ass.wr.wb..

rencana pemindahan ibukota ke Palangkaraya adalah ide lawas dari jamannya BK 
dulu,
makanya kalau kita lihat sebetulnya system block yg ada di sana sudah demikian 
rapi,
karena memang dirancang utk kota yg tertata baik..

jangan kuatir soal agama Kristen di sana..
secara umum memang banyak orang DAYAK yg mengganti agama asalnya jadi kristen,
tapi tidak sedikit juga yang menjadi muslim..
apalagi banyak juga etnis Melayu Kalimantan di sana..

mengenai konflik dgn MADURA itu,
memang bukan konflik antar agama..
tapi kok ya ada sodara2 kita yg begitubersemangat mengangkat pertikaian itu 
sebagai konflik antar agama seperti di AMBON..
sebagai orang Kalimantan kita tahu siapa yg jadi biang kerok sesungguhnya di 
peristiwa Sampit itu, kok..

bujur kalo, pak NIZAMI..?
he.he..

saya juga orang Kalimantan,
tepatnya dari Kutai, Kalimantan Timur..
jadi sedikit banyak tau lah bagaimana sebetulnya orang DAYAK itu,
bahwa mereka tidak seperti yg digambarkan secara umum selama ini..

main2lah ke Bumi Khatulistiwa,
maka anda akan tau bagaimana sebetulnya keindahan kehidupan bermasyarakat ala 
suku DAYAK..
kalau kami yg Melayu pesisir ini sih hampir gak ada beda dgn etnis2 Melayu 
lainnya di Nusantara..

wassalam..

adji

---------------------------------

Posted by: "A Nizami" [EMAIL PROTECTED]   nizaminz 
Thu Feb 28, 2008 1:29 am (PST) 
Kebetulan saya orang Kalimantan Selatan (Banjar) dan beberapa saudara
tinggal di kota Palangka Raya.

Kalau dulu mungkin Kristen dan Hindu Kaharingan dominan di sana. Namun
sering dengan perjalanan waktu, urbanisasi, dan juga mutasi PNS, maka
ummat Islam mulai dominan di sana.

Komposisi penduduk Kalimantan Tengah (Data dari Depag):
http://www.depag.go.id/index.php?menu=page&pageid=17
1.302.444 (Islam), 306.841 (Kristen), 58.193 (Katolik), 199.805 (Hindu
Kaharingan)

Jumlah penduduk Kalteng sendiri kurang dari 2 juta. Jadi jika ibukota
baru dibuat di Kalimantan Tengah (Bukan Palangka Raya), insya Allah
ummat Islam akan jadi mayoritas. Karena bagaimana pun ummat Islam di
Kalimantan (terutama Kalsel (Muslim 2,8 juta) dan Kaltim-Muslim 2,4
juta) adalah mayoritas. Begitu ibukota pindah ke Kalteng, maka ummat
Islam dari berbagai daerah akan pindah ke situ.

Ada pun konflik Madura-Dayak itu bukan konflik Islam-Kristen. Karena
suku Banjar dan Bugis yang Muslim tetap aman di sana (termasuk saudara
saya). Tapi merupakan konflik antar suku: Madura dan Dayak. 

Ini tak lepas dari budaya Madura yang keras dan juga ada sebagian
warga Madura yang menganggap Bumi ini milik Allah. Jadi begitu ada
tanah kosong (meski ada yang punya) ada yang memakainya baik untuk
rumah atau sekedar menaruh grobak atau besi tua.

Antar suku Madura sering terjadi carok (duel dengan clurit sampai
mati). Di Sambas Madura konflik dengan suku Melayu, sedang di Jakarta
sempat bentrok dengan suku Betawi (ini sama-sama Muslim).

Dalam 10 tahun ke depan, bisa jadi Jabodetabek jumlah penduduknya
30-40 juta (saat ini 23 juta). Artinya jumlah pohon berkurang, begitu
pula daerah resapan air, asap kendaraan/polusi bertambah. Ini akan
mengganggu kesehatan warga Jakarta sendiri.

Jadi hendaknya kita perlu berpikir jernih. Bagaimana pun juga Nabi
sudah mencontohkan dengan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat ini
menurut saya Jakarta yang sudah overpopulasi perlu hijrah agar tidak
semakin memburuk.

http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2005/07/25/brk,20050725-64350,id.html
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengungkapkan, kualitas udara kota
Jakarta saat ini berada pada urutan ke tiga terburuk di dunia, setelah
Meksiko dan Panama.

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0406/10/metro/1074321.htm
Kasus kematian dan sakit akibat polusi udara di Jakarta cukup tinggi
dibandingkan dengan kota lain di Asia, yaitu Kuala Lumpur, Seoul,
Bangkok, Manila, dan Shanghai.

--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke