MENGEKALKAN NIAT
Sebelum, Saat dan Seusai
”Andaikata saya mengetahui ada satu sujud saja yang pasti diterima oleh
Alloh, maka saya berangan-angan agar mati sekarang.”
Kalimat singkat yang keluar dari lisan sahabat agung Abdullah bin Umar ra di
atas menunjukkan betapa urgennya kesertaan niat dalam setiap amalan. Dan
menjadi tabiat sesuatu yang memiliki nilai urgensi yang tinggi ia pun sulit
diwujudkan. Ikhlas memang sulit, tetapi harus.
Tentang sulitnya ikhlas dapat kita simak dari pengalaman Fudhail bin ‘Iyadh
dan Sufyan ats-Tsauri berikut. Suatu hari keduanya bertemu dan saling
mengingatkan, bermudzakarah. Sufyan mulai menangis dan mengingatkan
hari-harinya yang telah berlalu. Saat hendak berpisah Sufyan berkata, ”Saya
berharap majlis ini membawa rahmat dan berkah.”
”Aku justru sebaliknya, wahai Abu Abdullah,” sambung Fudhail, ”Bukankah Anda
telah mengatakan yang baik-baik dan begitu juga denganku? Aku takut,
jangan-jangan aku menghiasi pembicaraan karena Anda, dan Anda menghiasi
pembicaraan karena diriku.”
Tentang keharusan ikhlas, ada ucapan Fudhail yang sangat terkenal, ”Amal
apapun jika dikerjakan dengan ikhlas tetapi tidak benar, tidaka akan
diterima. Sebaliknya jika benar, tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, juga
tidak akan diterima. Ia baru diterima jika dikerjakan dengan benar dan
ikhlas. Ikhlas artinya dikerjakan hanya karena Alloh, dan benar artinya
sesuai dengan sunnah.” 
Setelah menyampaikan hal ini Fudhail bin ‘Iyadh membaca firman Alloh,
Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia
mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadah kepada Rabbnya (Al-Kahfi: 110)
 
Tidak Sama dengan Rela
Ikhlas tidaklah semudah yang digambarkan orang, ’seperti membuang kotoran,
setelah dibuang dia tak meliriknya kembali.’ Sungguh itu bukan gambaran
ikhlas, bukan pula ciri ikhlas yang benar. Jika kiasan itu diterima, maka
orang yang memberikan makanan yang nyaris basi – padahal dia punya yang baik
– dengan suka rela, atau mememberikan gombal tak layak pakai – padahal ia
punya yang baru dan tidak cuma satu – dengan rela hati akan mendapatkan
ganjaran yang tak ternilai. Dan itu tidak akan terjadi.
Ikhlas tidak sama dengan rela. Banyak yang salah sangka, memang.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke