Assalamu'alaikum wr wb,
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
menyatakan bahwa baru akan mencabut fatwa Ahmadiyah sesat jika Ahmadiyah mau
mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi dan bukan pula Rasul.
Namun dari 12 pernyataan Ahmadiyah,
tidak ada satu pernyataan pun yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan
Nabi dan bukan Rasul.
Sebaliknya di poin 3 disebut bahwa
Ghulam adalah Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan (bukan sekedar
Guru). Padahal Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan itu adalah
Nabi/Rasul.
Pernyataan Ahmadiyah bahwa Nabi
Muhammad adalah Khaataman Nabiyyiin juga tidak berarti karena pengertian
Khaataman Nabiyiin antara para ulama Islam dengan kelompok Ahmadiyah berbeda.
Kalau menurut para ulama Islam Khaataman Nabiyiin adalah Penutup Nabi-Nabi dan
tidak ada Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad SAW, menurut Ahmadiyah artinya
adalah Cincin (penghias para Nabi) dan Ahmadiyah beranggapan ada Rasul setelah
Nabi Muhammad di antaranya adalah Mirza Ghulam Ahmad.
Tak heran jika MUI menyebut 12
pernyataan Ahmadiyah sebagai 12 Pasal Karet karena bisa ditafsirkan
bermacam-macam. Menurut MUI sebetulnya Ahmadiyah cukup mengeluarkan pernyataan
yang tak bisa ditafsirkan macam-macam seperti Mirza Ghulam Ahmad BUKAN Nabi dan
BUKAN pula Rasul.
Banyak ayat Al Qur’an di bawah yang
menyatakan bahwa Nabi adalah pembawa berita gembira dan peringatan. Jadi jika
Ahmadiyah menyatakan hal serupa, maka Ahmadiyah tetap kekeh berpendapat Ghulam
adalah Rasul.
Tindakan Pakem (Polisi dan Jaksa
yang awam agama Islam) yang tidak melibatkan para ulama dalam menentukan apakah
satu aliran sesat atau tidak sangat disayangkan karena para ulama yang mewakili
ummat Islam sama sekali tidak terwakili.
Berikut ayat-ayat Al Qur’an yang
menunjukkan bahwa Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan itu adalah
Rasul seperti halnya Nabi Muhammad:
“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu
(Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan” [Al Baqarah:119]
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu
sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Fath:8]
“Dan Kami turunkan (Al Quran)
itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa)
kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita
gembira dan pemberi peringatan” [Al Israa’:105]
“Dan tidaklah Kami mengutus
rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar
dengan demikian mereka dapat melenyap kan
yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan
terhadap mereka sebagai olok-olokan.” [Al Kahfi:56]
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah
datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika
terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada
datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi
peringatan." Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Al Maa’idah:19]
“(Mereka Kami utus) selaku
rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada
alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan
adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [An Nisaa’:165]
“Dan Kami tidak mengutus kamu,
melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan
sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”
[Saba’:28]
Jika Ahmadiyah tetap ingin
menjadi bagian dari Islam, sudah seharusnya Ahmadiyah mengamalkan ajaran Islam
seperti ummat Islam lainnya. Bukan merusak ajaran Islam dari dalam seperti
menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul karena menganggap ajaran Islam
tidak sempurna.
”Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...” [Al Maa-idah:3]
Jika Ahmadiyah tidak mengimani
kesempurnaan ajaran Islam sebagaimana disebut ayat Al Qur’an di atas sehingga
merubah-rubah/menambah-nambahnya dengan alasan memperkuat segala macam seraya
berusaha menyesatkan ummat Islam, Ahmadiyah harus berani mengakui bahwa mereka
bukan Islam.
Tulisan Djohan Effendi, mantan
petinggi Departemen Agama, yang dituduh sebagian orang sebagai Ahmadiyah,
tentang solusi bagi Ahmadiyah juga terlalu bertele-tele.
Solusi bagi Ahmadiyah sebenarnya
sederhana:
Tetap dalam Islam dengan konsekuensi menerima
seluruh ajaran Islam termasuk tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad atau yang
lain sebagai Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad SAWKeluar dari Islam
seperti di Pakistan di mana
Ahmadiyah dinyatakan sebagai minoritas Non Muslim
Sesungguhnya bukan hanya Ulama
MUI yang berfatwa Ahmadiyah sesat. Para ulama seluruh dunia seperti Rabithah
Alam Islami (Liga Muslim Dunia) juga menyatakan Ahmadiyah sesat karena
menganggap
Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul. Silahkan lihat informasinya di:
http://syiarislam.wordpress.com/category/aliran-sesat
===
Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS
Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel
http://www.media-islam.or.id
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs