--- In [EMAIL PROTECTED], "suhana032003" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
hmm..bagaimana menurut anda tulisan2 pemikir liberal? apa itu tidak sedang menebar kerusakan dan kebencian terhadap islam??kenapa anda tidak teriak terhadap tulisan2 pemikir liberal yg sedang menebar kerusakan dan kebencian terhadap islam?? kenapa anda justru teriak dan mengatakan pak adian sedang menebar kebencian?? apa hanya pemikir liberal yg boleh teriak tebarkan kerusakan dan kebencian terhadap islam, sementara pak adian, dkk tidak berhak untuk meluruskan pemikiran yg berusaha merusak islam?? apa anda seorang muslim??jika anda seorang muslim, beginikah cara dan sikap seorang muslim yg baik dan benar? tunjukan argumentasi sebagai seorang muslim bahwa analisis pak adian mengenai larangan PNB adalah salah!?apakah untuk menunjukkan sikap toleransi kita terhadap non muslim, lalu kita bebas melakukan ritual ibadah yg dilakukan oleh semua non muslim??dimana letak konsekuensi anda sebagai seorang muslim?? lalu apa gunanya ada agama bila semuanya tidak mempunyai sikap konsekuen terhadap agamanya masing2 dan mempunyai keyakinan yg teguh terhadap agamanya?? jika anda tidak ingin ada komentar pembanding atas sesuatu yg dianggap keluar dan menyimpang dari ajaran islam, maka jangan pernah kalian melakukan dan membenarkan perbuatan yg menyimpang dari ajaran islam dengan masih tetap mengatasnamakan islam dan toleransi agama, karena kami tahu batas toleransi yg jelas dalam islam selama tidak menggadaikan akidah. kalau anda tidak ingin kami dan pak adian, dkk teriak2 dan sibuk memperbaiki kesalahan dan penyimpangan perbuatan kalian, tolong kalian jangan lakukan perbuatan yg membuat kami terpaksa teriak dan repot karena ulah kalian yg tidak pernah tahu batas toleransi yg tegas dalam islam. Adanya orang2 spt pak adian, dkk itu dikararenakan adanya orang2 munafik spt kalian.!? sadarkah kalian, bahwa kalianlah yg akhirnya memunculkan figur2 spt pak adian, dkk.!? tidak adil rasanya, jika hanya kalian yg boleh melakukan kerusakan sementara kalian tidak berhak merusak apa yg selama ini sudah dijaga oleh Rasulullah dan para sahabat. dan kalian minta kami untuk diam dan berpangku tangan atas perbuatan kalian.?! untuk pak adian, tetap maju dan yakin bahwa apa yg pak adian, dkk lakukan selama ini adalah benar, karena mereka yg lakukan kerusakan pun merasa yakin dengan kerusakan yg diperbuatnya selama ini. tidak usah takut dengan mahluk2 ciptaan Allah yg sebenarnya tidak mampu lakukan apa2 pada kita, karena sandaran mereka tidak sekuat apa yg selama ini menjadi sandaran kita. Tetap katakan dan teriakan kebenaran walau mereka mengiba dan mengatasnamakan nilai2 islam yg sesungguhnya sama sekali tidak mereka ketahui, apa yg sedang mereka katakan ttg nilai2 islam.!? jika orang munafik yg mengclaim bahwa pak adian sedang tebarkan kebencian, apa masih ada yg bisa diambil dan di dengarkan celaan orang2 munafik?? sesungguhnya Allah akan menurunkan satu kaum dimana kaum itu sangat mencintai Allah dan Allah sangat mencintai mereka, mereka Ridho dengan Allah dan Allah Ridho dengan mereka, dan mereka tidak takut dengan celaan orang2 yg suka mencela.!! salam hana > akbar muzakki <akbar_jatim@> wrote: > REKANS RAHIMAKUMULLAH, > > MIRIS MEMANG MEMBAca ANALISIS ADIAN HUSAINI TENTANG > SOAL-SOAL KEAGAMAAN... ...KARENA MENEBAR KEBENCIAN DAN > KECURIGAAN, YANG JSUTERU BERTENTANGAN DENGAN > NILAI-NILAI ISLAM YANG LUHUR....... ......ENTAH APA > YANG ADA DALAM AGENDA DAN BENAKNYA KETIKA SELALU > MENEBAR ANALISIS DANGKALNYA ITU......... ......... > ......... ......... .......?? ??? MUNGKINKAH UNTUK > MENYELAMATKAN AKIDAH UMAT (WAH AGUNG BENAR NIATAN > ITU?) ATAU HANYA BIAR DISEBUT SEBAGAI DARI KELOMPOK > YANG SUCI LAGI BENAR (ATAU MAU BENAR SENDIRI/MERASA > PALING BENAR/PINJAM BAHASA MAS FAMI PEMILIK > SURGA)...... .. > > MENGINGAT TULISAN ADIAN HUSAINI SOAL PNB YANG SUNGGUH > MENEBAR KEBENCIAN ITU JUGA MENYEBAR DI MILIS INI, > BERIKUT SAYA FORWARD TULISAN KAWAN YANG LANGSUNG > MENGOMENTARI TULISAN ADIAN HUSAINI TERSEBUT.... > ....WALLAHU A'LAMU > > SALAM, > > PIET KHAIDIR > --- abu khalid <fikrimustanir@> wrote: > > > Fahmi Salim, MA > > Alumnus Jurusan Tafsir dan Ilmu Alquran Universitas > > Al-Azhar, Peneliti INSISTS > > > > Belum lama ini terjadi pencekalan Prof Nasr Hamid > > Abu > > Zayd ketika akan tampil di seminar internasional > > yang > > diadakan oleh Universitas Islam Malang, Jawa Timur. > > Abu Zayd terkenal dengan metode hermeneutik, yaitu > > penafsiran Alquran dengan pendekatan linguistik, > > yang > > biasa digunakan untuk menginterpretasi Injil dengan > > menganalisis kondisi pengarangnya. > > > > Yang menarik, pernyataannya dalam wawancara singkat > > dengan majalah Tempo menjelang kepulangannya ke > > Belanda setelah dicekal tampil di Malang, dia tidak > > dapat membedakan konsep takwil dalam tradisi > > keilmuan > > Islam dengan konsep hermeneutika. Sebenarnya > > tidaklah > > sulit bagi kita, apalagi sekelas Prof Abu Zayd, > > untuk > > membedakan konsep takwil dalam tradisi keilmuan > > Islam > > dengan konsep hermeneutika di Barat. > > > > Pertama, dari sisi etimologis saja padanan dua kata > > itu tidak dapat dikatakan sama. Orientasi takwil itu > > adalah penetapan makna, sementara orientasi > > hermeneutika itu adalah pemahaman yang berubah-ubah > > dan nisbi mengikuti pergerakan manusianya. > > Kekeliruan > > penerjemahan istilah peradaban lain ke dalam kamus > > peradaban kita, disadari atau tidak, akan dapat > > merusak konsep istilah keilmuan kita yang telah > > mapan. > > > > Kedua, dari segi latar belakang historisnya. > > Sebagaimana maklum, metode hermeneutika lahir dalam > > ruang lingkup yang khas dalam tradisi Barat-Kristen. > > Perkembangan khusus dan luasnya opini tentang sifat > > dasar Perjanjian Baru, dinilai memberi sumbangan > > besar > > dalam mengentalkan problem hermeneutis dan usaha > > berkelanjutan dalam menanganinya. Hal ini berbeda > > dengan Alquran. Tidak ada alternatif pemahaman > > selain > > bahwa Alquran, seluruh redaksi dan maksudnya > > langsung > > dari Allah SSWT. Status otoritatif yang diduduki > > Alquran tidak pernah dipertanyakan lagi. > > > > Hal tersebut disebabkan oleh dua hal. Pertama, > > Alquran > > sendiri dengan tegas menekankan teori ini dan tidak > > menyediakan ruang untuk spekulasi. Nabi tidak pernah > > gagal menarik garis yang tegas antara kata-katanya > > dan > > kata-kata dari Alquran. Kedua, kaum Muslim tanpa > > ragu > > meyakini bahwa di tangan mereka, huruf, kata, > > kalimat, > > dan sistematika Alquran tetap terjaga seperti > > keadaannya di masa Nabi. > > > > Dua faktor ini, dan ditambah fakta bahwa Alquran > > mengandung prinsip-prinsip penafsiran dalam dirinya > > sendiri, mempersulit tematisasi problem hermeneutis > > dalam Islam. Kaum sekuler-liberal dengan semangat > > mempropagandakan takwil sebagai brand untuk membaca > > Alquran di era modern ini. Takwil dalam pandangan > > kelompok liberal dan sekte sempalan lainnya adalah > > batu karang kokoh yang akan memecah kesatuan sistem > > pemikiran Islam yang telah dikonstruksi dengan > > teliti > > dan saksama oleh para ulama Muslim selama perjalanan > > Islam sebagai agama sekaligus peradaban. Dengan > > mengendarai tumpangan takwil inilah, mereka berupaya > > untuk memberi kontribusi penghancuran dan perusakan > > Islam dari dalam secara mengerikan. > > > > Modus pemikiran semacam inilah yang telah > > menyebabkan > > mereka secara membabi buta membela terminologi > > takwil > > dalam konteks penafsiran kitab suci. Takwil yang > > telah > > sekian lama ditinggalkan dan dikubur oleh otoritas > > agama kemudian diangkat dan dihidupkan lagi. > > Meminjam > > bahasa Nasr Hamid, bahwa selama perjalanan panjang > > tradisi keilmuan Islam, para ulama Islam melakukan > > praktik belah bambu, mengangkat nilai tafsir dan > > menginjak, meremehkan nilai takwil. > > > > Konsep orisinalitas takwil dalam tradisi keilmuan > > Islam yang telah dikenal baik dan dipraktikkan > > dengan > > apik selama berabad-abad ini pun telah direduksi dan > > ditelanjangi dari berbagai batasan serta aturan yang > > melingkupinya oleh sang kampiun ahli sastra. Konsep > > itu tidak lagi dimengerti sebagai pengalihan suatu > > lafal kepada makna lain yang dimungkinkan > > berdasarkan > > dalil kuat, yang tanpanya ia tidak boleh sembarangan > > dialih makna. Sehingga menjadi semacam proses > > dekonstruksi yang menghancurkan sistem keterkaitan > > antara teks dan pemiliknya, juga antara makna dan > > segala kemungkinan arti yang diakomodasi oleh dalil > > yang kuat tersebut. > > > > Pola kerja ideal > > Penulis setuju dengan pendapat bahwa bahasa teks > > sebagai sumber tak pernah kering bagi keragaman > > pembacaan. Tetapi patut dicurigai pula bahwa bahasa > > memiliki sifat untuk mengelak dan liar jika tidak > > dibatasi oleh pagar-pagar metodologis. Dengan > > demikian > > amat penting untuk membedakan dua tingkatan dalam > > menentukan sistem penandaan suatu makna. Pertama, > > tingkatan yang bersifat sistemik dan kolektif, > > melalui > > prosedur-prosedur penciptaan makna secara leksikal, > > gramatikal, filologi. Kedua adalah tingkatan yang > > non > > sistemik-individual yang memberikan ruang luas untuk > > proses qiro'ah dan takwil. Seorang penafsir dituntut > > untuk menjaga keseimbangan pola pikir individual > > non-sistemik dengan pola kerja sistemik yang > > kolektif. > > > > Pola kerja kolektif dalam proses takwil misalnya > > terumuskan dengan baik oleh otoritas keilmuan Islam > > dengan istilah dalil (didukung argumentasi kuat) dan > > la'b (permainan kata-kata yang terlepas dari dalil > > maupun takwil). Siapa yang mau mentakwil maka ia > > memerlukan indikator kuat. Rumusan mereka bahwa nash > > memiliki dua macam dalâlah yaitu penandaan lafaz > > atas > > maknanya dan penandaan makna yang telah ditunjuk > > oleh > > nash atas makna yang lain,, mengindikasikan kuatnya > > memori kesadaran kolektif di samping memperhatikan > > aspek ma'tsur (sabda dan perilaku Rasul, sebagai > > penafsir utama) dalam proses pentakwilan. Oleh > > karena > > itu diperlukan nilai pertanggungjawaban atau > > akuntabilitas dalam setiap upaya takwil sebagai > > akibat > > perimbangan nilai individual dan kolektif. > > > > Akhirnya, penulis sepakat dengan apa yang > > dilontarkan > > Musthafa Nashif (Mas'uliyyat al-Ta'wil: 2004) bahwa > > kemunculan takwil dalam lingkungan tradisi Islam > > terkait dengan upaya menjaga keseimbangan dan > > merupakan wujud dari pemberian kesempatan bagi > > kehidupan yang berubah dengan cepat. Takwil juga > > merupakan pengakuan terhadap kerangka dasar dan > > otoritas sekaligus. > > > > > > > > > __________________________________________________________ > > Be a better friend, newshound, and > > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > > > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > > > > > > > > __________________________________________________________ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo.com/r/hs > > > > > > --------------------------------- > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > > [Non-text portions of this message have been removed] > --- End forwarded message ---

