santai aja pak..nda usah punya perasaan spt itu..ini hanya sekedar sharring 
agar semua pihak bisa mengkoreksi diri..jangan hanya menjadikan salah satu 
pihak selalu jadi kambing hitam..:)

kembali lagi pada komentar awal mengenai perlu or tidaknya istri bekerja, itu 
memang dilihat kondisi keluarga itu masing2.yg lain2 itu mah..berusaha 
mengungkap kenyataan yg terjadi dilingkungan masyarakat umum selama  ini :)

hmm..aku nda mau komentari lagi ahh..tar pada salah paham..:)heheh wong lagi 
usaha sharring koq dibilang perang?? nda fairlah kalau berpikiran spt itu:)

fakta yg bapak sampaikan mengenai banyaknya suami yg juga terdzolimi oleh 
istri, itu memang juga banyak:) aku juga pernah dikeluhkan oleh seorang suami 
yg menceritakan istrinya begini begitu thdp dirinya (jujur..hal spt ini justru 
nda pernah bisa masuk ke logikaku) aku susah untuk bayangin suami punya istri 
spt hindun..hehehehe mungkin spt logika laki2 lain yg nda terima diprotes, 
kalau ada laki2 dzolim terhadap istrinya:) karena itulah..hal2 spt ini perlu 
diungkap dan diniatkan untuk mengkoreksi diri masing2. (laki2 dan wanita) 

oke dech..mudah2an pesan moral yg aku sampaikan bisa kena dan sampai, tapi kali 
ini aku mau canda aja aahh..soale energi lagi berlebih..:)

ini cerita ttg ISTI (ikatan suami takut istri) kcian dech..^_^biar nda terlalu 
serius getho..(wong sharring dibilang perang) jadi canda aja dech..*_*

suatu ketika ada sekelompok laki2 yg berdiri di depan loket, dan di depan loket 
itu tertulis, jalur khusus ISTI dan jalur yg ISTTI (Ikatan Suami Tidak Takut 
Istri:)
ternyata..banyak kaum laki2 yg berdiri di jalur (ISTI) Ikatan SUami Takut 
Istri, namun pada saat baris, ternyata ada juga satu orang laki2 yg berdiri di 
depan jalur (ISTTI) Ikatan suami tidak takut istri.

hmm..ada salah seorang suami yg berdiri di jalur ISTI penasaran, akhirnya 
menghampiri dan bertanya pada satu2nya laki2 yg berdiri di jalur keramat bagi 
para ISTI :)

"hmm..maaf pak..saya mau tanya..? koq bapak bediri di depan loket ISTTI?? 
hmm..kalau boleh saya tahu, apa sich resepnya supaya istri takut sama suami??" 
tanya salah satu suami yg ISTI

"oohh..maaf..saya jg nda tahu pak..wong saya berdiri di sini, di suruh istri 
saya koq..?:) hehehehehe


dah ahh..untuk hilangin tegang otot

salam peace..
hana







Mulyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:     Astaghfirullahal  adziim................
  
 Sepertinya kok jadi  seperti perang salah menyalahkan antara suami dan istri???
 Sekedar menambahkan,  mengeluarkan unek-unek juga yang di pikiran. Tidak 
dipungkiri, banyak sekali  laki2 atau suami seperti yang dikatakan mbak Hana. 
Dan itu sesungguhnya memang  na'udzubillah........yang menyebabkan kaum istri 
protes dan harus mencari  tambahan sendiri.
  
 Selama ini yang  sering terungkap adalah keadaan istri yang katanya sering 
didzalimi  suami.
 Tapi, selama ini  sesungguhnya banyak juga lho...yang belum pernah terungkap, 
atau jarang sekali  terungkap betapa banyaknya kaum suami yang terpaksa menjadi 
korban keserakahan  kaum istri. Sebenarnya suami sudah bekerja mati2an, 
berapapun hasilnya semua  sudah dikasihkan ke istri, tapi istri masih merasa 
kurang. Berbagai pengertian  dan nasehat sudah diberikan ke istri agar bisa 
mensyukuri apa yang telah Allah  berikan, berapapun jumlahnya. tapi, banyak 
juga kaum istri yang terus menuntut  lebih, melebihi kemampuan suami. Yang 
katanya pengin beli kasur yang lebih baik,  pengin beli baju yang bagus seperti 
tetangga. yang katanya pengin beliin baju  yang bagus buat anak, seperti anak 
tetangga. Dengan berbagai tuntutan itu,  beberapa suami mencoba lari sana sini, 
pindah kerja sana sni mencari penghasilan  yang lebih baik, tapi toh keahlian 
dia cuma sampai di situ, ijazah dia cuma  segitu. Pindah kerja sana sini toh 
juga cuma sekitar itu. Seringkali percekcokan  rumah tangga
 karena tuntutan istri yang di luar batas kemampuan suami.  
  
 Maaf, ini tdk  membahas yang suami pengahasilannya lebih tapi pelit 
lho...karena yang itu sudah  sering kali disuarakan kaum wanita di mana2 
(mungkin krn wanita banyak  mulut...hehehe....maaf becanda). Sebenarnya di 
lingkungan kita juga banyak mereka   yang menamakan dirinya "ISTI" (Ikatan 
Suami Takut Istri). Entah  kelompok/organisasi itu beneran ada atau tidak, tapi 
setahu saya justru kaum  "ISTI" ini sebenarnya dia hanya diam menanggung 
penderitaannya sendirian  (mudah2an kesabarannya berbuah surga kelak). Karena 
kalau harus mengungkapkan ke  sana-sini dia malu sebagai seorang laki2. 
Takutnya, lagi2 nanti dia juga yang  disalahkan oleh umum, "salah kamu sendiri 
punya istri tidak bisa  mendidiknya/menasehatinya dengan baik", padahal dia 
sendiri sudah setengah mati  harus bagaimana memberi pengertian itu. 
  
 Nah, akhirnya, bagi  sebagian kaum istri yang bekerja menjadikan ini sebagai 
alasan karena suami  tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. 
Pertanyaannya, kebutuhan  yang sejauh mana sebenarnya yang dituntut? Bagi 
keluarga yang pandai bersyukur,  berapapun yang Allah berikan ke keluarga tsb, 
tentunya akan selalu merasa cukup.  Kalau dia Allah berikan kemiskinan, 
syukurilah, berarti memang baru segitu itu  ridla Allah pada kita. Kalau diberi 
lebih, mungkin justru akan menjauhkan  keluarganya dari Allah. Sesuaikan 
kebutuhan dengan penghasilan yang dimiliki,  jangan menuntut lebih. Keinginan 
manusia yang tidak pernah puas (syukur)dengan  apa yang ada inilah yang 
seringkali membuat dunia kita sekarang seperti ini.  
  
 Sebenarnya, kita  tidak perlu saling menyalahkan. Kalau saling menyalahkan, 
tidak akan pernah ada  habisnya. Istri menyalahkan suami yang katanya pelit, 
atau tidak kerja keras,  atau tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Suami 
menyalahkan istri yang  tingkat kebutuhannya tidak berbatas. OK, sudah sepakar 
keduanya kerja, terjadi  fitnah di luar kembali saling menyalahkan. Kaum istri 
menyalahkan karena laki2  yang suka menggoda wanita, lagi2 dibalikkan, laki2 
menyalahkan seandainya wanita  cukup dirumah tentu laki2 tidak akan 
menggodanya.  Terusssssss.........berputarrr.....tiada habisnya. Akhirnya 
segala percekcokan  yang ada, ujung2nya anaklah yang jadi korban. Memang ada 
anak yang bisa mengerti  dan menjadi baik karena pemikiran anak sendiri, banyak 
juga anak yang pada  akhirnya tanpa sadar saat tua meniru kelakuan bapak ibunya 
waktu dia masih  kecil.
  
 Kemarin ada yang  menyakan, bagaimana rata2 pemahaman agama mereka2 yang 
seperti itu? Sebagian ada  yang kurang baik, sebagian ada yang baik. Bagi yang 
pemahaman agamanya sudah  benar2 baik, tentu tidak usah berpolemik dan curhat 
di sini. Justru mereka  seharusnya memberi pencerahan kepad yang belum baik.
  
 Tapi sebenarnya  kalau ditanya seperti itu tadi (bagaimana agama mereka?) kita 
susah untuk  menilai pemahaman agama mereka. Dulu  waktu aku masih muda, belum 
menikah,  saya sering melanglang buana ke sana ke mari, sering bertemu orang 
dengan  berbagai macam karakter, mau ga mau jadi menilai keber-agama-an mereka, 
 akibatnya saya sendiri yang pusing. Pernah, aku tinggal di sebuah pondok  
pesantren di Jakarta (waktu itu pesantrennya belum besar), pemiliknya seorang  
kyai ternama juga. Suatu saat ada salah satu santrinya yang mencari sumbangan  
untuk pembangunan masjid di kampungnya, jawab kyai itu, "Saya sendiri saja 
masih  pontang-panting ceramah sana-sini cari sumbangan untuk pesantrenku kok, 
kamu  malah minta sumbangan ke saya." Dari gatelnya hati saya waktu itu, aku 
sampai  tahu juga setiap ada yang mengundang ceramah, dibayar kecil, ditolak 
dengan  alasan ada ceramah di sana. Akhirnya, cukup 5 bulan di sana saya 
keluar.  Sekarang ini pesantren tsb sudah lumayan besar,
 dan pak kyai tsb sudah cukup  tersohor dan malah punya jabatan penting di DKI. 
Akibat penilaian2 saya waktu  itu, sampai sekarang saya jadi bagaimana.....gitu 
sama kyai tsb.  
  
 Ada juga, di  lingkungan saya, seorang Pak haji yang tiap hari rajin 
ibadahnya. Selalu  berjama'ah di masjid. Tapi ketika membangun rumah kontrakan, 
sebagian  bangunannya didirikan di atas tanah kuburan 1 meter memanjang. 
Padahal kuburan  tsb sudah cukup lama, dan beberapa lobang makam yg tdk terurus 
ada di bawah  bangunan tsb.
  
 Seperti itulah kalau  kita disuruh menilai, tingakat pemahaman agama seseorang 
itu bagaimana  (sebagaimana dalam kasus suami istri ini tadi) susah sekali 
menilainya. Makanya  saya sekarang males menilai seseorang, ibadah saya sendiri 
saja masih  amburadul.
  
 Maaf, ini hanya  sekedar unek2 yang terpendam, untuk menyeimbangkan. Dan 
mudah2 juga bisa  mewakili unek2 dari kaum "ISTI" yang selama ini tidak sanggup 
mengungkapkan  perasaannya. Dan kepada saudara/i, bapak/ibu, akhi/ukhti, 
ustadz/ustadzah yang  bisa memberikan pencerahan yang lebih baik, silakan. 
Semoga bisa membenahi hati  kita semua. Amin
  
 Wassalamu'alaikum
  
  
  
  
 -----Original Message-----
From: [email protected]  [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of  
suhana032003
Sent: Friday, November 16, 2007 10:38  AM
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam]  Re: Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA


    Assalamu'alaykum wr.wb

ramai euuyyy..masalah istri sebaiknya bekerja  or nda..:)
hmm..sebenarnya semua argumentasi yg mengatakan boleh or nda  bekerja,
sama2 mendukung untuk dibolehkan or tidak dibolehkan dan akhirnya  kita
kembalikan pada situasi dan kondisi keluarga kita  masing2.

pengaruh buruk or baik istri bekerja or nda itu, semua  tergantung pada
pribadi wanita itu sendiri. hmm..kalau bicara masalah  pengaruh baik or
nda nya, bukan hanya wanita yg harus dijadikan kambing  hitam, tapi
cowok juga bisa kena dampak itu :)jadi..semua tergantung pribadi  masing2.

hmm..kalau boleh jujur keinginan hati saat ini, aku mah  pinginnya
berhenti kerja (dah cuapeee:) tapi apalah daya..keadaan  memaksaku
untuk tetap bekerja. karena apa??karena para laki2 tidak  bertanggung
jawab terhadap amanat yg diembankan dari Allah dan RasulNya  kepada
wanita. hmm..bila mengacu pada hadist yg mana Rasulullah  pernah
bersabda bahwa 

"laki2 bertanggung jawab terhadap 4 orang  perempuan yaitu : ibunya,
istrinya, anak perempuannya dan saudara  perempuannya dan wanita
dibawah tanggung jawab 4 orang laki2 yaitu "  suaminya, ayahnya, anak
laki2nya dan saudara laki2nya."

lha..berhubung  laki2 itu semua tidak mengemban amanah yg diberikan
kepadanya,  maka..terpaksalah aku harus  bekerja..:)hehehe

hmm..sebenarnya..janganlah menjadikan wanita  sebagai kambing hitam
terus2an..andai kalian laki2 mau mengkoreksi diri  kalian masing2,
tentunya syariat islam yg peruntukkan bagi wanita (tidak  boleh keluar
tanpa mahramnya, tidak boleh mengadakan perjalanan safar  sendirian,
dll) akan berjalan lancar, tapi berhubung kalian (laki2) tidak  pegang
amanat itu, maka dengan sangat berat hati, maka wanita  terpaksa
mengambil alih amanat itu sendirian.

contoh : 
1. Laki2  harus mencukupi kebutuhan anak istrinya dan tidak membenarkan
untuk  mentelantarkannya, tapi yg terjadi adalah sebaliknya dengan
bersikap pelit  terhadap anak istrinya dirumah, tapi sok jadi dermawan
di kantornya terhadap  istri orang -:) terpaksa dech..wanita ikut
mencari tambahan uang belanja  karena pelitnya kalian (laki2) tapi
dermawannya kalian (laki2) terhadap istri  orang..-:) ngaku dechhhh....??

2. Laki2 diminta untuk menemani  istrinya, ibunya, saudara wanitanya,
dan anaknya jika berpergian, tapi kalian  malah meminta istrinya pergi
sendiri dengan alasan ada meeting di  kantorlah..capelah..malas ah..dah
ada janjilah.. jadi pergi sendiri aja  yaa..???berhubung Allah
memerintahkan kami (wanita) untuk taat pada suami,  jadi pergilah kami
sendirian dengan sangat berat hati..:) ngaku  dechhhh...???

sooooo..sebenarnya kalau tanya aku pribadi, pinginnya  kerja or di
rumah?? aku mah maunya di rumah, ngapain juga cape2  kerja??tapi
berhubung semua ini disebabkan oleh laki2 juga,  terpaksalah..harus
keluar kerja dan pergi  sendirian..hiks.hiks.hiks. 

nah..para laki2 kalau pingin istrinya  diam aja di rumah, maka hal yg
harus kalian lakukan adalah :
1. jangan  pelitlah terhadap istri dan anak kalian

2. bekerjalah yg giat untuk  mencukupi kebutuhan istri dan anak kalian,
bukan kebutuhannya istri dan anak  orang:) kecuali jika sudah berlebih
dan mencukupi kebutuhan dirumah terlebih  dahulu, maka baru wajiblah
bagi kalian untuk menengok kebutuhan orang  lain.

3. janganlah jadikan meeting, malas, cuape, dslbnya sebagai  alasan
hanya sekedar sisahkan waktu sedikit untuk mengajak jalan2 istri  dan
anak yg dikurung seharian..:)hehehe

4. janganlah dengan  sengaja menjadikan istri sebagai komediti untuk
mencari uang tambahan karena  sebenarnya kalian yg malas untuk bekerja
lebih giat:)

dah ah..sekedar  nyeletuh aja, keluarkan yg ada dikepala:) mohon maaf
bila ada yg tersinggung  dan tidak berkenan, hmm..katanya sampaikanlah
kebenaran itu walau  pahitttt..

yg benar dari Allah yg salah pasti dariku..jadi mohon maaf,  kalau ada
yg nyeleneh, soale lagi pingin  canda:)

salam
hana



              Disclaimer 
 This message (and any associated files) is intended only for the use of the 
individual or entity to which it is addressed and may 
contain information that is confidential, subject to copyright or constitutes a 
trade secret. If you are not the intended recipient 
you are hereby notified that any dissemination, copying or distribution of this 
message, or files associated with this message, 
is strictly prohibited (PT Datascrip). If you have received this message in 
error, please notify us immediately by replying to the message and deleting it 
from your computer. 


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke