Kemurnian Yang Mengekalkan
 
Memurnikan Niat
 
Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia
mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadah kepada Rabbnya (Al-Kahfi: 110)
”Betapa banyak amalan yang besar namun menjadi kecil nilainya karena niat.
Betapa banyak pula amalan yang ringan namun menjadi agung nilaianya karena
niat”
Begitulah urgensi niat yang digambarkan oleh tabi’in agung, Amirul mukminin
fil hadist Abdullah bin Mubarak rhm. Pun, sebelumnya nabi juga telah
menampilkan contoh klimaks yang membenarkan kesimpulan beliau. Ada seorang
mujahid fii sabilillah, seorang alim dan qaari’, seorang dermawan yang gemar
menderma, mereka pesakitan pertama dalam sidang yang dihakimi oleh Yang Maha
Bijaksana. Hasil sidang memutuskan ketiganya harus diseret paksa ke neraka.
Tentu bukan karena kurangnya pengorbanan dan kegigihan, atau kecil jenis
pilihan amal mereka.
Siapakah yang lebih utama dari mujahid dalam pengorbanan jiwa dan raga?
Ketika Nabi SAW ditanya tentang amal yang setera dengan jihad beliau
menjawab, ”laa ajid”, aku tidak mendapatkannya. Siapa pula yang lebih utama
dari orang alim dalam hal pengorbanan mempelajari dan mengajarkan ilmunya?
Nabi SAW menyebutkan, ”Sebaik-baik di antara kalian adalah yang mempelajari
al-Qur’an dan mengajarkannya.” Atau siapakah yang lebih baik dari para
dermawan dalam mengorbankan harta benda?
Tetapi letak ’error’nya adalah pada niatnya. Inilah contoh klimaks yang
menunjukkan keadaan pertama, ’betapa banyak amalan yang besar namun menjadi
kecil nilainya karena niat.’ Bahkan hanya kecil nilainya, tetapi sama sekali
tidak bernilai, wal ’iyadzu billah.
Adapun kaidah kedua, ’Betapa banyak pula amalan yang ringan namun menjadi
agung nilainya karena niat, Nabi SAW telah menunjukkan contoh yang klimaks
pula. Yakni seseorang yang menyingkirkan gangguan yang merintangi jalan,
lalu Alloh mengampuni dosa-dosanya dan memasukkan dia ke dalam jannah.
Siapakah yang tidak mampu menyingkirkan kerikil atau duri yang mengganggu
jalan misalnya? Tak banyak keringat yang harus dikeluarkan, tidak
membutuhkan biaya besar dan bahkan tidak perlu mengawalinya dengan
latihan-latihan. Berbeda jauh dengan amalan yang tersebut di atas. Apalagi
secara peringkat amal, ketika Nabi SAW menyebutkan tujuh puluh lebih cabang
iman, ’imathatul ‘adza ‘anith thariq’, menyingkirkan gangguan di jalan
disebut Nabi SAW sebagai ’adnaaha’, yakni cabang iman yang paling rendah
tingkatannya. Tetapi lihatlah betapa beruntungnya orang yang melakukan
amalan ’ringan’ ini. Jauh lebih untung 180 derajat dibanding dengan tiga
orang malang di atas. Tapi jangan disangka itu mudah, karena mengiklaskan
suatu amal lebih berat dari pada memperbanyak jumlah amal, demikian ulama
kita dahulu mengingatkan. Artinya, selalu mempelajari, mengingat dan
introspeksi niat serta mengupayakan keiklasannya menjadi kewajiban seumur
hidup, jangan pernah meremehkan atau menganggapnya sepele.
 
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke