Ahmadiyah Akui Muhammad Nabi Terakhir, Mirza sebagai Guru
Selasa, 15 Januari 2008 var sburl3649 =
window.location.href; var sbtitle3649 = document.title;var
sbtitle3649=encodeURIComponent("Ahmadiyah Akui Muhammad Nabi Terakhir, Mirza
sebagai Guru"); var
sburl3649=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6177");
sburl3649=sburl3649.replace(/amp;/g,
"");sburl3649=encodeURIComponent(sburl3649);Pernyataan terbaru Jemaah Ahmadiyah
(JAI), mengaku Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir. Dan Mirza Ghulam sebagai
guru pembawa berita gembir. Semoga jujur!
Hidayatullah.com—Pernyataan terbaru dari Jemaah Ahmadiyah (JAI) ini disampaikan
dalam sebuah konferensi pers di Bayt Al-Quran, Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur,
Selasa (15/1) pagi.
Dalam kesempatan ini, Ahmadiyah akhirnya menyatakan bahwa mereka akhirnya
meyakini Muhammad Rasulullah adalah Nabi penutup (Khatamun Nabiyyin) dan Mirza
Ghulam Ahmad hanya sebagai guru dan pembawa berita gembira, peringatan serta
pengemban 'mubasysyirat'.
Pernyataan tersebut dikeluarkan Amir Pengurus Besar JAI, Abdul Basit, kepada
wartawan di Jakarta, sesudah berdialog dengan sejumlah tokoh masyarakat dan
pemerintah sebanyak tujuh kali sejak 7 September 2007 yang difasilitasi
Balitbang Departemen Agama.
Pernyataan terbaru Ahmadiyah ini merupakan 12 butir pokok-pokok keyakinan dan
kemasyarakatan dari pertemuan dengan pihak Balitbang Depag sejak September 2007.
Selain Ahmadiyah, konfrensi pers ini disaksikan Kepala Balitbang Depag Prof Dr
Atho Mudzhar, Deputi Seswapres bidang Kesra Prof Dr Azyumardi Azra, Kaba
Intelkam Polri Irjen Pol Saleh Saaf, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Dr
Ridwan Lubis, serta Ketua II Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI).
Selain itu, Abdul Basit juga mengatakan, 12 butir kesepakatan dengan pihak
Depag itu diantaranya adalah penjelasannya mengenai dua kalimah syahadat, dan
meyakini tak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW dan bahwa Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad adalah sumber
ajaran Islam yang dipedomaninya.
"Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah melainkan catatan pengalaman
rohani Mirza Ghulam Ahmad yang dibukukan sejak 1935, 27 tahun setelah beliau
wafat pada 1908," kata Basit.
Pihaknya juga menyatakan tak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah
dan tak akan menyebut masjid yang dibangun Ahmadiyah dengan Masjid Ahmadiyah
dan terbuka untuk seluruh umat Islam.
Sementara itu, Kabalitbang Depag Atho Mudzhar mengatakan pihaknya hanya
memfasilitasi dialog tersebut, namun soal penilaian tentang penjelasan 12 butir
yang telah dihasilkan ini akan dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Atho juga menyatakan, dengan hasil dialog ini pihaknya berharap tak ada lagi
pertentangan antara Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan umat Islam lainnya,
sementara golongan Ahmadiyah lainnya yakni Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI)
memang tak ada persoalan.
Tenaga Ahli Staf Khusus Wapres Dr Mafri Amir mengatakan, penjelasan ini adalah
pelurusan yang menegaskan bahwa JAI sekarang sudah ada dalam alur yang benar
dan dengan demikian merupakan suatu lompatan besar.
Dengan pernyataan terbaru ini, Ahmadiyah, akhirnya ingin menunjukkan, bila
mereka dianggap sebagai bagian dari Islam. "Kami adalah bagian dari Islam,"
ujar Ketua Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Abdul Basit. [cha,
berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]