Dear all,
Mohon maaf sebelumnya jika ternyata sudah ada yang mem-posting ini, 
sekaligus juga maaf jika ada yang tidak berkenan dengan posting saya 
ini.
Sekedar sharing ... berita (tepatnya curhat) yang mengundang saya 
untuk bertakziah ... berduka cita sedalam-dalamnya :-(
Hilang sudah salah satu 'harapan' ummat ... (semoga saya salah)!
Saya hanya bisa meng-amin-i doa penulis di akhir tulisannya ...!
Semoga Allah mengampuni saya sekiranya posting saya ini hanya menebar 
fitnah ...! :-(

salam,
satriyo

PS: mohon maaf buat warga Bali, tidak ada maksud saya memberi citra 
negatif krn saya tahu betapa tidak sedikit warga asli Bali yang muak 
dan menentang segala bentuk pencemaran tradisi setempat dengan dalih 
apapun, pariwisata apalagi ... tapi tak berdaya melawan struktur yang 
ada!
PPS: yuk kita dengarkan ulasan para pengkritisi partai tiap ahad ke-3 
di masjid Bangka, Warung-Buncit (bulan Februari nanti adalah kali 
yang ke-4) ... semoga ada hikmah yang bisa diambil dalam menyikapi 
mukernas Bali ini.

--- "Budi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


ANTARA BALI DAN GAZA
2008-01-30 13:55:32


kispa.org - Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita semua bahwa 
umat Islam itu laksana satu bangunan yang kokoh, di mana jika ada 
satu bagian yang disakiti, maka bagian yang lain juga turut 
merasakan. Satu merasakan lapar, maka yang lain harus bersikap empati 
untuk tidak berfoya-foya menghamburkan uang. Inilah yang saya ingat 
kuat-kuat dan saya berusaha untuk sekuat mungkin tidak ingin melukai 
perasaan saudara-saudara seiman saya.
Beberapa hari lalu, sejumlah teman mengajak saya berikut keluarga 
untuk pergi ke Bali. Kata teman saya, agenda utamanya adalah Mukernas 
sebuah partai politik. "Di Bali, partai kita akan menjadi partai 
politik terbuka, tidak lagi ekslusif. sebab itu Pulau Bali ditunjuk 
sebagai lokasi penyelenggaraan mukernas, " ujarnya.
Saya sudah lama mendengar rencana ini. Bahkan saya tahu siapa aktor 
utama di belakang pemilihan Bali sebagai lokasi Mukernas. Pulau Bali 
sengaja dipilih agar partai politik yang awalnya berangkat dari 
kalangan pengajian ini dianggap sebagai partai terbuka. Sah-sah saja 
alasan demikian. Namun saya secara pribadi agak bingung rasionalisasi 
dari rencana itu. Saya pernah tinggal selama setengah tahun di Bali, 
dan saya tahu persis bahwa Bali itu hidup cuma malam hari, siang sepi 
sunyi. Saya tidak sampai hati mengatakan bahwa di sana itu gudangnya 
maksiat, tapi itulah yang saya alami sendiri.
Mengetahui saya agak berat untuk ikut ke Bali, kawan saya mencoba 
membujuk. 
"Di Bali, kita tidak hanya mukernas, tapi juga rihlah, sebab itu kita 
juga mengajak keluarga kita semua. Bahkan beberapa biro perjalanan 
sudah menyatakan mau bekerjasama., " ujarnya lagi.
Astaghfirullah. saya mengurut dada. Belum kering lidah ini berteriak-
teriak selamatkan Muslim Gaza dalam demo kemarin di Jakarta, sekarang 
demikian mudahnya memikirkan rihlah, ke Bali pula. Ketika saat 
berteriak-teriak selamatkan Muslim Gaza kita hanya menyumbangkan One 
Man One Dollar. Tapi ke Bali.? Tentu berlipat-lipat dollar yang harus 
dikeluarkan dari kantong kita. 
Dan sungguh, uang yang kita keluarkan tentu banyak yang tidak 
mengalir ke kantong saudara-saudara seiman kita di sana. Bahkan bukan 
mustahil, uang yang keluar dari dompet kita akan mengalir ke Israel, 
karena banyak resor dan penginapan di Bali melakukan promosi besar-
besaran dengan berbagai perusahaan dan media massa Zionis-Israel.
Saya masih terdiam. Saya tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang 
berkecamuk di dalam dada saya. Sebagai seorang kader inti yang sudah 
mengaji sejak tahun 1980-an, seharusnya dia tahu apa yang membuat 
saya sangat berat untuk ikut ke Bali. .Saudara-saudara kita di Gaza, 
Falujah, kelaparan, hidup bagaikan di dalam neraka, kita di sini 
malah sibuk memikirkan rihlah ke Bali. Ya Allah. ampunilah hamba-Mu 
yang dhaif ini karena akal hamba tidak mampu menemukan urgensi antara 
Bali dengan Gaza.
Saya akhirnya menggeleng. Saya tidak sampai hati bersenang-senang, 
bermalam di kamar ber-AC, menikmati breakfast, lunch, dan dinner di 
hotel yang berkecukupan, pergi ke pantai di antara jejeran tubuh 
bugil para turis bule, sedangkan saudara-saudara saya di Gaza, 
Falujah, dan di belahan bumi lainnya masih hidup bagaikan di neraka 
jahanam. Saya tidak tega.
Kawan saya akhirnya menyerah. Dia tetap pergi bersama keluarganya ke 
Bali. 
Saya pulang malam itu dengan langkah gontai. Menyusuri gelapnya 
jalanan kompleks.
Ya Allah. Kian hari, saya kian merasa sendiri. Kian hari saya kian 
merasa terasing dari kawan-kawan sendiri. kian hari kian merasa 
sunyi.. kian terasa senyap dan perih.. Saya mencoba menghibur 
diri, "Toh, jika kita mati, kita pun akan sendirian."
(Elegi akhir Januari 2008) (fn)

Sumber:
1. 
http://www.kispa.org/index.php/view/berita/datetimes/2008-01-30+13%
3A55%3A32
2. http://eramuslim.com/atk/oim/8130131301-antara-bali-dan-gaza.htm 
(tapi kemudian dihapus, entah kenapa, bisa dicek di google)



Kirim email ke