasi.
 
Bagi seorang pekerja yang sangat tergantung kepada perusahaan pada era ekonomi 
baru dengan budaya perusahaan yang berbeda dengan masa lalu, kondisi suku bunga 
yang tinggi maupun rendah mempunyai dampak yang signifikan dalam pemanfaatan 
dana yang mereka peroleh maupun miliki dari hasil pekerjaan mereka.
 
Dari paparan singkat di atas, dapat disimpulkan, pendapat sebagian pihak yang 
menyatakan bahwa pembiayaan konsumtif merupakan portfolio yang menguntungkan 
dan aman pada saat ini, sebenarnya kurang tepat. Sebaliknya, pelaku perbankan 
sadar bahwa terlalu besar mengelolah portfolio pembiayaan konsumtif merupakan 
sebuah “api dalam sekam”, yang tiba-tiba akan dapat menghabiskan semua yang ada 
pada saat yang tidak dapat diduga sebelumnya, dan dapat saja menjadi sebuah 
“dilemma” masa depan. Apakah fenomena “subprime mortgage” di Amerika tidak 
cukup menggugah para pelaku keuangan di Indonesia????
 
 
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Untuk bergabung ke milis Syiar Islam kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]

Website:
http://www.media-islam.or.id
http://syiarislam.wordpress.com
http://islamicbroadcasting.wordpress.com 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke