Gempa Diam yang Mengguncang Dapur
Satuan Keamanan PBB Diterjunkan
 -->   
   
  Agni Rahadyanti
  Masih ingat reformasi damai dan gegap gempita gerakan mahasiswa tahun 1998? 
Masih ingat laporan-laporan media massa tentang nasi sambal dan nasi murah Rp 
500 di Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, karena banyaknya masyarakat 
tak mampu membeli makanan?
  Kini, 10 tahun sesudah krisis multidimensi itu, krisis serupa sedang 
menggoyang masyarakat: harga pangan dan kebutuhan sehari-hari tak terjangkau.
  Kesulitan yang dialami Parjiono (42), warga Desa Sendangadi, Mlati, Sleman, 
DI Yogyakarta, niscaya juga dialami banyak warga lain di berbagai daerah.
  Kenaikan harga-harga membuat Parjiono berpikir keras bagaimana tetap bisa 
makan. ”Sekarang ini yang penting setiap hari bisa makan meski tanpa lauk,” 
kata Parjiono, Jumat (25/1).
   
  Petugas kebersihan di lingkungan Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman 
itu mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng, minyak tanah, beras, tempe, 
dan tahu sangat terasa bagi keluarganya.
   
  Di desanya, harga tempe potongan 10 x 25 cm naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 
1.800- Rp 2.000. Sedangkan tempe bungkus kecil eceran naik dari Rp 400 menjadi 
Rp 600 per tempe. Padahal, ukurannya diperkecil pembuatnya. Harga tahu dari Rp 
4.500 menjadi Rp 6.000 per kilogram, atau dari Rp 200 menjadi Rp 400 per 
potong. Sedangkan harga minyak goreng barco terus naik dari Rp 9.000 menjadi Rp 
13.000.
   
  Jika sebelumnya dengan uang Rp 10.000 istrinya bisa memenuhi kebutuhan 
memasak untuk sehari, kini duit sejumlah itu tak cukup lagi. ”Ya, akhirnya tak 
tiap hari ada lauk. Istri saya tetap masak nasi dan sayur, tetapi lauk-pauk 
seperti tahu, tempe, ikan asin, lele, atau bandeng dimasak seminggu sekali,” 
ujar lelaki yang memiliki tiga anak itu sambil menyapu halaman Kantor Setda 
Kabupaten Sleman.
   
  Karena tahu, tempe, dan ikan asin makin mahal, kini kerupuk yang lebih sering 
”menemani” keluarganya: nasi, sayur, kerupuk....
  Dengan upah Rp 800.000 per bulan, Parjiono mengaku beban ekonominya kian 
berat. Apalagi, ketiga anaknya masih butuh biaya sekolah.
   
  ”Istri dan anak saya yang duduk di SMA dan SMP pernah bilang, Pak, ndak 
apa-apa makan kita sederhana. Yang penting tetap bisa bayar sekolah,” ujar 
Parjiono mengutip pengakuan keluarganya. Namun, Parjiono mengaku khawatir 
perubahan menu makanan itu akan memengaruhi pertumbuhan anak bungsunya yang 
berusia 3,5 tahun. ”Khusus untuk si bungsu diusahakan ada lauk, setidaknya 
sekali sehari, bisa telur atau ikan asin. Atau, kalau tidak, ya, ikan pindang 
yang harganya tetap murah.”
  Sejak harga-harga naik, konsumsi protein hewani dari daging ayam atau sapi 
pun semakin jarang. Konsumsi buah- buahan cuma sebatas keinginan.
   
  Khalib (40) yang ditemui di pojok Pasar Argosari, Wonosari, Gunung Kidul, 
lebih berat bebannya. Sebagai buruh angkut, dia tiap hari harus bertahan dengan 
upah Rp 20.000-Rp 25.000. ”Biaya makan jadi lebih tinggi. Kalau biasanya makan 
Rp 2.000 dapat nasi, sayur, dan dua tempe, sekarang tempenya satu saja,” ujar 
Khalib.
  Dengan pendapatan yang tidak menentu jumlahnya, ia tetap harus makan, juga 
membiayai istri dan dua anaknya.
  Khalib memilih mengurangi porsi makan daripada menambah biaya makan. ”Ya, 
biaya sekolah anak tidak mungkin dikurangi. Yang dikurangi porsi makan saya 
saja. Tetap bayar Rp 2.000, tapi tempenya satu saja,” kata Khalib sambil 
tertawa.
   
  Menyederhanakan dan mengurangi menu makanan sudah dilakukan orang. Namun, 
tukang becak bernama Mirat (50) memilih beralih ke makanan lain. Sudah sepuluh 
tahun ia menggenjot becak di Wonosari. Kadang dia memperoleh Rp 50.000, kadang 
Rp 20.000, tetapi kadang blong, tak mendapat uang sama sekali.
   
  Kalau ada uang, harus disisihkan untuk biaya jajan dan bensin dua anaknya, 
uang belanja istrinya, dan kebutuhan makannya saat beroperasi di sekitar Pasar 
Argosari. ”Untuk menghemat, saya suruh istri saya beli makanan jadi saja. Lebih 
murah daripada bikin sendiri. Nasi bungkus bisa Rp 2.000. Kalau belanja tiap 
hari perlu Rp 5.000,” ungkap Mirat.
  Bila sehari-hari ia menghabiskan uang Rp 2.000 untuk membeli nasi sayur 
dengan lauk tempe, kini ia mulai beralih ke mi rebus. Kalau bosan, tinggal 
ganti nasi, sayur dengan kerupuk. ”Diganti-ganti saja menunya. Hari ini 
tempenya satu, besok mi rebus, besoknya kerupuk.”
   
  Kesulitan memenuhi kebutuhan pangan bahkan membuat pasangan suami istri Sarto 
Utomo (50) dan Suliyem (40), warga Desa Duwet, Karangrejek, Gunung Kidul, 
menjual tiga kambing mereka untuk bertahan hidup.
   
  Kambing-kambing yang sedianya digunakan sebagai tabungan untuk menikahkan 
putri keduanya itu terpaksa dijual untuk makan sehari-hari.
   
  Sebulan terakhir kehidupan keluarganya semakin sulit. Tanaman padinya rusak 
karena tanah tegalan mengering dan retak-retak. ”Paling-paling hasilnya hanya 
sekuintal kurang. Panen baru dua bulan lagi,” kata Sarto tentang padi IR-64 
yang ditanamnya.
  Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta Bondan Agus Suryanto mengungkapkan, 
kecenderungan perubahan pola makan untuk bertahan hidup ini memang tak bisa 
dihindari dalam situasi perekonomian masyarakat tertekan sekarang ini.
   
  Namun, ia mengingatkan masyarakat supaya berhati-hati dalam mengubah pola 
makan agar jangan sampai kekurangan gizi. Pada anak balita, kurang gizi bisa 
mengganggu pertumbuhan dan kualitas otak. (A11)
  
  


"Manusia  yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW).
  pustaka tani
  kampusku
  nuraulia

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke