Tempe sebagai Masalah Negara (dikutip dari Media Indonesia)

NEGARA ini memiliki daftar masalah yang sangat panjang. Yang satu belum 
selesai, yang lain muncul. Masalah negara seperti beranak cucu di Republik ini.

Yang lebih menyedihkan ialah timbulnya masalah baru yang sifatnya elementer. 
Masalah baru, karena sejak zaman penjajahan tidak pernah menjadi masalah. Eh, 
sekarang, setelah lebih 62 tahun merdeka, ia menjadi persoalan negara.

Masalah elementer karena menyangkut lauk pokok rakyat banyak. Namanya tempe. 
Bahkan, inilah lauk yang semakin diakui khasiat dan gizinya. Ia merupakan 
alternatif yang canggih dan murah untuk menghindari kolesterol jahat. Sebagai 
gambaran, baru sekitar Perang Vietnam, nilai gizi yang tinggi itu disadari oleh 
orang Amerika. Sejak itu sejumlah buku ditulis di Amerika mengenai keunggulan 
tempe.

Makhluk yang bernama tempe itu, beberapa hari ini harganya meroket, sehingga 
rakyat protes. Kiranya inilah pertama kali terjadi dalam sejarah negara ini 
bahwa ribuan rakyat di sekitar megapolitan (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) 
berdemonstrasi ke Istana karena tempe.

Tempe menjadi barang langka. Penyebabnya karena kedelai menghilang dari pasar. 
Kalaupun ada di pasar, harganya selangit. Yaitu, naik 150% selama enam bulan 
terakhir.

Karena bahan baku untuk membuat tempe langka, tempe pun menghilang dari pasar. 
Kalaupun diproduksi, harganya pun selangit, seiring selangitnya harga kedelai. 
Karena harganya mahal, tempe tidak laku. Pedagang yang masih berani jualan 
tempe merugi.

Tempe mendadak sontak menjadi masalah strategis. Ternyata, negara bukan saja 
belum mampu menyelesaikan urusan pangan yang pokok, yaitu beras, tetapi juga 
subpangan, yaitu tempe yang merupakan lauk murah meriah dan bergizi tinggi.

Masalah beras dan tempe menunjukkan Republik Indonesia adalah negara agraris 
yang memble. Memble, kata kamus, yaitu terkelepai ke bawah; bodoh, dungu.

Mengapa? Jawabnya, tegas, karena negara ini tidak memiliki politik pertanian 
yang jelas. Bahkan, lebih tajam lagi, tidak punya arah ke mana negara hendak 
dibawa sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan yang pokok.

Buktinya, gampang dan banyak. Negara membiarkan dan merestui sawah yang terbaik 
untuk padi digusur oleh realestat dan kawasan industri. Negara lebih memilih 
mengekspor gas, dengan mengorbankan pabrik pupuk di dalam negeri kelenger dan 
mampus. Negara tidak memberi insentif yang menggairahkan petani untuk menanam 
padi. Padahal, sebaliknya, dengan mengimpor beras, negara ini justru menghidupi 
petani negara lain.

Kelangkaan kedelai adalah juga akibat politik pertanian yang tidak peduli pada 
kemampuan menghasilkan kedelai dalam negeri. Dari tahun ke tahun yang terjadi 
ialah produksi kacang kedelai lokal menurun dan semakin besar tergantung kepada 
impor.

Tempe telah naik panggung politik menjadi masalah negara yang serius. Serius 
karena menunjukkan kedunguan negara. Dungu, tidak sanggup mengurus perkara 
elementer, yaitu lauk rakyat sehari-hari.

Pelajaran yang dapat dipetik ialah tak perlu muluk-muluk amat mengimpikan 
presiden yang ideal. Kalau ada yang kampanye nyanyian surga pada Pemilu 
2009--misalnya memberantas korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu--tutup 
saja telinga kanan dan kiri. Sebab, itu cuma omdo, omong doang.

Baru buka telinga, kalau ada yang janjinya sederhana, mampu menyediakan beras 
dan tempe dengan harga murah. Sebab, di belakang janji beras dan tempe itu, 
sesungguhnya bersemayam politik pertanian dan strategi pemenuhan pangan yang 
cemerlang.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke