Mengoptimalkan Peran Ibu Rumah
Tangga<http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/mengoptimalkan-peran-ibu-rumah-tangga/>

Ditulis oleh *Farid Ma'ruf* <http://faridmaruf.wordpress.com/> di/pada
Desember 9, 2007



*Oleh : Reta Fajriah*

(Pemerhati Masalah Keluarga)

*
*



ßõáøõßõãú ÑóÇÚò æóßõáøõßõãú ãóÓúÆõæáñ Úóäú ÑóÚöíøóÊöåö¡ ÇúáÅöãóÇãõ ÑóÇÚò
æóãóÓúÆõæáñ Úóäú ÑóÚöíøóÊöåö¡ æóÇáÑøóÌõáõ ÑóÇÚò Ýöí Ãóåúáöåö æóåõæó
ãóÓúÆõæáñ Úóäú ÑóÚöíøóÊöåö¡ æóÇáúãóÑúÃóÉõ ÑóÇÚöíóÉñ Ýöí ÈóíúÊö ÒóæúÌöåóÇ
æóãóÓúÆõæáóÉñ Úóäú ÑóÚöíøóÊöåóÇ



*Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas
kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas
rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung
jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia
bertanggung jawab atas kepemimpinannya…*(HR al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. telah menetapkan tanggung jawab terhadap laki-laki (suami)
dan perempuan (istri) dalam kapasitas sebagai pemimpin yang berbeda di dalam
sebuah keluarga. Suami sebagai pemimpin bertugas mengendalikan arah rumah
tangga serta penjamin kebutuhan hidup sehari-hari—seperti makanan, minuman
dan pakaian—serta bertanggung jawab penuh atas berjalannya seluruh
fungsi-fungsi keluarga. Adapun istri berperan sebagai pelaksana teknis
tersedianya
kebutuhan hidup keluarga serta penanggung jawab harian atas terselenggaranya
segala sesuatu yang memungkinkan fungsi-fungsi keluarga tersebut dapat
dicapai. Berjalan-tidaknya fungsi-fungsi keluarga secara adil dan memadai
merupakan indikasi tercapai-tidaknya keharmonisan dalam keluarga. Namun,
ibarat mengayuh perahu, keduanya harus saling kompak dan bekerjasama agar
biduk rumah tangga tidak terbalik. Fungsi-fungsi keluarga yang dimaksud
adalah fungsi reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi,
sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang),
rekreasi, dan fungsi reliji (keagamaan).

Tugas utama serang istri secara umum ada dua: (1) sebagai Ibu, yang
berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi reproduksi serta fungsi edukasi;
(2) sebagai pengatur rumah tangga, yang berkaitan dengan pemenuhan
fungsi-fungsi keluarga yang lainnya.


*Beberapa Tuntunan*

*Pertama*: Dalam pandangan Islam, tujuan dari pernikahan tidak hanya sekadar
memiliki keturunan, tetapi juga bagaimana menjadikan keturunan kelak menjadi
pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Lihat: QS al-Furqan [25]: 74).* *Agar
terwujud, sudah pasti sang pemimpin terlebih dulu harus menjadi orang yang
bertakwa. Untuk itulah, Islam telah memberi tuntunan agar mendapat keturunan
yang baik dengan cara mempersiapkannya seawal mungkin, yaitu sejak sang ayah
dan ibu berikhtiar untuk mendapatkan keturunan. Allah Swt. telah
mensyariatkan adanya doa sebelum berhubungan intim, selanjutnya melakukan
pendidikan terhadap anak mulai dari masa kandungan hingga anak mencapai usia
balig.

Pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan hingga dapat
mengantarkan anak memasuki usia balig dalam kondisi siap untuk menerima
segala bentuk pembebanan hukum syariah saat dewasa. Di samping itu, anak
perlu dibekali dengan keterampilan hidup yang memungkinkan baginya untuk
bisa eksis dalam mengarungi kehidupan ini. Untuk itulah seorang Ibu dituntut
agar memiliki kemampuan mendidik anak, baik dari sisi konsep maupun teknis
pelaksanaan berikut pembiasaan dalam keseharian anak.

*Kedua*: Seorang istri berperan mengelola rumah tangganya agar tercapai
keharmonisan di dalam keluarga. Dalam hal keuangan, istri diharapkan dapat
mengatur sedemikian rupa nafkah yang diberikan oleh suami agar mencukupi
kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi jika penghasilan suami tidak seberapa
besar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyusun daftar rencana pemasukan
dan pengeluaran dalam satu bulan, dengan prioritas pengeluaran yang dianggap
paling penting. Jika kebutuhan hidup masih belum mencukupi, dengan izin suami
seorang istri bisa saja membantu suami dalam menambah ekonomi keluarga. Jika
memungkinkan carilah peluang pemasukan yang tidak banyak menyita waktu ke
luar rumah, misalnya dengan menulis artikel dan buku; atau yang dapat
membuka kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat,
seperti menjual busana Muslimah atau kebutuhan hidup sehari-hari di rumah;
atau yang dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam mendidik anak,
misalnya dengan menggeluti bidang pendidikan anak. Yang jelas, semua itu
tidak boleh melalaikan kewajibannya yang lainnya seperti mendidik anak
ataupun berdakwah.

*Ketiga*: Dalam hal pemenuhan fungsi proteksi keluarga, seorang istri dapat
mengkondisikan suasana rumah yang tenang, bersih dan tertata rapi agar menjadi
tempat berlindung yang nyaman dan membuat betah para penghuninya. Rasulullah
saw. memuji seorang istri yang pandai merapikan rumah dengan mengatakan, "*Ia
tidak memenuhi rumah kita dengan sarang burung."* (Muttafaqun 'alaihi).

Kepedulian dan kesabaran istri dalam menyikapi persoalan yang dihadapi
anggota keluarga dapat menjadikan suami dan anak-anak ingin segera kembali
ke rumah untuk menyampaikan setiap suka dan duka yang dihadapinya di luar
rumah. Keluarga menjadi tempat yang paling aman dan menyenangkan secara
fisik dan psikis bagi anggotanya untuk saling berbagi. Apalagi bagi
anak-anak, sebab sangat riskan jika mereka mencari kenyamanan di tempat lain
yang bisa jadi berbahaya bagi pergaulannya.

*Keempat*: Fungsi sosial keluarga ditandai dengan adanya interaksi keluarga
dengan masyarakat. Keharmonisan dengan anggota masyarakat harus terus
dijalin, sebagaimana keharmonisan antar anggota keluarga. Apalagi Allah Swt.
telah menetapkan akhlak bertetangga, sebagaimana sabda Nabi saw. (yang
artinya):

*Hak tetangga adalah jika dia sakit, engkau mengunjunginya; jika dia wafat,
engkau mengantarkan jenazahnya; jika dia membutuhkan uang, engkau
meminjaminya; jika dia mengalami kemiskinan (kesukaran), engkau rahasiakan;
jika dia memperoleh kebaikan, engkau ucapkan selamat kepadanya; dan jika dia
mengalami musibah, engkau mendatanginya untuk menyampaikan rasa duka. Janganlah
meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya sehingga menutup
kelancaran angin baginya. Jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk
masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya. *(HR
ath-Thabrani).

Alangkah mulia tuntunan ini jika diamalkan dalam keseharian, khususnya oleh
seorang istri yang relatif lebih banyak waktu di rumah. Hubungan yang baik
dengan tetangga juga sangat membantu untuk mewujudkan kepemimpinan dan
lingkungan yang islami. Berbagai hal bisa dilakukan dalam menumbuhkan
kegiatan-kegiatan yang kondusif bagi syiar Islam dan pendidikan anak,
misalnya dengan mengadakan pengajian rutin di kalangan ibu-ibu, sanlat dan
kajian keislaman untuk anak dan remaja, serta pengajian umum untuk keluarga
pada momen-momen tertentu. Sebuah keluarga yang bisa diterima dalam
masyarakat, secara tidak langsung akan memperkuat pula dorongan bagi
anggotanya untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar terhadap lingkungan
yang juga merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.

*Kelima*: Adanya kasih sayang dan kehangatan di dalam keluarga merupakan hal
yang sangat berpengaruh dalam menciptakan keharmonisan di dalam rumah
tangga. Rasulullah mengajarkan hal yang demikian. Beliau bersabda,
sebagaimana penuturan Anas ra., *"Wahai anakku, jika kalian masuk menemui
istrimu, ucapkanlah salam. Salammu itu menjadi berkah bagimu dan bagi
penghuni rumahmu."* (HR at-Tirmidzi).

Dalam hadis lain, Ummul Mukminin Aisyah ra. Berkata, *"Rasulullah adalah
orang yang paling lunak hatinya, mudah tersenyum dan tertawa.*" (HR Ibnu
Saad).

Sebaliknya, seorang istri juga perlu selalu menyambut suami dengan
menampakkan wajah berseri-seri dan memakai wewangian. Ketika bercakap-cakap,
buatlah suasana santai dengan mendahulukan kabar yang menyenangkan dan
disertai senda gurau. Sikap demikian akan membawa kesegaran bagi keduanya
setelah seharian bergelut dengan kegiatan masing-masing. Ketika ada hal yang
kurang berkenan, carilah waktu, tempat dan cara yang tepat untuk
menyampaikannya. Tunjukkan bahwa penegur tidak berarti lebih baik dari yang
ditegur. Adapun caranya sangat bergantung pada sifat suami, apakah lebih
tepat disampaikan dalam bahasa yang jelas dan lugas atau dengan bahasa
sindiran. Yang jelas semua dimaksudkan untuk kebaikan, tidak untuk
menjatuhkan dan menunjukkan kekurangannya. Kalaupun ada kelemahan suami yang
agak sulit diubah, hiburlah diri, dengan mengingat kebaikannya yang banyak,
sebagaimana sabda Nabi saw., "*Janganlah seorang Mukmin (suami) membenci
Mukminah (istri). Jika ia membenci satu bagian, pasti ada bagian lain yang
menyenangkannya*." (HR Muslim).

Tentu hadis ini berlaku sebaliknya. Kehangatan dan kasih sayang dalam
keluarga juga meliputi hubungan antara orangtua dan anak. Biasakanlah
memanggil anak dengan nama kesayangannya ataupun harapan yang baik, seperti
*anak salih*, *pintar*, *berani *dan lain-lain. Ketika anak dikondisikan
demikian, maka akan terbentuk konsep diri yang positif pada dirinya,
sehingga anak termotivasi menjadi seperti yang diharapkan. Anak yang tumbuh
dalam suasana keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang akan lebih percaya
diri dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari.**

*Keenam*: Di tengah kesibukan anggota keluarga sehari-hari, penting untuk
menyempatkan rekreasi bersama. Rekreasi tidak identik dengan wisata yang
mengeluarkan biaya mahal, tetapi cukup dengan berkumpul di tempat yang santai,
bersenda gurau bersama dan melepaskan segala rutinitas yang
melelahkan. Kegiatan
ini juga bisa dilakukan di rumah, misal dengan berkebun, olahraga, menonton
tayangan, bermain air, bahkan sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga
seperti mencuci atau mengepel. Intinya kegiatan ini dilakukan oleh seluruh
anggota keluarga dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Sesekali bisa
saja diselipkan cerita lucu dan bermain tebak-tebakan. Seorang istri harus
pandai memanfaatkan waktu, meskipun singkat, guna mengkondisikan kegiatan
seperti ini. Kesegaran yang didapatkan, sangat membantu semuanya untuk
kembali beraktivitas rutin di hari berikutnya.**

*Ketujuh*: Hal yang tidak kalah pentingnya dalam keluarga adalah fungsi
religius. Jika fungsi ini tidak terlaksana dengan baik, sebuah keluarga akan
merasakan kegersangan batin, seberapapun tercukupi kebutuhan materi. Suasana
ibadah dapat ditumbuhkan di tengah keluarga dengan terbiasa melakukan shalat
berjamaah, tadarus bersama, shaum sunnah dan qiyamullail. Rasulullah saw.
memuliakan suami istri yang terbiasa melakukan qiyamullail bersama, *"Semoga
Allah merahmati lelaki yang bangun malam, mengerjakan shalat dan
membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air di
wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam,
mengerjakan shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, ia
memercikkan air di wajahnya*. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).

*Subhânallâh*! Betapa indahnya kebersamaan seperti ini, apalagi jika
dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Seorang istri dapat membiasakan hal
seperti ini di tengah keluarganya agar keluarga tersebut menjadi keluarga
yang selalu dekat dan bertakwa kepada Allah Swt. Dengan demikian, setiap
cobaan dan ujian yang menimpa keluarga akan dapat dihadapi dengan sikap
sabar dan tawakal kepada Allah Swt.**


*Khatimah*

Demikian tuntunan yang dapat dilakukan seorang perempuan dengan perannya
sebagai ibu dan pengatur rumah tangga untuk membawa keluarganya menjadi
keluarga yang harmonis; *sakînah mawaddah wa rahmah*. Adanya kerjasama
dengan suami akan sangat membantu tugas yang sangat berat ini.

Semoga Allah Swt. memberikan balasan atas setiap upaya yang kita lakukan
dengan pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya. Amin*. (
www.baitijannati.wordpress.com)*

Sumber : Majalah Al Waie edisi Desember 2007


[Non-text portions of this message have been removed]



===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke