Pahlawan-pahlawan Matematika yang Terlupakan

Dr. Rizky Rosjanuardi, Al Jupri


SAAT ini ilmu pengetahuan, khususnya matematika, berkiblat ke negeri 
Barat (Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli 
matematika yang berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). 
Yang paling populer kita dengar sebagai matematikawan Arab Muslim 
yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan matematika adalah Al-
Khawarizmi, dikenal sebagai bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan 
nol (0), dan penerjemah karya-karya Yunani kuno.

Apakah benar hanya itu kontribusi negeri-negeri timur (khususnya umat 
Islam) terhadap perkembangan matematika? 

Kisah angka nol

Konsep bilangan nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani 
kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. 
Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke 
waktu.

Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India 
memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah 
suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian 
pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. 
Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang 
salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini 
terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun 
kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil-
hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa "sebuah bilangan 
dibagi oleh nol adalah tetap". Tentu saja ini suatu kesalahan fatal. 
Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu.

Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh 
matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal 
ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu 
(India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang 
melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. 

Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan 
bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini 
disebut sebagai sistem bilangan desimal. 

Zaman Kegelapan

Sebenarnya stagnasi ilmu pengetahuan tidak pernah terjadi, yang 
terjadi adalah berpindahnya pusat-pusat ilmu pengetahuan. Sejarah 
mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era 
kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa perkembangan 
kebudayaan dan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat 
Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur 
Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian 
dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada 
saat itu. 

Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti 
Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada 
masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi 
proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah matematika (juga ilmu 
pengetahuan lainnya) bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan 
khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma'mun lebih besar lagi 
perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa 
kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi 
pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani.

Beasiswa disediakan bagi para penerjemah dan umumnya mereka bukan 
hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam 
matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi 
kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa 
penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan 
Hunayn Ibnu Ishaq. 

Seperti yang banyak dikemukakan ahli sejarah matematika, terutama 
yang ditulis oleh orang Barat, kontribusi Muslim bagi perkembangan 
matematika adalah terbatas pada aktivitas penerjemahan naskah Yunani 
kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah matematika yang tidak 
menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap perkembangan 
matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya.

Namun tidak sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang 
lebih objektif dalam mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya 
terjadi. Dalam satu sumber yang ditulis oleh J. J. O'Connor dan E. F. 
Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak 
berutang pada para ilmuwan/matematikawan Muslim. Lebih lanjut bahwa 
perkembangan yang sangat pesat dalam matematika pada abad ke-16 
hingga abad ke-18 di dunia barat, sebenarnya telah dimulai oleh para 
matematikawan Muslim berabad-abad sebelumnya. 

Kontribusi matematikawan Muslim 

Salah seorang matematikawan brilian pada masa permulaan adalah Al-
Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang telah dikemukakan, Al-
Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang aljabar. 
Penelitian-penelitian Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam 
dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari 
matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian Al-
Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan 
bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan 
sebagai "objek-objek aljabar". 

Generasi penerus Al-Khawarizmi, misalnya Al-Mahani (lahir tahun 820), 
Abu Kamil (lahir tahun 850) memusatkan penelitian pada aplikasi-
aplikasi sistematis dari aljabar. Misalnya aplikasi aritmetika ke 
aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, 
aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan 
sebaliknya. Penelitian-penelitian ini mendasari penciptaan aljabar 
polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari 
persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.

Al-Karaji (lahir tahun 953) diyakini sebagai orang pertama yang 
secara menyeluruh memisahkan pengaruh operasi geometri dalam aljabar. 
Al-Karaji mendefinisikan monomial x, x2, x3,.dan 1/x, 1/x2, 1/x3,.dan 
memberikan aturan-aturan untuk perkalian dari dua suku darinya. 
Selain itu, ia juga berhasil menemukan teorema binomial untuk pangkat 
bilangan bulat. Selanjutnya untuk memajukan matematika, ia mendirikan 
sekolah aljabar. Generasi penerusnya (200 tahun kemudian), yaitu Al-
Samawal adalah orang pertama yang membahas topik baru dalam aljabar. 
Menurutnya bahwa mengoperasikan sesuatu yang tidak diketahui 
(variabel) adalah sama saja dengan mengoperasikan sesuatu yang 
diketahui.

Matematikawan Muslim lainnya adalah Omar Khayyam yang lahir sekitar 
tahun 1048. Dia berjasa besar melalui penelitiannya, memberikan 
klasifikasi lengkap dari persamaan pangkat tiga melalui penyelesaian 
geometri dengan menggunakan konsep pemotongan kerucut. Dia juga 
memberikan sebuah konjektur (dugaan) tentang deskripsi lengkap dari 
penyelesaian aljabar dari persamaan-persamaan pangkat tiga.

Matematikawan berikutnya adalah Sharaf al-Din al-Tusi yang lahir 
tahun 1135. Dia mengikuti Omar Khayyam dalam mengaplikasikan aljabar 
pada geometri, yang pada akhirnya menjadi permulaan bagi cabang 
algebraic geometry.

Di luar bidang aljabar, matematikawan Muslim juga mempunyai andil. 
Salah seorang dari Banu Musa bersaudara, yaitu Thabit Ibnu Qurra 
(lahir tahun 836), mempunyai kontribusi yang banyak bagi matematika. 
Salah satunya adalah dalam teori bilangan, yaitu penemuan pasangan 
bilangan yang mempunyai sifat unik; dua bilangan yang masing-
masingnya adalah jumlah dari pembagi sejati bilangan lainnya dan 
disebut pasangan bilangan bersahabat (amicable number). Teorema 
Thabit Ibnu Qura ini kemudian dikembangkan oleh Al-Baghdadi (lahir 
tahun 980).

Berikutnya adalah Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (lahir tahun 965 di 
Basrah Irak), yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. 
Al-Haytam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan 
sempurna yang genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari 
pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 
2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam membuktikan bahwa 
bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p. 

Sayangnya, jauh di kemudian hari, hasil ini dikenal sebagai Teorema 
Wilson, bukan Teorema Al-Haytam. Teorema ini disebut Teorema Wilson 
setelah Warring pada tahun 1770 menyatakan bahwa John Wilson telah 
mengumumkan hasil ini. Selain dalam bidang matematika, Al-Haytam juga 
dikenal baik dalam dunia fisika, yang mempelajari mekanika pergerakan 
dari suatu benda. Dia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa jika 
suatu benda bergerak, akan bergerak terus menerus kecuali ada gaya 
luar yang memengaruhinya. Ini tidak lain adalah hukum gerak pertama, 
yang umumnya dikenal sebagai hukum Newton pertama. Selain itu, Al-
Haytam memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan teori dan 
praktik optik. Al-Farisi (lahir tahun 1260) memberikan metode 
pembuktian yang baru untuk teorema Thabit Ibnu Qurra. Dia 
memperkenalkan ide baru berkenaan faktorisasi dan metode kombinatorik.

Matematikawan lainnya adalah Al-Kashi (lahir tahun 1380) yang 
memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. 
Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan 
riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan 
algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad 
kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner.

Bidang astronomi

Masalah-masalah astronomi, penentuan waktu, dan masalah geografi 
merupakan motivasi lain bagi matematikawan Muslim untuk melakukan 
penelitian. Misalnya saja Ibrahim Ibnu Sinan (lahir sekitar tahun 910-
an) dan kakeknya Thabit Ibnu Qurra, mempelajari kurva-kurva yang 
diperlukan dalam mengonstruksi jam matahari. Abul-Wafa (lahir tahun 
940-an) dan Abu Nasr Mansur (lahir tahun 970-an) mengaplikasikan 
geometri bola terhadap astronomi dan menggunakan rumus-rumus yang 
melibatkan sinus dan tangen. Kemudian Al-Biruni (lahir tahun 973) 
menggunakan rumus sinus baik dalam astronomi maupun dalam perhitungan 
garis bujur dan lintang dari kota-kota. Dalam kasus ini, Al-Biruni 
melakukan penelitian yang sangat gencar dalam proyeksi dari bola pada 
bidang.

Thabit Ibnu Qurra juga mempunyai kontribusi bagi teori dan observasi 
dalam astronomi. Al-Batanni (lahir tahun 850) membuat observasi yang 
akurat yang memungkinkannya untuk memperbaiki data-data dari Ptolemy 
tentang bulan dan matahari. Nadir al-Din al-Tusi (lahir tahun 1201), 
berdasarkan astronomi teoritisnya dalam pekerjaan Ptolemy, membuat 
pengembangan yang sangat signifikan dalam model sistem planet. 

Pembuatan tabel-tabel fungsi trigonometri adalah bagian dari 
pekerjaan para matematikawan Muslim dalam penelitian bidang 
astronomi, seperti yang dilakukan oleh Ulugh Beg (lahir tahun 1393) 
dan. Konstruksi alat-alat astronomi juga tak lepas dari 
pengaruh para matematikawan Muslim.

Uraian di atas tidaklah cukup mengulas secara menyeluruh karya-karya 
matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum tercakup, dan belum 
terungkap. Belum tercakup dan belum terungkapnya semata-mata karena 
kurangnya sumber yang mengisahkan mereka. Dengan demikian, pantas 
bagi kita untuk mengatakan bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan-
pahlawan matematika yang terlupakan. Atau, memang sengaja dilupakan. 
Wallahu a'lam.*** 

Dr. Rizky Rosjanuardi

Alumni S-3 Institut Teknologi Bandung (ITB), Doktor dalam bidang 
matematika (Bidang kajian Analisis Aljabar), Staf pengajar 
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Al Jupri

Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Juara III 
International Mathematics Olympiad (Olimpiade Matematika tingkat 
Mahasiswa, bersama tim Republik Indonesia) di Isfahan, Iran tahun 
2003, Staf pengajar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung 
 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke