Dari milis sebelah,

 

Banyak orang yang lebih mementingkan rokok dari pada kebutuhan yang
lebih penting/mendasar,

ah, seandainya saja semua ulama/kyai bersepakat mengharamkan rokok...

 

Salam,

Effendi B

 

komentar  ---- tentang  rokok

Posted by: "Fuad Baradja" [EMAIL PROTECTED]   fuadbaradja

Wed Jan 23, 2008 6:00 pm (PST)

Saya menulis untuk forum ini karena tergelitik oleh tulisan pak Edi yang
diforward ke milis Anti Tembakau oleh seorang anggota.

Ada dua hal yang ingin saya komentari .

Pertama tentang seorang bapak yang tak mampu membayar SPP anaknya yang
hanya Rp.7000,-

Ada cerita yang lebih mengenaskan lagi .

Ini terjadi ketika saya menjadi pemandu acara Testimoni korban adiksi
rokok pada acara puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di
Aula Depkes RI tahun 2006 silam .

Saat itu , salah seorang yang dihadirkan untuk memberikan testimoni
adalah seorang nelayan dari muara angke yang merokok 4,5 bungkus sehari
seharga Rp.22.500,-.

Berikut cuplikannya:

"Bapak punya anak ?"

"Anak saya empat orang"

"Apakah mereka semua bersekolah ?"

'Yang dua sekolah , yang dua lagi berhenti"

"mengapa berhenti ?"

"Gak ada biaya..."

"Lho tadi bapak bilang merokok seharga 22.500 rupiah , itu berarti 600
ribu lebih sebulannya"

"Saya mah lebih baik anak saya berhenti sekolah daripada saya harus
berhenti merokok.."

Jawaban itu meluncur tanpa perasaan ataupun penyesalan , disaksikan para
pejabat Depkes eselon satu sampai empat dan para undangan lain yang
terkesima mendengarnya.

Itu hanya satu orang . Ada jutaan lainnya dengan masalah yang kurang
lebih sama.

Di luar sana ada banyak tukang ojek yang motornya ditarik pihak
perusahaan leasing karena tak mampu membayar kreditannya yang berkisar
300 ribu rupiah sebulan , padahal rokoknya harga 8 ribu rupiah
perbungkus .

ironis.

Kedua tentang petani tembakau yang lebih parah nasibnya karena permainan
harga oleh pihak pembeli.

Seharusnya pemerintah , dalam hal ini departemen pertanian memberikan
alternatif agar mereka "hijrah" ke pertanian lain.

Bayangkan , saat para perajin tahu tempe sekarat karena harga kedelai
impor melambung tinggi , alangkah beruntungnya mereka bila beralih ke
pertanian kedelai.

Kalau kepepet mereka bisa saja menjualnya langsung ke pasar , diatas
gerobak sekalipun , pasti mendapatkan hasil penjualan yang jauh lebih
meguntungkan daripada hasil tembakau yang hanya dibeli oleh industri
rokok.

Perlu pemerintah yang kreatif memang , untuk mengentaskan rakyat dari
keterpurukan yang menyengsarakan ini.

 

Fuad Baradja

Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM-3)

Jakarta.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke