http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19
   
  Jumat, 29 Februari 2008

Nasib Bayi Kita 

Oleh : Zaim Uchrowi 


  Tahukah kita bahwa sekitar 10 juta bayi meninggal saban tahun? Tahukah bahwa 
di Asia Tenggara kita adalah penyumbang kematian terbesar itu? Bukan hanya 
karena jumlah penduduknya paling banyak. Juga karena laju kematian bayi 
termasuk tertinggi di antara negara-negara tetangga ini. Jika ingin tahu lebih 
lanjut, tanyakan pada Margareth Chan. Direktur jenderal badan kesehatan dunia 
WHO itu akan dapat memperjelas apa yang terjadi.
  Sebenarnya, persoalan ini sangat jelas. Yang paling banyak membunuh bayi 
adalah infeksi saluran pencernaan. Penyebabnya apalagi kalau bukan terkait 
dengan 'makanan' yang masuk ke dalam saluran itu. Hal yang mudah sekali 
diatasi. Ajaran agama, kearifan tradisi, hingga ilmu kesehatan mutakhir memberi 
petunjuk yang sama. Berikan pada bayi HANYA ASI. Air susu ibu. 
   
  Insya Allah, bayi bukan hanya selamat. Bayi juga akan tumbuh menjadi manusia 
yang sehat lahir dan batin. ASI melindungi bayi dari infeksi pencernaan dan 
juga saluran pernapasan, pembunuh nomor duanya. Di dalam agama, kewajiban 
memberi ASI pada bayi sejalan dengan kewajiban shalat. Sama-sama perintah Allah 
SWT, sama-sama disebut langsung dalam Alquran. Keluarga para sahabat Rasul 
tidak memberikan susu apa pun pada bayinya selain ASI.
   
  Sayangnya, ajaran agama telah sedemikian tereduksi. Yang dianggap sebagai 
nilai agama sering sebatas yang tercakup oleh ilmu fikih. ASI tentu tak disebut 
oleh kitab-kitab fikih. Padahal, fikih memang hanya membahas sebuah sisi agama. 
Yakni sisi hukum, dan bukan sisi lainnya. Maka, tak jarang kita yang merasa 
menjadi pemeluk teguh agama pun mengabaikan ASI. Apalagi bila kita tak 
menganggap penting agama. Dominasi pendekatan fikih di dalam agama, serupa 
dengan dominasi pendekatan medis di kesehatan. Dominasi beginilah yang menutupi 
keutamaan ASI.
   
  Keutamaan ASI juga ditekankan oleh kearifan tradisi. Sejak bermula kehidupan 
manusia, proses melahirkan dipandang sebagai proses alami. Meskipun sangat 
menyakitkan, melahirkan bukan 'penyakit'. Tak perlu tindakan medis apa pun, 
selain sekadar berjaga-jaga. Maka, ibu akan sabar menunggu berjam-jam setelah 
bayi lahir buat mendapatkan makanan terbaik bagi sang buah hati: Kolustrum 
berserta ASI. Bahkan, bila harus menunggu sampai lebih dari 24 jam. Para ibu 
tak akan pernah mencari-cari makanan lain bagi bayinya. Apalagi, dulu, tak ada 
tenaga medis yang disuap industri untuk mendesak para ibu yang masih lemah, 
fisik maupun psikis, agar memberi susu formula pada bayi.
   
  Namun, kearifan tradisi itu dipenggal begitu saja oleh dunia modern. ASI 
dianggap 'kuno' dan 'kampungan'. Keluarga berpenghasilan pas-pasan pun banyak 
yang memaksakan diri membeli susu formula buat bayinya. Fenomena yang memicu 
pemiskinan luar biasa buat mereka. Kita yang lebih berada juga tak merasa 
bersalah memberi susu formula pada bayi. Kita mengira memberi kebaikan. Padahal 
sebaliknya. Ilmu kesehatan mutakhir meyakinkan bahwa ASI satu-satunya makanan 
bayi yang sempurna. Maka, sang bayilah yang harus menanggung akibatnya. Secara 
fisik ia lebih rentan pada penyakit. Pertumbuhan kejiwaannya pun tidak 
sempurna. Seorang guru besar psikologi UGM menyebut bahwa setiap anak yang tak 
memperoleh ASI selama dua tahun saat bayi, perlu terapi. Terapi, itulah yang 
akan meluruskan ketimpangan pertumbuhan kejiwaan sang anak.
   
  Kini bayi bukan hanya dibikin rentan secara fisik dan psikis karena dijauhkan 
dari ASI. Bayi juga menjadi tak terlindungi dari infeksi bakteri yang 
mengontaminasi susu formula. Sebuah hasil penelitian yang dilansir IPB 
menyebutkan bahwa sekitar 22,73 persen susu formula yang beredar dari bulan 
April-Juni 2006 tercemar Enterobacter sakazakii. Kendati sudah lampau, temuan 
ini mengingatkan semua: betapa rawan nasib bayi kita. Betapa lemah perlindungan 
buat mereka. Bayi tentu belum mampu melindungi dirinya sendiri. 
  Mencari-cari yang mungkin salah dari penelitian itu bukanlah langkah tepat. 
Yang lebih perlu, dan terpenting, di urusan ini adalah bagaimana melindungi 
bayi. Bila perlu dengan meluruskan kembali cara pandang diri soal agama dan 
kesehatan. Agama bukan semata-mata fikih, dan kesehatan bukan semata medis. 
Dengan pelurusan itu akan terlihat betapa penting posisi ASI bagi bayi. Memberi 
ASI pada bayi adalah bagian mendasar dari agama dan kesehatan. Maka mari 
selamatkan nasib bayi kita dengan memberi bayi hanya ASI. Mari kembalikan bayi 
pada zat hidup satu-satunya makanan sempurnanya. Itu yang akan menjaga 
masa-masa emas pertumbuhan fisik, otak, serta jiwa bayi-bayi kita. Itu yang 
akan menumbuhkan mereka menjadi generasi emas.
   
  Ibu Negara, Ibu Ani Yudhoyono, sangat meyakini itu. Keyakinan yang mencuatkan 
tekadnya untuk terus mempromosikan ASI. Semestinya keyakinan dan tekad serupa 
dimiliki oleh semua pihak. Oleh otoritas kesehatan, juga oleh masyarakat luas. 
Jika itu terjadi, kita akan segera menuai hasilnya. Bangsa ini akan dapat 
segera memasuki era emasnya.


"Manusia  yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW).
   
  kampusku
   

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke