Israel Besar, Amerika Kecil                                 [Cetak
halaman ini] 
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=5883\
&pop=1&page=0&Itemid=1>                          [Kirim halaman ini
melalui E-mail] 
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id\
=5883&itemid=1>                                                Jumat, 30
November 2007
Dua professor terkemuka membongkar praktek "Lobi Israel".
Ternyata rakyat Amerika amat dirugikan. Baca edisi khusus bagian pertama
dari 3 tulisan
Oleh: Amran Nasution *

  [Image] Hidayatullah.com--Penampilan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad
di Auditorium Roone Arledge, Columbia University, New York, 24 
September 2007, jelas memancing kemarahan kelompok Yahudi fanatik atau
garis keras. Ini bisa disebut sebuah kebobolan bagi Lobi Yahudi di
Amerika yang selama ini begitu perkasa.

Berbagai kelompok Lobi sudah mencoba menggagalkan forum di salah satu
kampus tertua di Amerika itu. The Jewish Defence Organization, salah
satu di antaranya, mengecam rencana itu, sembari menjuluki Ahmadinejad
sebagai Hitler dari Iran. Dewan Kota New York turut mengimbau pembatalan
acara. Juru Bicara Dewan Kota Christine Quinn berkata, `'Kedatangan
Ahmadinejad ke kota ini hanya untuk satu keperluan: menyebarkan
kebencian di panggung dunia.''

Nyatanya, Ahmadinejad mendapat sambutan meriah. Itu luar biasa, bila
diingat New York adalah ''kota Yahudi'', sebab di kota inilah
orang Yahudi Amerika paling banyak tinggal. Ruang Auditorium penuh sesak
600-an undangan. Di luar, di sebuah taman disediakan pesawat TV monitor
yang disesaki ratusan mahasiswa. Jawaban Ahmadinejad yang cerdas dan
tangkas dalam forum diskusi itu menyebabkan ia berkali-kali mendapat
tepukan dan applaus hadirin. Demonstrasi menentang acara itu oleh
ratusan mahasiswa yang mengusung bendera Israel `'Bintang
David'' di lingkungan kampus, seakan kehilangan makna.

Agaknya kini mulai banyak orang Amerika yang sadar bahwa mereka tak bisa
terus-menerus hanya mengurusi kepentingan orang Yahudi Amerika yang
hanya 3% dari populasi negeri itu. Tak sedikit orang Amerika mulai
bertanya secara terbuka, kenapa selama ini mereka terus-menerus seperti
orang kena tenung, mengikuti saja semua kemauan Israel. Apalagi ternyata
itu semua bukan karena alasan obyektif. Itu bukan karena besarnya
pengaruh Israel. Bukan pula karena strategisnya posisi negeri itu di
Timur Tengah. Semua berkat hasil kerja dari apa yang dinamakan Lobi
Israel di Amerika.

Awal September lalu, terbit sebuah buku  yang membongkar seluk-beluk
Lobi Israel, ditulis dua akedemisi terkemuka, Profesor John Mearsheimer
dan Profesor Stephen Walt. Buku itu berjudul: The Israel Lobby and U.S.
Foreign Policy (Lobi Israel dan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat),
484 halaman, diterbitkan Farrar, Straus & Giroux.

Lobi Yahudi – atau disingkat Lobi -- memang sudah lama menjadi isu.
Tapi tampaknya baru kali ini soal yang amat peka itu ditulis dalam
sebuah buku yang utuh oleh dua profesor terkemuka pula. Maka kontroversi
yang seru tak terhindarkan.

Serangan terhadap buku dan penulisnya meledak: mulai dari tuduhan
anti-semit, ilmuwan gampangan, sampai bermacam boikot. Acara peluncuran
buku yang sudah direncanakan di enam tempat di berbagai kota Amerika,
awal September lalu, tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Tapi
semakin kuat tekanan kepada kedua penulis, semakin meyakinkan pula
kebenaran yang mereka tulis. Apalagi sejauh ini tak ada satu pun
bantahan yang kuat, yang menyangkut substantif.

Meski pun koran arus utama seperti the Washington Post dan the New York
Times tampak memberi kesempatan luas kepada para penyerang. Yang muncul
lebih banyak caci-maki dan sumpah-serapah. Itu terutama datang dari
orang-orang Yahudi fanatik, kelompok Neocon, dan para pendukungnya.

Contohnya, serangan kasar dari Alan Morton Dershowitz dari Harvard Law
School. Keturunan Yahudi yang menjadi Profesor termuda dalam sejarah
Harvard ini bilang, buku itu banyak mengutip referensi dari situs
teroris di internet. Jelas tuduhan itu ngawur dan emosional. Sebab semua
referensi tercantum di dalam buku, bisa dicek oleh siapa saja.
''Tak ada satu pun dari situs teroris. Semua jelas,'' kata
Stephen Walt.

Memata-matai Amerika

Penulis buku ini bukan ilmuwan kacangan. Profesor John Mearsheimer,
adalah ahli ilmu politik internasional dari University of Chicago, dan
temannya, Profesor Stephen Walt, ahli hubungan internasional dari
Kennedy School of Government, Harvard University. Keduanya sudah menulis
banyak buku, dan mengantongi sejumlah penghargaan ilmiah. Mearsheimer,
60 tahun, meraih Ph D dari Cornell University, dikenal luas karena teori
relasi internasional yang dikembangkannya, antara lain, melalui bukunya,
The Tragedy of Great Power Politics. Stephen Walt, 52 tahun, memperoleh
Ph D dari University of California, Berkeley, mengembangkan teori
keseimbangan ancaman (balance of threat theory).

Sebetulnya, buku ini adalah pengembangan -- elaborasi dan up-dating --
dari esei berjudul The Israel Lobby, yang ditulis keduanya dan
dipublikasikan London Review of Books, Maret 2006. Angle esei dan buku
masih sama, mempertanyakan kenapa Amerika Serikat begitu
menganak-emaskan Israel, dengan risiko merugikan kepentingan 300 juta
rakyatnya sendiri.
Duit habis, nama rusak, wibawa jatuh, pengaruh menurun, malah tak
sedikit pemuda Amerika yang tewas di medan perang Iraq, semata-mata demi
kepentingan Israel, bukan Amerika. Presiden Bush menjadi manusia paling
dibenci di muka bumi. Kemana saja ia pergi selalu disambut ribuan
demonstran, termasuk ke Inggris, sekutu terdekatnya.
Israel sebagai klien tak pula loyal pada sang patron. Sejumlah bukti
yang diajukan kedua Profesor itu menunjukkan Israel sering bertindak
semau gue, berlawanan dengan kemauan Pemerintah Amerika. Malah ia berani
mematai-matai kekuatan militer atau kecanggihan teknologi negeri super
power itu. Amerika tak bisa berbuat apa-apa. Ajaib.

Dimulai dari bantuan luar negeri. Sejak Perang Oktober 1973, Washington
sudah memberi bantuan langsung ekonomi dan militer kepada Israel sebesar
140 milyar dollar. Ini bukan jumlah uang sedikit. Tak satu pun negara
lain yang pernah menerima bantuan sebesar itu, tidak juga sekutu
Eropanya. Sejak 1976 sampai sekarang, setiap tahun Amerika memberi
Israel bantuan langsung 3 milyar dollar, seperenam dari budjet bantuan
luar negerinya. Bantuan terus diberikan walau Israel sudah menjadi
negara industri dengan income per capita lebih-kurang sama dengan
Spanyol atau Korea Selatan.

Untuk mengembangkan sistem persenjataan Israel, Amerika membantu lagi 3
milyar dollar. Israel diberi akses informasi ke sejumlah peralatan
canggih seperti heli tempur Blackhawk dan jet F-16. Begitu pula akses
intelijen, yang justru ditutup Amerika kepada sekutu NATO-nya di Eropa.
Amerika pura-pura tak tahu Israel membuat ratusan senjata nuklir di
dekat Dimona, Gurun Negev, tak jauh dari perbatasan Jordania.

Washington menjadi pelindung konsisten dalam urusan diplomatik. Sejak
1982, negeri itu sudah memveto 32 resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang
menyerang Israel. Jumlah itu lebih banyak dari veto yang dikeluarkan
empat anggota DK-PBB lainnya. Amerika, misalnya, menyetop upaya
negara-negara Arab untuk memasukkan sistem persenjataan nuklir Israel ke
dalam agenda badan atom dunia, IAEA (International Atomic Energy
Agency). Amerika betul-betul munafik, bila kasus nuklir Dimona
dibandingkan dengan proyek nuklir Iran yang diributkannya sekarang.

Berkat veto-veto itulah sampai sekarang Palestina tetap menjadi negeri
jajahan Israel. Terakhir, Pemerintahan Bush merencanakan peta baru Timur
Tengah, utamanya demi kepentingan strategis Israel. Untuk itu Iraq
dihancurkan, Libanon dikacaukan, kini Suriah dan Iran menunggu giliran.

Bagi kedua Profesor, tindakan Amerika Serikat dapat dipahami bila Israel
memang merupakan aset strategis yang vital bagi Amerika, atau ada alasan
moral yang memaksa.''Tak satu pun alasan itu yang bisa ditunjukkan
dengan meyakinkan,'' tulis mereka. Padahal menjadi beking Israel
tak murah harganya. Hubungan Amerika dengan negara Arab penghasil minyak
jadi bermasalah. Arab Saudi, konco Amerika terdekat di Timur Tengah, dan
dari sinilah Amerika menggantungkan impor minyak mentahnya, belakangan
mulai sewot. Negeri itu bergerak mendekat ke China.

Bantuan militer darurat senilai 2,2 milyar dollar yang diberikan
Washington guna menyelamatkan Israel ketika negeri itu terdesak dalam
Perang Arab – Israel, Oktober 1973, menyebabkan OPEC melakukan
embargo minyak. Akibatnya ekonomi negara Barat rusak parah. Sudah
begitu, militer Israel tak bisa diharap untuk melindungi kepentingan
Amerika di kawasan. Lihat saja ketika pecah revolusi Iran, 1979. Militer
Israel tak bisa dimanfaatkan, sehingga Amerika harus mengerahkan pasukan
dengan gerak cepat untuk mengamankan suplai minyak dari Teluk Parsi.

Pada Perang Teluk I, Israel tak bisa dijadikan basis pasukan karena akan
menyebabkan koalisi pimpinan Amerika dimusuhi negara Arab. Malah Amerika
justru direpotkan, harus menyediakan rudal Patriot guna menyelamatkan
kota-kota Israel dari terkaman peluru kendali Scud Saddam Hussein. Hal
serupa terjadi dalam Perang Teluk II. [bagian pertama dari tiga
tulisan/www.hidayatullah.com <http://hidayatullah.com/> ]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung
dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke