Sumber : www.taushiyah-online.com
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang orang mukmin yang mengikutimu (QS
Asysuara (26): 215)
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi orang yang tawadhu? orang yang
tawadhu itu adalah orang yang memiliki akhlak mulia yang menggambarkan
keagungan jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah
SAW bersabda:
Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridho Allah maka Allah akan
meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam
pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri
maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam
pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan
babi (HR. Al-Baihaqi)
Mawlana Sulthanul Awliya Syaikh Abdullah Faiz ad-Daghestani berkata,
Mengapakah Nabi Muhammad SAW., menjadi seseorang yang paling terpuji dan
terhormat di Hadirat Ilahi? Karena beliau-lah yang paling rendah hati di antara
seluruh ciptaan (makhluq) Allah. Beliau selalu duduk seakan bagai seorang
hamba di hadapan tuan pemiliknya, dan selalu pula makan sebagai seorang hamba
atau pekerja yang makan di hadapan tuan pemiliknya. Beliau tak pernah duduk di
atas meja.
Karena itulah, tak seorang pun mencapai kedudukan seperti beliau di Hadirat
Ilahiah, tak seorang pun dihormati dan dipuji di Hadirat Ilahiah sebanyak
Penutup para Nabi, Muhammad SAW. Karena itulah, Allah SWT memberikan salam bagi
beliau, dengan mengatakan: As-Salaamu Alayka Ayyuha an-Nabiyyu, Keselamatan
bagimu, wahai Nabi!. Allah SWT tidak mengatakan, Keselamatan bagimu, wahai
Muhammad. Tidak!! Melainkan, Keselamatan bagimu, Wahai Nabi! Dan kita kini
mengulangi salam dari Allah SWT. bagi Nabi SAW., tersebut minimal sembilan kali
dalam shalat-shalat harian kita, saat kita melakukan tasyahhud.
Salam Ilahiah ini tidaklah dikaruniakan bagi siapa pun yang lain. Ini adalah
puncak tertinggi suatu pujian dari Tuhan segenap alam bagi Nabi-Nya. Beliau
telah mencapai suatu puncak tertinggi di mana tak seorang pun dapat
mencapainya, semata karena kerendahhatiannya. Karena itu pula, beliau mewakili
Keagungan Allah dalam seluruh ciptaan-Nya. Ego Sang Nabi telah habis dan
berserah diri kepada Allah SWT., tak seperti kita, yang selalu terkalahkan oleh
egonya sendiri. Seperti misalnya ketika penulisan nama seseorang, kita lupa
tidak mencantumkan Bapak atau Ibu atau pangkat atau jabatan orang tersebut.
Maka, bisa jadi orang tersebut akan marah karena merasa tidak di hormati atau
tidak dihargai. Dan ini saya rasakan ketika saya mencetak kartu undangan
pernikahan. Saya serahkan data-datanya ke percetakan, setelah selesai dicetak
ada satu nama yang tidak memakai bapak. Dan apa yang terjadi, yang punya nama
itu marah dan tidak hadir dalam acara pernikahan tersebut karena merasa
tidak dihormati atau dihargai.
Mengapa ego kita selalu saja mendominasi gerak langkah kita? Bisa jadi, karena
kita membiarkan setan mengajari diri kita dengan tipu muslihatnya. Kita diajari
oleh setan, bagaimana menjadi orang yang terhormat atau menjadi orang yang
pertama. Dan kita juga diajari oleh setan bagaimana memiliki ego seperti egonya
Firaun, Namrudz, Qarun dan lain sebagainya. Karena itulah, setiap orang kini
ingin mewakili egonya mereka, bukan untuk mewakili sang penutup para Nabi yaitu
Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita menjadi wakil sang penutup para
Nabi, bukan sebagai wakil-wakilnya setan yang menyesatkan, yang kesananya akan
menjerumuskan kita kedalam azabnya Allah SWT dalam neraka-Nya. Maka, untuk
menjadi orang yang mewakili sang penutup para Nabi, kita harus memiliki akhlak
seperti beliau, yang salah satunya adalah tawadhu (rendah hati). Karena sifat
ini telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada beliau supaya orang-orang tidak
bersikap sombong kepada yang lain, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah
SAW:
Dari Iyadl bin Himar ra. Berkata Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah telah
memberi wahyu kepadaku yaitu kamu sekalian hendaklah bersikap tawadhu
(merendahkan diri) sehingga tidak ada seseorang bersikap sombong kepada yang
lain, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lain. ( HR. Muslim ).
Dan, Abdullah bin Jarullah dalam kitabnya Fadhlu At-Tawadhu wa Dzamu Al-Kibr
memberi gambaran kepada kita tentang tanda-tanda orang yang tawadhu, dia
mengatakan bahwa ada enam tanda-tanda tawadhu yang harus kita miliki:
PERTAMA, engkau menonjolkan diri terhadap sesamamu, maka engkau sombong. Dan
apabila engkau menyatu dalam kebersamaan dengan mereka maka engkau tawadhu.
KEDUA, apabila engkau berdiri dari tempat dudukmu dan mempersilahkan orang
berilmu dan berakhlaq duduk di tempatmu, maka engkau tawadhu.
KETIGA, apabila engkau menyambut orang biasa dengan ramah dan wajah yang
menyenangkan, dengan kata-kata yang akrab, memenuhi undangannya, maka engkau
tawadhu.
KEEMPAT, apabila engkau mengunjungi orang yang lebih rendah setatus sosialnya
atau yang sederajat denganmu, atau membawakan barang-barang bawaan yang ada
ditangannya, maka engkau tawadhu.
KELIMA, apabila engkau mau duduk bersama fakir miskin, menjenguk yang sakit,
orang-orang yang cacat, memenuhi undangan mereka, makan bersama mereka, maka
engkau orang yang tawadhu.
KEENAM, apabila engkau makan dan minum secara tidak berlebihan dan tidak untuk
demi gengsi, sekali lagi engkau tawadhu.
Sahabat-sahabat sekalian, semoga tanda-tanda tawadhu yang seperti disebutkan
di atas dapat kita miliki, sehingga kita termasuk orang-orang yang mewakili
sang penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Amiin.[]
Sumber : www.taushiyah-online.com
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]