Tafsir Surat Luqman ayat 18 dan 19
Tuntunan Akhlaq dan Keutamaannya
Written by KH. Abdul Hasib Hasan, Lc.
Jul 18, 2007 at 01:42 PM
from:
http://layananquran.com/plq/index.php?option=com_content&task=view&id=74&Itemid=9
Surat Luqman dari ayat 13 sampai ayat 19 membahas tentang
nasihat-nasihat Luqman kepada anak-anaknya yang bisa diklasipikasikan menjadi
lima nasihat. Nasihat-nasihat ini sangat penting untuk kita cermati dan kita
laksanakan. Di ayat 18 dan 19 ini khusus membahas tentang akhlaq, bagaimana
bersikap dalam berkomunikasi, kesombongan, bagaimana berjalan dan berbicara
yang baik.
Sebelum membahas ayat ini, Ibnu Katsir meyebutkan beberapa Hadits
Rasulullah tentang akhlaq yang mulia diantaranya. Dari Annas r.a. Berkata,
“Bahwa Rasulullah saw, manusia yang paling baik akhlaqnya”. Dalam hadits lain
disebutkan, “Tugas Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlaq yg mulia,”
Dalam rangka efektipitas tugas itu, beliau meberikan keteladanan terlebih
dahulu, begitu juga yang seharusnya kita lakukan pada anak kita. Dari Abdullah
bin Umar, “Rasulullah ditanya tentang orang mukmin yang paling utama itu yang
bagaimana kemudian Rasul menjawab yang paling baik akhlaqnya”.
Akhlaq yang mulia itu bisa mengangkat manusia itu menjadi mulia sekalipun
dalam ibadahnya tidak banyak. Dari Annas dalam hadits marfu’ Rasulullah Saw,
Bersabda, “Seorang hamba dengan akhlaqnya yang mulia dia bisa mencapai derajat
yang tinggi diakhirat sekalipun ibdahnya lemah, dan manusia itu dengan
akhlaqnya yang buruk dia bisa tersungkur ke neraka paling rendah sekalipun dia
ahli ibadah”. Dalam hadits riwayat Aisyah Rasulullah Saw, bersabda, “Seorang
hamba dengan akhlaqnya yang mulia ia bisa mencapi derajat orang yang
Qiyamullail terus menerus atau orang yang puasa terus menerus,”
Rasulullah ditanya apa yang paling banyak memasukan orang kedalam surga,
Rasulullah menjawab,“Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq yg baik,” dan apa yang
banyak memasukan orang kepada neraka, beliau menjawab “mulut dan kemaluannya.”
Satu kali Rasulullah ditanya oleh seorang badui, “Apa yang paling baik yang
dianugrahkan kepada manusia," Rasul menjawab "akhlaq yg baik.” Dari Abu Darda,
Rasul bersabda “Tidak ada yang paling berat timbangannya dimata Allah melainkan
akhlaq yg mulia,” selanjutnya dari Abdullah bin Amr, “Manusia yg paling baik
diantara kamu melainkan yang baik akhaqnya,”
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Luqman:18)
Etika Berkomunikasi
Kata ibnu katsir ketika menjelaskan ayat ini, jika anda berbicara kepada
seseorang atau orang berbicara kepada anda. Jadi kalau dalam berkomunikasi kita
berbicara jangan saling membuang muka, atau kita mendengar sambil mengalihkan
pandangan kita, itu namanya tusha’ir, Hakikatnya ungkapan ini adalah bentuk
penghinan dan merasa dirinya lebih besar, ini bentuk ketakaburan. Seharusnya
kita berkomunikasi seperti yang diajarkan Rasulullah, ketika berbicara
menghadapkan seluruh tubuhnya, ketika kita berkomunikasi dengan etis maka
respon orang pun akan lebih positif. Selain itu yang diajarkan Rasul dalam
berkomunikasi adalah dengan muka yang ceria, dengan senyuman, dengan tidak
memotong pembicaraan orang lain, dengan mendengarkan sepenuhnya.
Ada sebuah hadits Rasulullah yang dikutipkan Ibnu Katsir, dimana kepada
kita dianjurkan untuk bersodaqoh “Walaupun hanya denegan menjumpai saudaramu
sementara wajahmu itu ceria, dan janganlah memakai pakian yang terseret
(isbalul ijar) karena itu bentuk ketakburan dan Allah tidak menyukai
kesombongan itu,” disebutkan pula, kata Ali bin Abi Talhah, “Janganlah kamu
bersifat takabur merendakan orang lain dan berpaling tidak mau berhadapan
ketika mereka berbicara kepadamu” sebetulnya orang menampakan ketakaburan itu
tujuannya agar dirinya dihormati tapi dengan sikapnya seperti itu justru orang
menjadi tidak simpati, kalau ingin dihormati kita harus memuliakan orang lain.
Ada sebuah pesan yang cukup bagus dari Khalili bin Ahmad ketika dia berdo’a “Ya
Allah jadikanlah aku disisimu termasuk orang yang paling tinggi derajatnya, dan
jadikanlah aku dalam diriku orang yang paling rendah dan ditengah-tengah
manusia menjadi orang yang biasa-biasa saja” siapapun akan
simpatik pada kita kalau seperti ini.
Ada cerita seorang pengusaha yang berjiarah ke seorang kiyai, ketika dia
datang mendapat sambutan yang istimewa padahal pertama kali dan kiyai itu belum
mengenalnya tapi dia dilayani seperti seorang tamu, bahkan air minumnya
langsung diberikan oleh kiyai itu, sampai dia berkata “saya tidak pernah
mendapatkan perlakuan istimewa dari orang yang terpandang selain dari kiai
ini,” dampaknya sungguh luar biasa semua sodaqohnya diberikan kepada kiai itu
saja, bagaimana kita lihat dampak dari akhlaq yang mulia. Semakin kita tawadhu
derajat kita akan semakin tinggi.
Larangan Berlaku Sombong
Kalu tadi dibicarakan etika dalam berkomunikasi, kata-kata setelahnya
membahas tentang sikapnya. Keangkuh merasa besar atau kesombongan yang tidak
mau tunduk dan diatur, dikatakan disini janganlah melakukan perbuatan seperti
itu “Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi angkuh.” Makna
berjalan disini yaitu baik dia jalan kaki, atau dia memakai kendaraan. Satukali
pernah ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah kemudian dia berkata “Ya
Rasulullah aku suka memakai pakain yang bersih sekali, dan sandal yang bagus,
apakah itu bentuk ketakaburan. Rasulullah menjawab “itu bukan bentuk
ketakaburan, dan hakikat ketakaburan itu kamu mengabaikan yang haq dan
menyepelekan orang lain”.
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Lukman:19)
Kata qosd itu secara harfiah hemat, Ibnu Katsir menjelaskan berjalanlah
yang biasa saja tidak sangat lambat dan tidak sangat cepat, jalanlah yang biasa
itu cara berjalan yang sopan. “dan rendahkan suaramu”, maknanya adalah
janganlah berlebihan dalam berbicara dan jangan berlebihan mengangkatnya,
makanya didalam Al Qur’an disebutkan “janganlah kamu meninggikan suaramu
melebihi suara nabi.” Dan kemudian penutup ayat ini “Sesunguhnya
seburuk-buruknya suara adalah suara himar”, Ibn Katsir menjelaskan,
disebutkannya suara yang paling buruk adalah suara himar, ini menunjukan bahwa
menngangkat suara yang paling keras itu bukan hanya tidak baik tapi juga
tercela.
Inti dari ayat ini adalah bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain
kemudian bagaimana cara berjalan, bagaimana cara kita menungkapkan kata-kata
kita, dan bagaimana pula kita bersikap secara umum terhadap orang lain, kalau
kita perhatikan akhlaq itu dibahas dibelakang karena dakwah bil ma’ruf itu akan
efektip bilamana didukung dengan akhlaq yang mulia. Nasihat Luqman disini tidak
sedikitpun membicarakan materi, karena nasihat yang lima itu adalah yang
penting yang merupakan risalah utama manusia. Bukan berarti materi itu tidak
penting, tapi tidak menjadi sesuatu yang diutamakan.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]