Saatnya Peduli Ibu dan
Generasi<http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/saatnya-peduli-ibu-dan-generasi/>

Ditulis oleh *Farid Ma'ruf* <http://faridmaruf.wordpress.com/> di/pada Juni
28, 2007

*Oleh : Kholda Naajiyah*



*baitijannati. *Kesadaran akan pentingnya tugas-tugas ibu yang tak
tergantikan oleh siapapun ini, bahkan sudah menjadi trend di negara maju
sejak lama. Di Amerika (yang sering menjadi barometer penggiat Feminisme),
gerakan keluar rumah mulai ditinggalkan oleh kaum perempuan. Mereka
berbondong-bondong memutuskan *back to family*. Berawal dari meluasnya
sindrom *Cinderella Complex*, yakni perasaan akan kegamangan sebagai "*public
woman*", bermunculanlah organisasi-organisasi yang mendukung kembalinya kaum
ibu kepada tugas domestik, sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik utama
anak-anak.Mula-mula muncul *Moms Offering Mom Support Club* yang berdiri
sejak 1983. Lalu Yayasan *Mothers at Home* yang berdiri 1984, Mothers & More
tahun 1987 dan masih banyak lagi. Tak heran jika angka statistic partisipasi
perempuan dalam karier di ranah public terus menurun (*USA Today*,
10/05/1991).

Di negeri ini, Majelis Ulama Indonesia pernah mengkampanyekan *Gerakan
Kembali ke Rumah* pada tahun 2004 (*Republika*, 16/12/04). Sayang, gaungnya
ditenggelamkan oleh jargon yang didengungkan oleh para aktivis perempuan.
Entah tidak mengapa, adanya titik balik perjuangan kaum Feminis
internasional yang terbukti telah gagal mengangkat harkat dan martabat kaum
perempuan tidak dijadikan pelajaran bagi Feminis di tanah air untuk merevisi
gerakannya.

Akibatnya, Feminis di tanah air masih juga dengan lantang mengajak kaum ibu
untuk berbondong-bondong keluar rumah dan mencari eksistensi diri di ruang
publik. Dengan dalih kemandirian, khususnya kemandirian ekonomi, kaum
perempuan dipaksa meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai ibu, pengatur
rumah tangga sekaligus pendidik anak-anak.

Betapa tidak, kini lebih banyak anak-anak yang dibesarkan di *Tempat
Penitipan Anak* (TPA), *play group*, *kindergarten* dan sejenisnya.
Anak-anak tumbuh berkat sentuhan baby sitter dengan imbalan rupiah yang
menggiurkan, bukan di tangan ibunya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan
serta gratis. Maklum, ibu yang semakin sibuk hanya punya waktu akhir pekan
saja untuk memperhatikan buah hatinya. Itupun kalau tidak ada PR dari kantor
atau tidak dinas ke luar kota.

Ibu-ibu juga semakin merasa benar dan tenang keluar rumah karena diperkuat
oleh apologi yang salah kaprah, seperti "saya bekerja kan juga demi anak"
atau "yang penting kan kualitas, bukan kuantitas."Ah, benarkah anak-anak
yang masih kecil-kecil itu mereka tanya dan memang menghendaki ditinggal
ibunya? Juga, benarkah kualitas dapat dicapai tanpa memperhatikan kuantitas?
Sebuah asumsi yang layak diperdebatkan kebenarannya.

*Potret Buram Anak*

Terabaikannya peran ibu sebagai pelahir generasi dan pendidik utama
anak-anak, telah melahirkan sisi-sisi kelam dunia anak. Memang,
terabaikannya peran ibu bukanlah "penyebab" tunggal, karena ada faktor
sistemik seperti lingkungan dan negara yang berpengaruh. Namun fakta
membuktikan, banyak anak-anak "gagal" lahir dari sebuah rumah tangga dimana
tidak ada figur sentral sebagai pendidik.

Ketika kedua orang tua sama-sama sibuk mencari nafkah, ketika seorang ibu
mengalihkan tugas pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya kepada pihak lain,
lahirlah generasi-generasi bermasalah yang haus akan kasih sayang. Ya,
kepribadian anak-anak dewasa ini cenderung labil, semakin tidak cerdas dan
bahkan cenderung liar.

Kasus bunuh diri pada anak-anak, bahkan balita adalah contohnya. Selanjutnya
anak-anak banyak yang terlibat seks bebas, narkoba, hamil di luar nikah,
aborsi, hingga tindak kriminalitas. Bayangkan, di Kediri anak usia 12 tahun
membunuh balita berusia 4 tahun. Dari mana inspirasi membunuh itu ia
peroleh? Apakah orang tuanya mengajarkan? Tentu tidak.

Semua itu terjadi karena anak-anak kurang mendapatkan pelajaran dari orang
tuanya, khususnya ibu. Sementara banyak sekali "pelajaran" yang ia serap
dari mana saja, khususnya di luar rumah. Anak yang belum sempurna akalnya
itu, sejatinya membutuhkan bimbingan untuk memilih mana yang benar dan mana
yang salah. Ironisnya, "bimbingan" itu mereka serap dari sumber yang salah.
Entah dari teman-teman, artis idolanya, majalah, buku atau bahkan televisi.

*Kembalikan Fungsi Keluarga dan Ibu*

Ketika lahir, seorang anak merupakan makhluk yang tidak berdaya dan amat
tergantung pada orang yang terdekat dengan dirinya. Dan, idealnya orang
terdekat itu adalah ibunya. Menurut Neuman (1990) usia 20-22 bulan merupakan
masa penting hubungan ibu-anak dan pembentukan diri individu, yang disebut
Neuman *primal relationship*. Dalam pandangan ahli social learning maka apa
yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya merupakan proses yang diadopsi oleh
si anak melalui proses *social-modelling*. Bagaimana cara ibu mengasuh,
apakah dengan penuh kelembutan dan kasih sayang atau apakah dengan kasar dan
amarah serta penolakan akan membentuk perilaku manusia muda tersebut.

Begitu penting peran keluarga khususnya ibu dalam membentuk karakter anak
sejak dini bahkan sejak ia di dalam kandungan. Keluarga memiliki peran yang
besar disamping sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang nilai baik dan
buruk kepada anak-anaknya. Keluarga pulalah wadah dimana anak dapat
menerapkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, maupun di institusi
keagamaan. Mengentaskan anak-anak bermasalah harus dimulai dengan
mengembalikan fungsi keluarga sesuai nilai-nilai ajaran moral dan agama.

Fungsi keluarga akan berjalan dengan baik dimulai dari pembenahan kualitas
calon pasangan suami istri, calon ayah dan ibu dan suami istri. Mereka
hendaklah diberikan pembinaan dan pembekalan memadai supaya paham betul hak
dan kewajiban sebagai seorang ayah dan ibu terhadap anak. Disamping memahami
tangggung jawab mereka dalam melindungi hak-hak anak-anak mereka. Negara
memfasilitasi segala upaya pengembalian fungsi keluarga terutama ibu pada
posisinya semula.

*Penutup*

Bangsa ini sedang mengalami krisis rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM).
Semua menyadari itu. Bahkan semua sepakat –termasuk negara— akan pentingnya
melahirkan generasi-generasi yang berkualitas, baik dari sisi pendidikan,
sain maupun moral. Generasi seperti itu hanya bisa terwujud dengan
memberikan ruang yang nyaman bagi kaum ibu untuk mendidik anak-anaknya,
khususnya pada usia dini. Sebab pada usia kritis inilah masa depan anak
ditentukan. Untuk itu negara harus memberikan support demi keberlangsungan
peran dan tugas kaum ibu. Inilah saatnya untuk peduli ibu dan generasi!(*) (
www.baitijannati.wordpress.com)

*Peminat masalah anak-anak, remaja dan wanita, Aktivis Hizbut Tahrir
Indonesia*

Sumber : HTI Online


[Non-text portions of this message have been removed]



===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke