assalaamu alaikum,
ada sedikit oleh-oleh dari negeri Karel yang Agung (Charlemagne/Carolus
Magnus), negeri bir dan sosis/burger. maaf jika sudah pernah menerima ini.
sekadar sharing sample/percontoh pendapat tentang ISLAM menurut muslim
'kuliahan' yang akrab dengan cara-pandang luar tradisi Islam, dari kacamata
luar islam.
semoga bermanfaat.
salam,
satriyo
"Islam-Eksakta" dan
"Islam-Interpretatif"<http://indonesianmuslim.com/%e2%80%9cislam-esakta%e2%80%9d-dan-%e2%80%9cislam-interpretatif%e2%80%9d.html>
Posted
in March 28th, 2008
by admin <http://indonesianmuslim.com/author/admin/> in
Culture<http://indonesianmuslim.com/category/culture>

Ahmad-Norma Permata

[image: norma.jpg]Ada fenomena menarik—meski mungkin tidak unik—yang ikut
mewarnai dan menyemarakkan perkembangan umat Islam di Indonesia selama ini,
yaitu munculnya generasi baru aktivis Muslim berlatar belakang ilmu-ilmu
eksakta, yang telah memberikan nuansa yang baru dinamika perkembangan Islam
negeri ini.

Salah satu ciri utama pemahaman dan pemikiran keagamaan mereka adalah
kecenderungan mengikuti logika ilmu eksakta (IPA: Ilmu Pengetahuan Alam),
yang menekankan kepastian dan menghindari interpretasi. Sedangkan secara
gerakan ditandai dengan organisasi yang solid dan sistematis serta
penguasaan yang sangat baik terhadap teknologi dan media komunikasi
mutakhir.

Kelompok di atas sering dilawankan aktivis Muslim tradisi lama yang berlatar
belakang ilmu-ilmu non-eksakta (IPS: Ilmu Pengetahuan Sosial), yang dalam
pemahaman dan pemikiran keagamaan cenderung mengikuti pola interpretatif,
dan secara gerakan lebih banyak memanfaatkan perangkat kultural.

Telaah yang lebih sistematis menunjukkan bahwa perbedaan kedua model gerakan
Islam ini mencerminkan perbedaan kerangka epistemologis dimana
aktivis-aktivis Muslim tersebut menjalani sosialisasi keislaman mereka. Dan
yang lebih penting, perbedaan tersebut merupakan perbedaan pola—dan bukan
perbedaan tingkat—keberagamaan, sehingga kedua gerakan ini seyogyanya
ditempatkan sebagai saling melengkapi dan bukan saling menghalangi.

Nalar Erklaeren dan Nalar Verstehen

Perbedaan corak pemikiran aktivis "Muslim IPA" dan "Muslim IPS" di atas
sejalan dengan penjelasan filsuf Jerman Wilhelm Dilthey (1833-1911) mengenai
perbedaan antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial-budaya
(Geisteswissenschaften).

Naturwissenschaften atau IPA, menurut Dilthey, bertujuan memberikan
penjelasan (erklaeren) fenomena yang dikaji. Sebagaimana diketahui, fenomena
alam berlaku pasti dan ajeg di manapun dan kapanpun. Misal, air akan
mendidih bila dipanaskan hingga seratus derajat celcius.

Ini berlaku valid di maupun, baik di Babat Jawa Timur maupun di Rabat
Maroko, baik yang melakukan pejabat maupun penjahat. Karena itu ilmuwan
eksakta lebih memfokuskan perhatian kepada perilaku benda-benda secara
empirik, tanpa perlu lebih jauh mempertanyakan makna dan motivasi di balik
perilaku benda-benda yang dikaji.

Nalar erklaeren ini barangkali tepat untuk menjelaskan pola pemahaman
keagamaan aktivis Islam-IPA. Dalam aspek pemikiran mereka cenderung memahami
ajaran agama secara eksak. Misalnya, dalam memahami teks-teks agama mereka
akan menekankan 'presisi' atau ketepatan dari pernyataan yang ada dalam
teks.

Demikian pula dalam aktivitas kehidupan, mereka senantiasa berusaha menjaga
konsistensi perilaku empirik mereka dengan keyakinan keagamaan dan identitas
kemusliman. Dalam berbusana, berpenampilan serta berperilaku, kalangan ini
selalu konsistensi dengan identitas mereka sebagai Muslim. Bahkan dalam
bertutur kata dan saling menyapa pun mereka sering menggunakan ungkapan
maupun istilah yang islami.

Di sisi lain aktifis Muslim yang berlatar belakang ilmu non-eksakta, kembali
kepada penjelasan Dilthey, lebih banyak mengikuti nalar
Geisteswissenschaften yang dalam operasinya bertujuan memahami (verstehen)
fenomena yang dikaji, yaitu realitas kemanusiaan. Berbeda dengan perilaku
benda-benda alamiah yang pasti dan ajeg, perilaku manusia bersifat
'intensional' atau memiliki aspek internal berupa 'niat.'

Perilaku manusia, dalam banyak hal, tidak bisa tanpa mengetahui niat dari
perilaku tersebut. Karena itu pula bab tentang ‚niat' selalu diletakkan di
bagian awal dalam pelajaran fiqih. Contoh yang sederhana, ada dua orang yang
sama-sama mencuri tapi yang satu mencuri karena kelaparan sedang yang lain
mencuri untuk modal judi. Kedua perbuatan yang serupa tersebut akan memiliki
nilai yang berbeda baik secara moral, hukum maupun politik.

Berbekal nalar di atas, pemahaman keagamaan aktivis Islam-IPS ini cenderung
berorientasi kepada konsistensi substantif ketimbang konsistensi empiris.
Dalam pembacaan terhadap nash-nash agama kelompok ini banyak melakukan
interpretasi atau tafsiran untuk mencari maksud yang tersirat di balik yang
tersurat.

Dalam perilaku keagamaan kalangan ini juga lebih menekankan kepada ketulusan
niat serta ketepatan memahami substansi sebuah ajaran agama sesuai konteks
sosial budaya yang ada. Misalnya, tentang kepatutan berbusana, kesantunan
berperilaku maupun keindahan bertutur kata, menurut Islam-IPS, ukurannya
adalah niat personal serta kesesuaian dengan tata-nilai yang ada di
masyarakat di mana seseorang berada.

Pola bukan Tingkat

Lalu mana yang lebih benar atau lebih baik di antara kedua jenis Islam di
atas? Ini pertanyaan yang menjebak, meski barangkali sering kita dengar—atau
malah kita ajukan. Tampaknya sudah menjadi naluri logika manusia apabila ada
dua pernyataan yang berbeda atau bertentangan kita cenderung berasumsi yang
satu pasti lebih benar atau lebih baik ketimbang yang lain.  Padahal bila
dikaji lebih jauh, keduanya bisa juga sama-sama salah atau sama-sama benar.

Dan poin yang terakhir ini—keduanya sama-sama benar—yang barangkali lebih
tepat untuk menilai kedua corak keislaman di atas.  Argumen ini, secara
tradional, biasanya didasarkan kepada berbagai sabda Nabi ketika beliau
membenarkan tindakan atau keputusan yang berbeda atau yang terlihat
berlawanan. Contoh yang mungkin paling luas dikenal, adalah bagaimana Nabi
sama-sama memuji Ibnu Umar yang selalu memilih cara beribadah yang paling
ketat dan berat, maupun Ibnu Abbas yang selalu memilih yang paling longgar
dan ringan.

Dalam rumusan yang lebih akademik, argumen serupa bisa kita jumpai dalam
pemikiran tokoh sosiolog agama Amerika Robert N. Bellah dalam teorinya
tentang evolusi agama. Menurutnya, perlu dibedakan antara 'struktur' dan
'kualitas' keberagamaan. Yang pertama merujuk kepada pola-pola sistem-simbol
keagamaan, sedangkan yang kedua mengacu kepada tingkat penghayatan terhadap
sistem-simbol tersebut. Perbedaan struktur tidak selalu mencerminkan
perbedaan kualitas, dan juga sebaliknya.

Islam-IPA dan Islam-IPS di atas, menurut teori Bellah, lebih menggabarkan
perbedaan sistem simbol yang diadopsi oleh para aktivis-Muslim. Perbedaan
tersebut, pada gilirannya, merupakan hasil dari perbedaan latar-belakang
pendidikan dan cara berfikir yang diadopsi oleh kedua kelompok di atas.
Keduanya sama sekali tidak menunjukkan perbedaan tingkat atau kualitas
keberagamaan. Karena tingkat keberagamaan ukurannya adalah totalitas dan
konsistensi dari pemahaman serta penghayatan masing-masing orang terhadap
sistem simbol yang dia miliki.

Sehingga, sampai di sini, kedua corak keagamaan di atas seyogyanya tidak
kita tempatkan sebagai dua pola keberagamaan yang saling berlawanan
melainkan saling melengkapi, untuk memberikan penjelasan tentang Islam
kepada orang-orang yang tumbuh dalam tradisi keilmuan yang memang berbeda.

Penulis: Kandidat Ph.D pada Graduate School of Politics, Universitas
Muenster

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.idYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke