Tauhid  19 Peb 08 07:51 WIB
  Oleh Rizki Ridyasmara
  Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang kawan yang sudah hampir dua 
tahun tidak pernah bersua. Dia seorang bapak dua anak. Penampilannya sekarang 
lebih rapi, dengan jenggot pendek di dagunya dan jidatnya yang kini menghitam, 
walau samar.
  Dia bercerita jika sekarang telah menjadi manusia bebas. Saya heran, “Lho, 
bukannya sedari dulu Antum sudah bebas?” Dengan tersenyum dia menggeleng. 
“Dahulu, saya masih menuhankan yang lain selain Allah SWT. Dahulu saya masih 
tergantung kepada banyak hal selain Allah SWT. Padahal dalam Islam bergantung 
hanya kepada Allah SWT itu sudah cukup, tidak lagi memerlukan apa-apa selain 
Dia…”
  Saya kembali bertanya dan paparannya membuka mata hati saya akan hal-hal yang 
sesungguhnya sangat sederhana. Sahabat saya yang sudah mengkaji Islam secara 
intensif dengan kawan-kawan pengajiannya sejak awal 1980-an ini bercerita 
banyak hal.
  “Akhi, ” katanya. “     Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya keinginan 
yang kuat untuk mempelajari agama ini. Kita tentu sudah sama-sama paham tentang 
dasar-dasar keimanan seorang Muslim, bahkan cabang-cabang keimanan dan juga 
pengetahuan tentang hal-hal lain terkait keIslaman, kita juga sudah mengerti.” 
Saya mengangguk.
  “Dan orang-orang seperti kita tentunya sangat mendukung dakwah Islam.” Saya 
kembali mengangguk, dia melanjutkan, “Namun tentunya dakwah Islam yang benar, 
yang berdasar pemahaman Islam yang lurus, bukan label atau bungkus belaka. Kita 
tentu harus mendukung dakwah Islam yang benar, bahkan hukumnya fardhu ain. 
Namun ketika dakwah itu sudah tidak benar, sudah melenceng dari nilai-nilai 
Islam, dari pondasi Islam, maka tentu kita pun wajib meninggalkannya. Kita 
cinta dan benci karena Allah SWT, bukan karena hal-hal yang lain.”
  Saya terus mendengarkan. “Salah satu syarat mutlak dalam dakwah Islam adalah 
benar sedari awal, yaitu niat yang benar dan lurus, usaha yang benar, upaya 
yang benar, dan hasilnya pun akan benar pula. Semua bentuk dakwah Islam harus 
demikian, termasuk dalam tataran dakwah kenegaraan.”
  “Yang terakhir ini bisa saya umpamakan dengan toko saya, ” ujarnya. Saya tahu 
sahabat saya ini punya usaha toko di Jakarta. “Saya membangun toko dengan niat 
yang lurus dan juga bersumber dari uang yang bersih dan halal. Tidak ada 
sedikit pun dana membangun toko saya ini yang bersumber dari dana yang tidak 
jelas. Sedikit demi sedikit saya terus mengembangkan toko dan juga strategi 
marketing saya.     Tentunya dengan tetap menjaganya dari nilai-nilai 
keIslaman.”
  “Alhamdulillah, toko saya berkembang. Makin banyak pelanggan. Ketika toko 
saya sudah banyak pelanggan dan ramai, makin banyak salesman yang menawarkan 
barang-barangnya. Makin banyak pula orang yang ingin bermitra ikut 
menginvestasikan uangnya ke dalam usaha saya. Dalam bahasa lain ber-musyarokah. 
Sebagai manusia biasa saya tentu ingin sekali toko saya besar. Namun karena 
niat saya membuka toko demi dakwah Islam, maka saya tentunya harus selektif 
memilih barang dagangan dan mitra berbisnis saya. Saya tidak mau ada 
produk-produk haram seperti rokok dan bir di dalam toko saya. Saya juga tidak 
mau bermitra dengan orang-orang yang tidak jelas yang tentunya punya dana yang 
juga tidak jelas. Walau saya pribadi ingin usaha saya ini besar, berkembang 
pesat, dan omzetnya mencapai miliaran bahkan triliunan, namun dalam kacamata 
Islam itu semua bukan perimeter sebuah keberhasilan. Karena dalam Islam, yang 
penting adalah ikhtiar kita menjaga Islam itu sendiri, sedangkan hasil
 merupakan pemberian Allah SWT.”
  Saya merasa butuh penjelasan lebih lanjut darinya, “Mengapa dakwah dalam 
tataran negara diibaratkan dengan mengelola toko?”
  Sahabat saya tersenyum, “Ya sama saja. Dakwah dalam tataran yang lebih luas 
sama saja dengan mengelola dakwah dalam tataran yang mini ibaratnya toko. Kecil 
atau besar, tetap saja kita wajib memegang nilai-nilai dasar Islam.     Kita 
tidak boleh sedikit pun bertoleransi terhadap kebathilan, walau itu dengan 
dalih demi perluasan dakwah. Dakwah yang benar tidak akan berhasil jika 
dibiayai oleh sumber dana yang tidak jelas, syubhat, apalagi dana haram. Dakwah 
yang benar tidak akan pernah bisa berhasil jika kita bermitra dengan para 
penyembah thaghut, terlebih posisi kita dalam bermitra itu lemah sedangkan 
posisi para penyembah thaghut itu kuat. Dakwah kita tidak akan berhasil jika 
melalui cara-cara yang tidak Islami seperti menggelar dangdutan, organ tunggal, 
dan sebagainya.”
  Sahabat saya melanjutkan, “Dakwah Islam yang bersih dan suci tidak bisa 
sedikitpun dicampur dengan hal-hal yang kotor seperti itu. Adalah terlalu murah 
harganya jika dakwah Islam harus berkompromi dengan hal-hal seperti itu. 
Rasulullah tidak pernah mengajarkan demikian. Dalam Perang Badar, tatkala 
menghadapi musuh yang sangat besar, Rasulullah tidak pernah menawarkan gencatan 
senjata, apalagi bertoleransi sedikit pun dalam beragama. Padahal saat itu bisa 
saja Rasulullah menawarkan sesuatu agar tidak terjadi peperangan yang sangat 
tidak imbang tersebut yang dalam nalar manusia biasa pasti umat Islam akan 
kalah. Tapi itu tidak. Rasulullah malah pergi ke dalam tenda dan berdoa kepada 
Allah agar memenangkan kaum Muslimin. Dan akhirnya pertolongan Allah itu datang 
dan berhasil memenangkan kaum Muslimin dengan menurunkan ribuan pasukan 
malaikat-Nya.”
  Saya tersenyum lagi. “Jika demikian, di dalam tataran politik yang sangat 
kompleks dan kotor seperti sekarang ini, mungkinkah cara-cara seperti yang 
Antum paparkan tadi bisa menuai keberhasilan?”     
  Kini sahabat saya yang tersenyum, “Dalam Islam, manusia itu hanya 
diperintahkan untuk berikhtiar, untuk berusaha dengan baik dan sesuai dengan 
nilai-nilai Islam. Ini tidak bisa ditolerir. Sedangkan hasilnya kita serahkan 
kepada Allah SWT. Islam tidak menghendaki kita menjadi penguasa jika harus 
melalui cara-cara di luar Islam atau apalagi harus berkompromi dengan para 
penyembah thaghut.”
  Saya bertanya lagi, “Jika demikian, untuk pemilu mendatang, Antum memilih 
siapa?” Sahabat saya kembali tersenyum. “Jika ada yang benar-benar berjuang 
untuk Islam, jiika ada yang benar-benar ingin menghidupi Islam, bukan 
memanfaatkan Islam untuk bertahan hidup, maka saya akan pilih itu. Partai saya 
sekarang Partai Allah, Hizbullah…Jika ada saya pilih, namun jika tidak ada, 
saya sudah memiliki Islam. Bagi saya Islam sudah sangat cukup.” 
  Source  : http://eramuslim.com/atk/oim/8219074429-tauhid.htm
   


"Manusia  yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW).
   
  kampusku
   

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke